Ethicaldigest

Rekomendasi nutrisi dan intervensi untuk mencegah diabetes

Pada mereka yang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2, program yang menekankan perubahan gaya hidup. Seperti, penurunan berat badan secara moderate (7% berat badan) dan aktivitas fisik teratur atau rutin 150 menit perminggu, dengan strategi diet yang meliputi; penurunan kalori serta, asupan lemak dari makanan, dapat menurunkan risiko berkembangnya diabetes. Hal ini sangat dianjurkan.

Menurut dr. Imam, mereka yang berisko tinggi mengalami diabetes tipe 2, harus didorong untuk mengonsumsi serat (14 g serat/100 kkalori), dan makanan yang mengandung gandum utuh (setengah dari asupan gandum). Saat ini, belum ada bukti yang cukup dan konsisten bahwa diet rendah glikemik dapat menurunkan risiko diabetes. Oleh sebab itu, makanan dengan indeks glikemik rendah yang kaya akan serat dan nutrient penting lainnya perlu dianjurkan.

Studi observasi menunjukkan, konsumsi alcohol secara moderate dapat menurunkan risiko diabetes. Bukan berarti bahwa konsumsi alcohol dianjurkan, untuk mereka yang berisiko mengalami diabetes.

Untuk DM tipe 1, tidak ada rekomendasi nutrisi yang dapat mencegahnya. Meski sampai saat ini belum ada data yang cukup untuk memberikan rekomendasi spesisifk dalam mencegeha DM 2 pada dewasa muda, tak ada salahnya  mengaplikasikan pendekatan yang terbukti efektif pada orang dewasa. Tentunya, selama kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembanagan tetap terjaga.

Pentingnya pencegahann DM tipe 2 ditandai dengan meningkatnya prevalensi diabetes secara drastic, di seluruh dunia. Faktor genetic tampaknya merupakan faktor penting dalam terjadinya diabetes tipe 2. “Meski demikian, perubahan gen pada polupasi pergeserannya sangat lambat. Epidemic diabetes yang terjadi saat ini, cenderung lebih merefleksikan perubahan gaya hidup yang menyebabkan diabetes,” jelasnya. Perubahan gaya hidup ini memiliki cirri: peningkatan asupan energi dan penurunan aktivitas fisik, yang bersama-sama menyebabkan over weight dan obesitas. “Obesitas merupakan faktor risiko kuat untuk terjadinya diabetes,” tambahnya.

Beberapa studi menunjukkian, potensi penurunan berat badan bertahap secara moderate dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 secara bermakna, tanpa melihat apakah berat badan dicapai melalaui perubahan gaya hidup saja atau dengan terapi lain, seperti obat-obatan atau bariatric surgery. Olahraga dengan intensitas sedang mau pun berat, dapat memperbaiki sensitifitas insulin, menurunkan berat badan dan menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Percobaan klinis yang dilakkukan pada Finnish Diabetes Prevention Study, dan The Diabetes Prevention Program (DPP) di Amerika Serikat, memberikan hasil yang mendukung potensi penurunan berat badan sedang dalam menurunkan risiko DM tipe 2. Intervensi gaya hidup pada kedua percobaan ini, menekankan perubahan gaya hidup termasuk penurunan berat badan (7% berat badan) dan aktivitas fisik teratur (150 menit /minggu), dengan strategi diet untuk menurunkan asupan lemak dan kalori.

Pada studi DPP, subjek pada kelompok yang mendapat intervensi gaya hidup diketahui memiliki asupan lemak sekitar 34% pada base line, menjadi 28% setelah intervensi selama 1 tahun. Kebanyakan subjek pada kelompok intervensi gaya hidup berhasil melakukan aktivitas fisik sedang 150 menit per minggu. Selain mencegah diabetes, intervensi gaya hidup DPP mampu memperbaiki beberapa faktor risiko penyakit kardiovaskuler, seperti dislipidemia, hipertensi dan penanda inflamasi. Analisis dari studi DPP mengindikasikan bahwa intervensi gaya hidup bersifat cost effectiveness.