"Testsoteron Tidak Menyebabkan Kanker Prostat" | ethicaldigest

"Testsoteron Tidak Menyebabkan Kanker Prostat"

Proses penuaan tidak bisa dihindari. Yang bisa dihindari dan dicegah adalah efek dari penuaan. Bila wanita mengalami menopause, pria mengalami yang disebut andropause, yang sekarang disebut testosteron deficiency syndrome. Dengan memberi terapi testosteron, keluhan-keluhan bisa menghilang. Tapi, ada ketakutan munculnya kanker prostat. Benarkah tetsosteron menyebabkan kanker prostat? Berikut  paparan Prof. dr. FX Arif Adimoelja, Sp. And dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Sebenarya apa yang terjadi dalam proses penuaan?

Kita mengetahu beberapa teori, yang disetujui di seluruh dunia. Bahwa proses penuaan ada dua macam. Penuaan karena tanggal dan proses penuaan karena usia biologis. Keduanya tidak sama. Kalau penuaan karena tanggal, itu tertulis di KTP. Tidak bisa kita cegah.  Tapi kalau usia biologis, karena itu adalah suatu proses yang meliputi perkembangan kehidupan,  bisa kita atur.

Bagaimana pengaturannya?

Sebenarnya pengaturananya seperti ini. Jika orangnya periang tidak memiliki beban apa-apa, umur biogisnya biasanya akan lebih lama. Kalau terjadi proses penuaan, bukan penuaannya yang kita perangi. Ada yang mengartikan bahwa anti aging medicine sebenarnya yang kita lakukan adalah memerangi penuaan. Sebenarnya, kita mencegah terjadinya suatu proses penuaan yang terlalu dini. Di dunia kedokteran, kita menyebutnya precocious  aging. Itu bisa kita hindari.

Ini harus dimulai sedini mungkin. Kita dulu mengetahui, penuaan itu dihubungkan dengan usia, yaitu pada usia 50-55 tahun. Yaitu usia kapan harus pensiun. Sekarang, kita tidak menggunakan patokan itu lagi. Patokan yang kita gunakan adalah, ada tidaknya keluhan. Dulu, kita katakan penuaan itu karena penurunan hormon. Tapi kita tidak tahu hormone apa yang turun. Sehingga, harus selalu periksa di labiratorium. Tapi sekarang, kita sudah mengetahui bahwa testosteron  adalah hormon penting bagi pria yang kadarnya turun pada bersamaan, dengan bertambahnya usia. Sekarang, kita mengenal apa yang disebut testsosteron defisiensi syndrome.

Kalau ada keluhan, kita tangani keluhan tersebut berdasarkan penyebabnya. Itu karena keluhan tidak selalu sama, antara satu orang dengan orang lain. Keluhan capek bisa karena fisik dan mental atau psikologis. Jadi, dilihat penyebabnya. Jika keluhan-keluhan tersebut sesuai dengan apa yang  dengan ADAM kuisioner, kita atasi masalah hormonalnya.

Jadi, apakah terapi sulih testosterone benar-benar member manfat?

Terapi itu justru diperlukan. Tapi, dalam memberikan terapi kita juga harus mengetahui kontaindikasinya.

Apakah hanya tetsosteron saja?

Kalau kita berpegangan pada pengobatan hormone, kita harus selalu hati-hati. Kadang kita lupa bahwa di dalam tubuh kita, yang mengatur kebugaran tidak hanya testosterone, tetapi banyak. Misalnya, sekarang yang sedang berkembang adalah hormone pertumbuhan (GH). Dan, kadang bukan testosterone yang penting, tapi hormone pertumbuhannya. Tapi, kita harus tahu cara pemberiannya. Dan, kalau kita bicara proses penuaan, jangan mengatakan, ”Oh belum 50 tahun, jadi belum tentu ada.” Karena, saya memiliki pasien berusia 28 tahun. Teranyata, dia sudah berada dalam kondisi penuaan yang dipercepat. Nah ini yang harus dicegah. Ini bisa dicegah. Pencegahannya akan lebih mudah jika kita memulainya dari sejak muda. Jangan kalau sudah keriput baru dicegah.

Memang kita bisa mencegah dengan menakikan kadar tetsosteron, tetapi efeknya pada organ sudah sulit dibalikkan. Oleh karena itu, kita menekankan bahwa kita harus menangani kesehatan pria secara holistic. Tidak hanya secara mental, tetapi juga secara fisik. Dalam proses penuaan ini, kita menghambat apa yang bisa kita hambat dan hindari. Misalnya, yang kita bisa hambat adalah proses penurunan hormone. Ini yang mesti kita perhatikan. Selain itu, kita harus perhatikan proses-proses yang bisa menyebabkan penuaan. Dulu, kita selalu berpedoman untuk melakukan berjemur di bawah matahari untuk osteoporosis. Padahal, sinar matahari justru dapat memicu penuaan lebih cepat, terutama pada kulit. SUV mempercapat proses penuaan.

Ada hubungan antara pemberian tetsoteron dengan penyakit jantung?

Saya tidak melihat hal itu. Kalau itu terjadi, pasti ada gejala-gejala lain. Artinya, orang yang sudah terkena penyakit jantung, misalnya infark. Jika kepadanya diberikan testosteron, justru testosterone akan memperbaiki infark tersebut. Tapi kalau infarknya sudah teralalu parah, kita tidak bisa memperbaiki infark tersebut. Maka, dia akan meninggal karena infarknya, bukan karena testosteronnya. Bahkan, pada pembesaran prostat. Kalau kadar testoteron dalam kadar fisiologis, malah prostat tidak akan membesar. Karena dalam penelitian terbaru sekitar dua tahun lalu, diketahui bahwa tetsosteron justru menghindari terjadinya pembesaran prostat. Testosterone justru memicu apaptosis. Belum ada bukti, pemberian testosteron menyebabkan kanker prostat.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.