Terapi Antiangiogenic untuk Kanker Ovarium 1 | ethicaldigest

Terapi Antiangiogenic untuk Kanker Ovarium 1

Prevalensi kanker ovarium tidak setinggi kanker payudara atau serviks pada perempuan, tetapi mortalitas dan rekurensinya sangat tinggi.Umumnya pasien datang dengan stadium lanjut sehingga kemungkinan hidupnya rendah. Pada stasium 3, rerata pasien kambuh dalam waktu 3 tahun. Sisa tumor pasca operasi meningkatkan angka kematian dan kemungkinan kambuh.

Terapi target dengan antiangiogenik yang ditambahkan ke kemoterapi, memberi harapan baru. Terbukti lebih banyak pasien yang bertahan dan rekurensi bisa ditunda. Lebih jauh mengenai terapi antiangiogenik, Hanida Syafriani mewawancara Sven Mahner, MD, Ph.D dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman dan Prof. Dr. dr. Andrijono, Sp.OG(K) dari FK Universitas Indonesia / RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Bagaimana prevalensi dan mortalitas akibat kanker ovarium?

Dr. Sven (S): Di Jerman, kanker ini menduduki peringkat kelima kanker pada perempuan. Diperkirakan, ada 9.700 kasus baru kanker ovarium per tahun. Angka mortalitas kanker ovarium sangat tinggi, jauh lebih tinggi ketimbang kematian akibat kanker payudara. Kanker ovarium memiliki angka mortalitas tertinggi, dari semua keganasan pada ginekologi.

Dr. Andrijono (A): Di Indonesia, kanker paling banyak pada perempuan yakni payudara, yang kedua kanker serviks. Kanker ovarium menduduki peringkat 8, namun angka kematiannya paling tinggi: 69%. Lebih dari 50% penderita kanker ovarium meninggal dalam waktu kurang dari 5 tahun. Kanker payudara memiliki angka kematian 40%, kanker serviks 45% dan kanker endometrium 30%.

Yang dianggap sebagai penyebab yakni genetic; hati-hati bila ibu, tante atau nenek ada yang menderita kanker ovarium. Kedua, endomeriosis; 17% bisa menjadi kanker ovarium di usia 45 tahun. Juga bila pernah mengalami kanker payudara dan/atau kanker kolon, atau memiliki mutasi genetic yang diturunkan seperti Breast Cancer Gene 1 (BRCA 1) atau 2 (BRCA 2)

Mengenali gejala kanker ovarium tidak selalu mudah …

Dr. S: Tidak ada gejala spesifik untuk kanker ovarium. Ini salah satu alasan, angka mortalitasnya sangat tinggi. Gejalanya tidak spesifik, seperti rasa tidak nyaman pada perut, kembung, konstipasi. Bayangkan perempuan di usia produktif mengalami rasa tidak nyaman di perut dari waktu ke waktu; itu hal yang sangat umum. Kita semua pasti pernah mengalaminya. Namun bila hal terseut berlangsung terus menerus selama beberapa minggu, bisa jadi itu gejala dari kanker ovarium. Kebanyakan perempuan datang ke dokter saat merasa sakit. Saat itu, umumnya mereka sudah memiliki kanker dengan stadium lanjut, yang sudah tidak bisa lagi diobati.

Dr. A: Kanker ovarium itu silent killer. Bila kita pergi ke pusat perbelanjaan yang banyak kaum perempuan, belum tentu mereka memiliki ovarium yang normal. Kalau kita lakukan pemeriksaan dengan USG, mungkin sudah ada tanda-tanda tumor ovarium. Beberapa kali saya mendapati, seorang perempuan menemani saudara / temannya untuk periksa karena ada benjolan di indung telurnya. Dia ingin sekalian diperiksa. Ternyata, dia kena kanker ovarium, sementara saudaranya hanya tumor jinak. Kanker ovarium tidak terdeteksi secara klinis, jarang menimbulkan gejala. Kalau perut sampai membesar, berarti tumornya sudah besar. Kalau masih kecil, tidak ada gejala.

Faktor apa saja yang memengaruhi keberhasilan terapi?

S: Seiring berjalannya waktu, makin sedikit pasien yang bisa bertahan sejak didiagnosa menderita kanker ovarium. Pada stadium 4, dalam tiga tahun hanya 1/3 pasien yang masih hidup. Faktor prognosis antara lain stadium; pada stadium 1, banyak yang bisa hidup sampai 5 bahkan 10 tahun kemudian.Usia pasien juga berpengaruh; mereka yang berusia lebih muda umumnya bertahan lebih baik.

Faktor yang paling penting yakni hasil dari operasi. Penting untuk tidak menyisakan tumor (residual disease) saat operasi; angkat semua tumor yang ada. Untuk melakukan operasi kanker ovarium, dibuat insisi vertical, agar dapat mengakses semua bagian di rongga perut. Bila kanker sudah menyebar ke omentum (lapisan lemak di rongga perut), omentum juga harus diangkat. Bila kanker sudah menyebar ke organ lain, sel kanker di organ tersebut harus dibersihkan. Penelitian menunjukkan, pasien tanpa atau yang memiliki sedikit residual disease bisa hidup lebih lama, dibandingkan mereka yang memiliki residual disease setelah pembedahan.

Dalam penatalaksanaan kanker ovarium, penting menyeimbangkan antara pembedahan dan terapi sistemik. Sejak 1975, tidak banyak perkembangan dalam agen kemoterapi untuk kanker ovarium; hanya ada agen kemoterapi yang sangat basic. Baru setelah prosedur taxane keluar, survival pasien lumayan membaik. Perspektif baru dalam kanker ovarium yakni terapi antiangiogenik, yang menghambat pembentukan pembuluh darah kanker.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.