Pompa Insulin untuk Anak Diabetes | ethicaldigest

Pompa Insulin untuk Anak Diabetes

Diabetes pada anak, sering luput dari perhatian. Padahal, ini masalah serius dan bisa berakibat fatal. Anak bisa masuk ICU akibat ketoasidosis. Penanganan diabetes pada anak, merupakan life saving yang tidak bisa ditawar, karena waktu bagi anak masih sangat panjang untuk tumbuh dan berkembang menjadi dewasa.

Di banyak negara, khususnya di negara maju, penggunaan pompa insulin untuk anak sudah sangat umum. Apalagi pada anak, sebesar 90-95% adalah diabetes tipe 1, yang mutlak membutuhkan insulin seumur hidup. Pompa insulin sangat memudahkan pemberian insulin. Kebutuhan insulin turun, HbA1c terkontrol dan komplikasi jangka panjang menurun. Selain itu, pasien tetap bisa bebas beraktivitas seperti anak-anak lain pada umumnya, termasuk berenang.

Untuk mengenal pompa insulin lebih jauh, Hanida Syafriani dari ETHICAL DIGEST mewawancara dr. Aman Pulungan, Sp.A dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dr. Aman aktif di berbagai organisasi diabetes anak nasional dan internasional. Dia kini menjabat sebagai President Elec di Asia Pacific Paediatric Endocrine Society (APPES) dan Ketua Kelompok Kerja Endokrin Anak di Indonesia.

Bagaimana pengalaman memperkenalkan pompa insulin di Indonesia?

Masih banyak yang beranggapan bahwa memasang pompa insulin di Singapura itu lebih bagus. Jadi, terkadang masih ada keraguan terhadap tenaga dan kemampuan di dalam negeri. Seperti kemarin, saya mendapat pasien baru. Saya berikan pilihan untuk menggunakan pompa insulin. Perlu dirawat satu malam saja, untuk belajar dulu mengenai alatnya. Tapi awareness orangtua kurang; menganggap suatu saat nanti anaknya pasti sembuh, tidak bisa menerima bahwa diabetes itu seumur hidup. Besoknya dia pulang, berangkat ke Singapura. Mindset-nya masih seperti itu. Ini tantangan.

Tapi, menurut saya, ini bukan saatnya memaksa. Saya biarkan mereka ke sana, nyatanya sebagian besar akhirnya kembali ke saya. Saya bilang, ”Kalau nanti kejadian tiba-tiba gawat di tengah malam, apakah mau menelepon ke dokter Singapura, atau menelepon saya?”. Tapi, akhirnya saya pikir, mungkin saja mereka orangtua muda, yang stres melihat keadaan anaknya. Apa pun mereka keluarkan demi anaknya. Bisa jadi juga, mungkin kita memberitahu mereka terlalu cepat. Kadang kalau ke Singapura, mereka mau tinggal selama 7-10 hari. Kalau dokter Singapura yang bilang, mereka mau menerima.

Pasien dengan kriteria bagaimana yang disarankan untuk menggunakan pompa insulin?

Sebetulnya, siapa saja layak. Ada pasien yang langsung didiagnosis, diberikan pilihan, dia belajar pompa dan langsung bisa. Ada beberapa orang Indonesia dengan diagnosis baru, dirawat seminggu di sana Singapura atau Malaysia, pulang pakai pump. Di sini karena selalu ada pilihan ”tidak”, kita coba dengan cara biasa. Setelah gagal, HbA1c tidak turun-turun, baru kita sarankan menggunakan pompa.

Pasien yang memakai pompa, apakah fluktuasi hipo- dan hiper-nya luas?

Ya, persis. Jadi dia bisa tiba-tiba hipoglikemi, dan bisa tiba-tiba hiperglikemi.

Pasien pertama dokter yang menggunakan pompa insulin?

Pasien sebelumnya gagal dengan cara lain; HbA1c-nya sekitar belasan. Setelah  bersedia pakai pompa, HbA1c turun. Saat itu, dia pakai insulin 40-50 unit/hari. Saat pakai pompa, dosisnya langsung turun jadi 60-75% dari sebelumnya; basal dan bolus total langsung kita turunkan, HbA1c langsung terkontrol. Dengan pompa insulin, komplikasi jangka panjang berkurang. Pasien pun bisa tetap produktif; bisa berenang dan ikut kegiatan apa pun bahkan untuk ikut pemilihan Miss America, atau menjadi juara Olimpiade.

Belum lama ini, saya pasang pompa ke pasien yang HbA1c-nya 9-10; tidak bisa turun. Dia sudah advanced sekali, sudah basal-bolus dan sudah kontrol ke Singapura juga. Tetap saja tidak bisa, karena dia olahragawan. Lalu saya berikan opsi pompa insulin. Dia tidak sabar menunggu 3 bulan; baru 2 bulan pakai dia cek, insulinnya jadi 7 koma sekian.

Mengapa hasilnya bisa sebagus itu?

Karena kita bisa set berbagai macam basal dan bolus. Kalau misalnya pasien makan di pesta, mau kasih bolus berapa banyak? Kebutuhan bolus kan berbeda, tergantung apa yang dimakan, berapa lama dia makan, dan kapan menyuntiknya? Susah kan. Tipikal anak-anak kan begitu. Cukup mudah jika kita melakukannya dengan pompa, jadi bolusnya bisa diatur sedemikian rupa.

Kebutuhan basal pun berbeda-beda. Basal saat tengah malam, basal siang, basal saat subuh, semuanya berbeda. Dengan pompa insulin, kita bahkan bisa membagi 5-6 kali basal; bagus sekali. Saat misalnya mau main futsal, basket, basal bisa diatur. Kalau saat itu dicek dan dan (gula) kurang, bisa makan snack. Jadi betul-betul didisain khusus untuk seseorang; individual, jika memang mau belajar. Dan, itu sangat mudah dipelajari.

Bagaimana mengedukasi pasien mengenai kegunaan, perawatan dan kedisiplinan saat menggunakan pompa insulin?

Mengajarkan kepada pasien anak lebih mudah, ketimbang saya sendiri waktu belajar, karena anak-anak sangat mudah menangkap. Misalnya saja, kalau saya punya handphone baru, bisa sampai 6 bulan belajar. Tapi, anak-anak saya lihat dalam 2 hari semua program sudah dikuasai, tanpa membaca buku petunjuk. Anak-anak persis seperti itu. Hanya, mereka perlu diberikan basic knowledge dulu. Mengenai rasio karbohidrat, lalu 1 unit insulin menurunkan kadar gula darah berapa banyak; semua diajarkan. Ia juga harus sadar untuk merawat alatnya.

Belum lama ini, saya merawat pasien asal Korea yang dioperasi usus buntu. Dia menderita diabetes sejak usia 1 tahun. Ibunya sangat ahli dalam mengatur pemberian insulin. Kadang, dia menyuntik insulin setelah makan, karena dia bisa menghitung karbohidrat pastinya setelah si anak selesai makan. Saya anjurkan, lebih baik menggunakan pompa insulin saja, karena sudah mengerti perhitungannya.

Dokter tertarik menggunakan alat pompa insulin yang diproduksi negara lain?

Masalahnya bukan tidak tertarik; saya harus melihat teknologinya. Untuk saat ini, saya belum melihat bahwa penelitian mereka cukup baik. Alat ini bagus dipakai di Korea, tapi data klinisnya belum cukup banyak. Dan kemampuannya lebih bagus alat yang selama ini saya gunakan.

Harapan mengenai penggunaan pompa insulin di Indonesia?

Pertama, kalau bisa memang harganya turun. Yang kedua, kalau bisa asuransi atau pihak rumah sakit bisa menerima teknologi ini. Ini sesuatu yang untuk perbaikan; bukan untuk gaya-gayaan. Masalahnya, dianggap bahwa belum saatnya orang Indonesia pakai pompa insulin. Harapan saya, seharusnya sudah saatnya kesempatan orang di Indonesia ini sama dengan orang Singapura dan Malaysia. Kita kehilangan banyak karena banyak pasien lari ke negara lain. Tragis.

Apa kiat agar pasien tidak lari ke negara tetangga?

Terbuka apa adanya, dari awal. Saya tidak mau sering-sering di-”PHK” oleh pasien. Tapi umumnya yang mem-”PHK” akan kembali lagi ke saya. Kalau untuk pasien, kenapa mesti repot marah-marah? Kan untuk kepentingan dia sendiri. Yang harus dia pikirkan, apakah itu memang yang terbaik untuknya?

Saya lebih senang kalau kita bekerjasama. Mungkin dia mau ke Singapura sekalian berbelanja, atau mau melihat cara kerja di sana; ada yang kurang di sini. Mungkin dia bertemu ahli nutrisinya di sana. Tapi, atas rekomendasi saya; jadi bukan saya yang dipecatnya. Bagaimana pun, dia harus tetap berkomunikasi karena ini seumur hidup, bukan penyakit seperti diare misalnya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.