Ethicaldigest

Definisi dan Epidemologi MRSA 2

Antara tahun 1996-1999 dilaporkan setidaknya sebanyak 23 rumah sakit di kanada terdapat 6% dari seluruh isolate S. aureus yang resisten terhadap methicillin, dengan rerata 4,14 kasus MRSA per 100 pasien yang dirawat dari 35% pasien yang terinfeksi. Sebagian besar isolate diperoleh MRSA yang berasal dari ruang perawatan akut (72,6%), 7.2% diperoleh dari bangsal perawatan, 4.6% diperoleh dari komunitas masyarakat dan sisanya 15.6% tidak diketahui asalnya.

Di Amerika Serikat selama 13 tahun (1993-2005) infesksi MRSA telah sangat berkembang. Pada tahun 2005 terdapat setidaknya 368.600 kasus MRSA di rumah sakit seluruh AS. Karena ini menunjukan adanya peningkatan sebesar 30% dibanding pada tahun 2004. Di Inggris sampai dengan tahun 2004 didapatkan data prevalensi bahwa MRSA masih menjadi masalah yang predominan pada usia lanjut (82% usia > 60 tahun). Strain MRSA yang ada, sebanyak 92% telah mengalami resistensi terhadap fluroquinolone dan sebanyak 72% resisten terhadap makrolide. Namun dikatakan sebagian besar isolat masih sensitif terhadap  tetracyclin, fusidic acid, rifampicin dan gentamycin. Strain MRSA yang telah di uji 12% resisten terhadap mupirocin.

Identifikasi Staphylococcus aureus

Berbagai macam uji dapat digunakan untuk melakukan identifikasi S. aureus, termasuk produksi dari protein A, cell-bound clumping factor, koagulasi ekstraselular, hearth stable nuclease dan metode molecular. Perbandingan dayaguna dari masing-masing uji tersebut sulit untuk dinilai karena adanya perbedaan deri strain S. aureus dan spesies dari coagulase-negative staphylococci. Beberapa uji yang dapat digunakan diantaranya;

  • Uji koagulasi tabung (tube coagulase test)

Uji ini merpakan uji standar rutin untuyk mengidentifikasi S. aureus, yang berasal dari plasma kelinci. Penilainnya dilakukan setelah inkubasi selama 4 dan 24 jam. hasil negative setelah inkubasi selama 4 jam harus dinilai lagi setelah 24 jam, hal ini dikarenakan beberapa porsi klecil dari strain S. aureus membutuhkan lebih dari 4 jam untuk membentuk bekuan.

  • Uji koagulasi mikroskop (slide coagulase test)

Uji ini dapat dilakukan dengan sangat cepat. Sayangnya, hampir sebesar 15% menunjukan hasil negative dari S. aureus. Sehingga hasil negative ini harus dilakukan konfirmasi dengan menggunakan uji tabung. UJi ini juga dikatakan tidak cocok dipakai untuk isolate yang sulit diemulsikan.

  • Uji aglutinasi lateks (latex agglutination test)

versi awal dari uji ini hanya mampu mendeteksi adanya protein A atau factor pengumpul, sehingga menjadikan uji ini tidak bisa dilakukan pada beberapa MRSA yang memproduksi sedikit atau bahkan tidak memproduksi protein A dan factor pengumpulnya. Namun, versi terakhir dari uji ini disamping mampu mendeteksi adanya protein A atau factor pengumpul juga dapat mendeteksi berbagi surface antigen, sehingga meningkatkan sensitifitas uji ini. Karena melibatkan faktor pengumpul, maka uji ini akan memberikan hasil positif palsu dengan stafilokokus yang lain seperti; S. lugdunensis, dan S. schleiferi.

  • Uji DNase dan nuclease tahan panas (DNase and heat-stable nuclease test)

Piringan deoksiribonuklease (DNase) dapat digunakan untuk menyaring isolate, namun karena banyaknya DNase yang dihasilkan oleh CoNS maka hasil yaqng positif harus dikonfirmasikan dengan uji8 tambahan lainya. Uji nuclease tahan panas dapat digunakan untuk mengidentifikasi S. aureus, walaupun beberapa spesies dengan negative koagulasi dapat juga memberikan hasil postif. menggunakan metode metakromatik difusi agar (metachromatic agar diffusion method) untuk nuclease tahan panas telah digunakan secara khusus sebagai uji langsung pada kultur darah.

  • Uji biokimia

Salah satu uji biokimia komersial dan otomatis adalah uji staphychrom II yang berdasar pada uji kromagenik pada inhibitor protrombin dan protease. Sensitifitas dan spesifitas uji ini adalah 98.6% hingga 100%, namun ia memeiliki kelemahan karena harganya yang masih sangat mahal.

  • Uji molecular

Sebagain besar uji molecular untruk melakukan deteksi s. aureus berdasarkan pada polymerase chain reaction (PCR) Uji ini didesain untuk memperjelas target spesies secara spesifik, termasuk diantaranya adalah nuclease (nuc), koagulase (coa), protein A (Spa), fem A, fem B, Sa442, 16S rRNA dan gen surface-assosiated fibrinogen-binding protein.

Definisi dan Epidemologi MRSA 1