Konsensus Dispepsia Terbaru | ethicaldigest

Konsensus Dispepsia Terbaru

Ada perubahan definisi disipepsia. Kini mengacu pada kriteria Rome III. H.pylori  dimasukkan sebagai salah satu faktor penting dalam penanganan dispepsia.

 

Dispepsia merupakan keluhan yang banyak ditemukan dalam praktik spesialis gastroenterologi mau pun dokter umum. Prevalensinya di pelayanan kesehatan mencakup 30% dari pelayanan dokter umum, dan 50% di pelayanan dokter spesialis gastroenterologi.

Dari segi definisi, ada perkembangan berarti, mulai dari semua gejala yang berasal dari saluran cerna bagian atas, sampai dieksklusinya gejala refluks hingga ke definisi terkini yang mengacu pada kriteria Roma III. Juga patofisiologinya, yang memasukkan infeksi H. pylori sebagai salah satu faktor penting dalam penanganan dispepsia.

Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) memandang perlu dilakukan pembaruan panduan, disesuaikan dengan perkembangan dan diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penatalaksanaan pasien dengan dyspepsia, sehingga didapatkan penatalaksanaan yang optimal

 

Definisi

Dalam konsensus yang baru, dispepsia didefiniskan sebagai: rasa tidak nyaman yang berasal dari daerah abdomen bagian atas. Rasa tidak nyaman bisa berupa salah satu atau beberapa gejala nyeri epigastrium, rasa terbakar di epigastrium, rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, rasa kembung pada saluran cerna atas, mual, muntah, dan sendawa. Untuk dispepsia fungsional, keluhan harus berlangsung setidaknya selama tiga bulan terakhir, dengan awitan gejala enam bulan sebelum diagnosis ditegakkan

 

Patofisiologi

Patofisiologi ulkus peptikum yang disebabkan Hp dan obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (OAINS), telah banyak diketahui. Dispepsia fungsional disebabkan beberapa faktor utama, antara lain gangguan motilitas gastroduodenal, infeksi Hp, asam lambung, hipersensitivitas viseral, dan faktor psikologis. Faktor lain yang dapat berperan adalah genetik, gaya hidup, lingkungan, diet dan riwayat infeksi gastrointestinal sebelumnya.

 

Diagnosis

Diagnosis Dispepsia

Dispepsia terdiri dari dispepsia organik dan fungsional. Dispepsia organik terdiri dari ulkus gaster, ulkus duodenum, gastritis erosi, gastritis, duodenitis dan proses keganasan. Dispepsia fungsional mengacu pada kriteria Roma III. Kriteria Roma III belum divalidasi di Indonesia. Konsensus Asia-Pasifik (2012) memutuskan untuk mengikuti konsep dari kriteria diagnosis Roma III, dengan penambahan gejala berupa kembung pada abdomen bagian atas yang umum ditemui sebagai gejala dispepsia fungsional.

Dispepsia menurut kriteria Roma III, adalah suatu penyakit dengan satu atau lebih gejala yang berhubungan dengan gangguan di gastroduodenal:

  • Nyeri epigastrium.
  • Rasa terbakar di epigastrium.
  • Rasa penuh atau tidak nyaman setelah makan.
  • Rasa cepat kenyang.

 

Gejala yang dirasakan harus berlangsung setidaknya tiga bulan terakhir, dengan awitan gejala enam bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Kriteria Roma III membagi dispepsia fungsional menjadi 2 subgrup; epigastric pain syndrome dan postprandial distress syndrome. Tetapi, bukti terkini menunjukkan terdapat tumpang tindih diagnosis dalam dua pertiga pasien dispepsia.

 

Alur diagnosis dipepsia belum diinvestigasi

Alur diagnosis dipepsia belum diinvestigasi

Evaluasi  tanda bahaya harus  selalu menjadi bagian dari evaluasi pasien-pasien yang datang dengan keluhan dispepsia. Tanda bahaya pada dispepsia yaitu:

  • Penurunan berat badan (unintended).
  • Disfagia progresif.
  • Muntah rekuren atau persisten.
  • Perdarahan saluran cerna.
  • Anemia.
  • Demam.
  • Massa daerah abdomen bagian atas.
  • Riwayat keluarga kanker lambung.
  • Dispepsia awitan baru pada pasien di atas 45 tahun.

 

Pasien-pasien dengan keluhan seperti di atas, harus dilakukan investigasi lebih dulu dengan endoskopi.

 

Diagnosis infeksi H. pylori

Tes  diagnosis  infeksi  H. Pylori  dapat  dilakukan  secara  langsung melalui endoskopi  (rapid urease  test,  histologi,  kultur  dan  PCR),  dan  secara  tidak langsung  tanpa  endoskopi  (urea  breath  test,  stool  test,  urine  test,  dan serologi).  Urea  breath  test  saat  ini  sudah  menjadi  gold  standard  untuk pemeriksaan  H. Pylori. Salah  satu  urea  breath  test  yang  ada  antara  lain 13CO2 breath analyzer.

Syarat untuk melakukan pemeriksaan H. pylori, yaitu harus bebas antibiotik dan PPI (proton-pump inhibitor) selama 2 minggu. Ada beberapa  faktor  yang  perlu  dipertimbangkan:  situasi  klinis,  prevalensi  infeksi, prevalensi  infeksi dalam populasi, probabilitas  infeksi prates, perbedaan dalam performa tes, dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes, seperti penggunaan terapi antisekretorik dan antibiotik.

 

Tata laksana

Tata laksana dispepsia dimulai dengan mengidentifkasi patofsiologi dan  faktor  penyebab  sebanyak  mungkin. Terapi bisa diberikan berdasar sindroma klinis yang dominan (belum diinvestigasi) dan dilanjutkan sesuai hasil investigasi.

 

Dispepsia belum diinvestigasi

Strategi  tata  laksana  optimal  pada  fase  ini,  adalah  memberi terapi empirik selama 1-4 minggu sebelum hasil investigasi awal, yaitu pemeriksaan adanya H. Pylori.  Untuk daerah dan etnis  tertentu, serta pasien dengan  faktor risiko tinggi, pemeriksaan H. pylori harus dilakukan lebih awal.

Obat  yang  digunakan  berupa  antasida,  antisekresi  asam lambung  (PPI misalnya omeprazole,  rabeprazole dan  lansoprazole dan/atau H2-Receptor  Antagonist  [H2RA]),  prokinetik,  dan  sitoprotektor  (misalnya rebamipide). Pilihan ditentukan berdasarkan dominasi keluhan dan riwayat pengobatan  pasien  sebelumnya.  Saat ini, ada beberapa obat baru yang bekerja melalui down-regulation proton pump, yang diharapkan memiliki mekanisme kerja lebih baik dari PPI, yaitu DLBS 2411.

Terkait  prevalensi  infeksi H. Pylori yang  tinggi,  strategi  test  and  treat diterapkan pada pasien dengan keluhan dispepsia tanpa tanda bahaya.

Test and treat dilakukan pada:

  • Pasien dengan  dispepsia  tanpa  komplikasi  yang  tidak  respon terhadap  perubahan  gaya  hidup,  antasida,  pemberian  PPI  tunggal selama 2-4 minggu dan tanpa tanda bahaya.
  • Pasien dengan riwayat ulkus gaster atau ulkus duodenum yang belum pernah diperiksa.
  • Pasien  yang  akan  minum  OAINS,  terutama  dengan  riwayat  ulkus gastroduodenal.
  • Anemia  defsiensi  besi  yang  tidak  dapat  dijelaskan,  purpura trombositopenik idiopatik dan defsiensi vitamin B12.

 

Test and treat tidak dilakukan pada:

  • Penyakit refuks gastroesofageal (GERD).
  • Anak-anak dengan dispepsia fungsional.

 

Dispepsia yang telah diinvestigasi

Pasien dispepsia  dengan  tanda  bahaya,  tidak  diberi  terapi empirik. Mereka harus diinvestigasi lebih dulu dengan endoskopi, dengan atau tanpa pemeriksaan histopatologi sebelum ditangani sebagai dispepsia fungsional. Setelah  investigasi,  tidak  menyingkirkan  kemungkinan  bahwa  pada beberapa kasus dispepsia, ditemukan GERD sebagai kelainannya.

 

Dispepsia organik

Apabila ditemukan lesi mukosa (mucosal damage) sesuai hasil endoskopi, terapi  dilakukan  berdasarkan  kelainan  yang  ditemukan.  Kelainan  yang termasuk dalam kelompok dispepsia organik antara lain gastritis, gastritis hemoragik, duodenitis, ulkus gaster, ulkus duodenum, atau proses keganasan. Pada  ulkus peptikum  (ulkus gaster dan/ atau  ulkus duodenum),  obat  yang diberikan antara lain kombinasi PPI, misal rabeprazole 2x20 mg/ lanzoprazole 2x30 mg dengan mukoprotektor, misalnya rebamipide 3x100 mg.

 

Dispepsia fungsional

Bila setelah investigasi tidak ditemukan kerusakan mukosa, terapi dapat diberikan sesuai gangguan fungsional yang ada. Prokinetik,  seperti  metoklopramid,  domperidon,  cisaprid, itoprid dan lain sebagainya, dapat memberi perbaikan gejala pada beberapa pasien  dengan  dispepsia  fungsional. Keterlambatan pengosongan lambung merupakan salah satu patofsiologi dispepsia fungsional, maka penggunaan cisaprid harus hati-hati, karena potensi komplikasi kardiovaskular.

Data penggunaan obat-obatan antidepresan atau ansiolitik pada pasien dengan dispepsia  fungsional masih  terbatas. Dalam sebuah studi di Jepang terlihat adanya perbaikan  gejala  yang  signifkan,  pada  pasien dispepsia fungsional yang mendapat agonis 5-HT1 dibanding plasebo. Di sisi lain venlafaxin, penghambat ambilan serotonin dan norepinerfrin, tidak menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding plasebo.

Gangguan psikologis, gangguan tidur, dan sensitivitas reseptor serotonin sentral mungkin merupakan faktor  penting  dalam  respon  terhadap  terapi antidepresan, pada pasien dispepsia fungsional.

 

Tata laksana dispepsia dengan infeksi H. pylori

Eradikasi H. Pylori mampu memberi kesembuhan jangka panjang terhadap gejala  dispepsia.  Dalam  salah  satu  studi  cross-sectional  pada  21  pasien  di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2010), didapatkan bahwa terapi eradikasi  memberi  perbaikan  gejala  pada  mayoritas  pasien  dispepsia, dengan  persentase  perbaikan  gejala sebesar 76%. Dan 81% pasien memiliki hasil pemeriksaan UBT negatif. Penelitian prospektif oleh dr. Ari F. Syam Sp.PD-KGEH dan kawan-kawan tahun 2010 menunjukkan, terapi  eradikasi H. pylori  dengan  triple  therapy  (rabeprazole,  amoksisilin,  dan klaritromisin) selama 7 hari, lebih baik dari terapi selama 5 hari.

 

Alogaritme tatalaksana dispepsia fungsional

Alogaritme tatalaksana dispepsia fungsional

 

 

Alogaritme tatalaksana eradikasi H. pylori

Alogaritme tatalaksana eradikasi H. pylori

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.