Risiko Stroke pada Penderita OSA | ethicaldigest

Risiko Stroke pada Penderita OSA

Masalah mendengkur dan OSA (obstructive sleep apnea) kini semakin menjadi perhatian. Dari berbagai hasil studi ditemukan bahwa OSA berhubungan erat dengan perkembangan berbagai gangguan kesehatan yang serius. Literatur menunjukkan, OSA yang tidak diobati dapat berkontribusi terhadap outcome patologis terutama stroke. Penelitian Basetti (1999) menunjukkan, penderita sleep apnea berisiko terhadap stroke 7x lipat dibandingkan non penderita.

OSA adalah sleep disorder breathing (SDB) yang paling utama menyebabkan gangguan. Peneliti di Karolinska Institute, Stockholm, Swedia, menyebutkan bahwa pasien dengan stroke dan OSA memiliki peningkatan risiko 75% terhadap kematian dini vs. mereka yang tanpa OSA. Juga dilaporkan, CSA (central sleep apnea) tidak berhubungan dengan peningkatan kematian dini. Penelitian ini dipresentasikan di Konferensi Internasional American Thoracic Society 2008 dan dipublikasi di Archives of Internal Medicine edisi 11 Februari 2008.

Hubungan kausal potensial antara OSA dan stroke, masih diteliti. Pasien yang sakit serius mungkin tidak dapat bernafas secara normal karena berbagai alasan. Tercatat, disfungsi bilateral pada diensefalon dan pons atau luka pada pusat pernafasan meduler, menyebabkan sleep apnea. Stroke pada area otak tertentu, dapat menyebabkan OSA. Sebaliknya studi menunjukan, dalam beberapa kasus OSA merupakan faktor risiko penting untuk stroke. Selain itu, rasa kantuk berlebihan dan keletihan akibat apnea saat tidur juga dapat memperlambat pemulihan pasca stroke.

Studi Sleep Heart Health menunjukkan hubungan yang paling kuat antara OSA dan stroke vs. penyakit kardiovaskuler lainnya. Kemungkinan dan risiko pasien dengan OSA terhadap stroke dan kematian, lebih tinggi daripada orang tanpa OSA. Korelasi ini tetap berlaku dengan kontrol faktor risiko berupa usia, jenis kelamin, ras, rokok, konsumsi alkohol, IMT (indeks massa tubuh), diabetes melitus, hiperlipidemia, atrial fibrilasi dan hipertensi.

Analisis time-to-event menunjukkan, pasien OSA memiliki peningkatan HR (hazard ratio) untuk stroke atau kematian sebesar 1,97 (95% confidence interval, 1,12-3,48; P= ,01). Risiko stroke atau kematian paling parah pada pasien dengan AHI (apnea-hypopnea index) paling berat. HR meningkat sampai 3,30 (95% confidence interval, 1,74-6,26) ketika AHI > 36.

Untuk menyelidiki dampak OSA pada pasien lansia, Munoz dkk melakukan studi population-based yang dirancang untuk menyelidiki risiko stroke pada lansia non-institusional (usia 70-100 tahun), yang diajukan untuk PSG (polysomnography) di baseline. Dalam follow-up 6 tahun, ditemukan bahwa OSA berat berhubungan dengan risiko stroke (HR 2,52 setelah pengaturan untuk faktor pengganggu). Hubungan antara OSA dan stroke relevan, terutama karena stroke merupakan penyebab utama kematian.

OSA dan Gangguan Pembuluh Darah

Bagaimana OSA mencetuskan stroke bisa dijelaskan oleh pengaruh kondisi ini terhadap pembuluh darah. Pasien OSA berat terlihat memiliki peningkatan kekakuan arteri, penebalan intima-media dan diameter karotid dibandingkan dengan kontrol yang sesuai. Gangguan vaskuler juga terkait secara langsung dengan keparahan OSA.

Akselerasi proses aterosklerosis, mungkin saja telibat pada pasien OSA lansia yang tidak diobati, meski belum ada studi yang secara prospektif mengevaluasi progresi aterosklerosis pada OSA. Sangat mungkin, apnea yang berulang dalam semalam selama bertahun-tahun dapat menghidupkan mekanisme penting yang terkait dengan OSA, termasuk inflamasi, disfungsi endotelial dan naiknya produksi spesies oksigen reaktif. Selain itu, OSA juga berhubungan dengan osilasi tekanan darah di malam hari, yang bisa memberikan dampak langsung pada gangguan aliran darah serebral, dan meningkatkan risiko stroke.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.