Mendiagnosa OSA | ethicaldigest

Mendiagnosa OSA

Diagnosis OSA ditegakkan dengan melakukan anamnesis mengenai pola tidur, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi dan polisomnografi. Gabungan data yang akurat dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik, dapat mengarahkan pada indikasi untuk melakukan pemeriksaan baku emas OSA yaitu polisomnografi. 

Menurut dr. Rimawati, sampai saat ini polisomnografi (PSG) merupakan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan diagnosis OSA. PSG merupakan uji diagnostik untuk mengevaluasi gangguan tidur yang dilakukan malam hari, di sebuah laboratorium tidur. Ini digunakan untuk membantu pemilihan terapi dan evaluasi hasil terapi.

Pemeriksaan lainnya adalah dengan kuisioner ESS dan SSS dapat digunakan untuk menanyakan keluhan, yang berhubungan dengan gejala OSA. ESS digunakan untuk menilai, bagaimana kebiasaan tidur dan rasa mengantuk pasien dalam kegiatan sehari-hari. Sedangkan SSS, untuk mengetahui seberapa mengantuknya pasien pada kegiatan tersebut.

Multiple Sleep Latency Testing (MSLT) adalah pemeriksaan yang bersifat objektif, untuk mengevaluasi derajat beratnya rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari. Dokter yang memeriksa juga harus menanyakan kepada pasien, tentang pengalaman terbangun saat tidur karena tersedak, mendengkur (dapat ditanyakan pada teman tidur) dan bangun dari tidur dengan badan yang terasa tidak segar.

Beberapa hal yang tidak boleh dilupakan saat pemeriksaan fisik adalah IMT, lingkar leher, melihat keadaan rongga hidung, perasat Mueller (untuk menilai penyempitan veloorofaring), penilaian Fiedman tounge position, bentuk palatum mole, bentuk uvula, palatal flutter, palatal floppy, ukuran tonsil dan penyempitan peritonsil lateral.

Pemeriksaan oksimetri pada saat tidur malam hari sebagai skrining OSA, memiliki sensitifitas sebesar 31%. Kombinasi dari semua pemeriksaan di atas meningkatkan predictive abilities antara 60-70%.

Untuk memudahkan diagnosis, dalam hal ini menilai saluran nafas atas, Friedman membuat sebuah standard pemeriksaan daerah naso-velo-orofaring. Selanjutnya dibagi menjadi 4 derajat Friedman Tounge position. Dikatakan derajat I, jika seluruh uvula tervisualisasi. Derajat II, uvula tervisualisasi tetapi tonsil tidak terlihat. Derajat III, palatum mole tervisualisasi tetapi uvula tidak terlihat. Derajat IV, jika hanya palatum durum yang tervisualisasi. “Dalam pemeriksaan ini, pasien diharuskan membuka mulut tanpa mengeluarkan lidah, untuk dapat memprediksi ada tidaknya OSA pada pasien,” jelasnya.

Pemeriksaan perasat Mueller yang dilakukan saat terjaga, dapat mencerminkan keadaan mendengkur pasien OSA saat tidur. Juga dapat digunakan untuk memperdiksi keberhasilan operasi Uvulopalatopharyngealplasty (UPPP). Caranya adalah dengan memposisikan pasien duduk, kemudian dilakukan nasoendoskopi. Dalam kondisi ini, pasien diinstruksikan untuk melakukan inspirasi kuat sambil menutup hidung dan mulut. Pada pemeriksaan ini, dilakukan penilaian luas saluran nafas atas pada ruang retropalatal dan retroglosal. Penyempitan pada ruang ini dapat terjadi anteroposterior, laterolateral atau konsentrik.

Pemeriksaan sleep endoscopy, digunakan untuk memvisualisasikan obstruksi jalan nafas saat pasien tidur. Ada 5 daerah yang perlu diperhatikan, yaitu; palatum mole, dinding faring lateral, tonsil palatina, tonsil lingual/dasar lidah dan epiglotis. Derajat obstruksi dibagi menjadi 4 kategori, yaitu; simple palatal snoring, suara mendengkur yang berasal dari geratarn palatum mole, dinding sfingter velofaring dan orofaring bagian atas.

ARTIKEL TERKAIT TIGA FAKTOR DALAM PATOFENESIS OSA

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.