"Keberhasilan Fetus Stem Cell 90%" | ethicaldigest

"Keberhasilan Fetus Stem Cell 90%"

Banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan yang ada saat ini, seperti diabetes mellitus, HIV/AIDS, penyakit genetik dll. Para dokter dan ahli di seluruh dunia telah melakukan banyak upaya, untuk menerapkan terapi sel. Salah satunya dengan stem cell /sel punca. Salah satu sumber stem cell adalah dari janin (fetus). Digunakan berbagai macam sel, dari manusia mau pun dari mamalia lain. Sel dari janin manusia menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan donor sel sampai masalah moral/agama.

Kini, berkembang pemanfaatan fetal stem cell yang sumbernya diambil dari kelinci. “Ternyata, sel mamalia satu dengan mamalia lainnya sama. Sel hati kera, sel hati babi dan sel hati manusia sama/identik, sehingga bisa ditukarkan,” ujar Dr. Suharto, Sp.KO,DP,H Direktur Utama Bio-Cellular Research Organization Indonesia. Yang terpenting, menurut pria yang juga mempelajari stem cell fetus di luar negeri ini, ternyata stem cell fetus aman digunakan. Berikut petikan wawancara ETHICAL DIGEST dengannya:

Apa yang dimaksud dengan fetus stem cell?

Stem cell atau sel punca adalah sel yang masih mempunyai potensi untuk memperbanyak diri. Segera setelah proses pembuahan, awalnya sel-sel membelah diri secara universal, tanpa melakukan diferensiasi. Biasanya, kita katakan sel itu masih bersifat totipoten yang dapat menjadi sel apa saja, atau disebut embryonic cell. Pada kira-kira minggu kedua, sel mulai menuju pada terbentuknya organ dalam tubuh. Ada yang nantinya menjurus menjadi sel saraf, sel jantung,  sel tulang, sel hati, sel ginjal dll. Jadi dalam fase ini, dia dinamakan sel fetus.

Mengapa memilih binatang?

Binatang bisa kita program untuk hamil, dan dipanen stem cell-nya. Sedangkan kehamilan pada manusia, tidak dapat diterminasi semaunya/digugurkan untuk pengambilan stem cell Kebanyakan agama/kepercayaan akan menolak, meski dalam beberapa keadaan bisa digunakan sel-sel hasil fertilisasi/pembuahan dalam tabung, yang tidak digunakan untuk pengembangan bayi tabung. Hal ini sering dianggap sebagai pemusnahan janin manusia, meski untuk keperluan pengobatan. Kelinci dipilih setelah melalui bermacam penelitian dan pertimbangan. Penelitian terapi stem cell  dilakukan menggunakan sel kambing, babi dan mamalia  lain. Keberhasilan banyak didapat dari  penggunaan kelinci. WHO, USFDA dan negara-negara Eropa memberi patokan penggunaan sel binatang yang terbukti aman, bila diproduksi secara benar.

Pertama, kita harus mencari binatang yang tidak mempunyai penyakit yang bisa menular pada manusia. Kedua, binatang itu harus bisa dimanage (ditata). Untuk memurnikan binatang yang akan digunakan, agar tidak terkontaminasi penyakit,  binatang dimaksud harus diternak secara terpisah (closed colony) dalam lingkungan yang steril dan tidak kena polusi selama 30 generasi. Bebas dari kemungkinan bertemu dan kontak dengan binatang lain, serangga mau pun manusia. Peternaknya harus menggunakan pakaian khusus. Dipantau juga selama itu agar tidak ada kelainan genetik yang bisa berbahaya. Ketika kelinci hamil, dilakukan pengamatan teliti, agar bisa dipastikan kapan jenis sel tertentu akan diambil dari janinnya.

Sekitar 2 minggu masa kehamilan, janin diambil dan dipilih stem cell-nya sesuai kebutuhan. Dari sel yang diambil, misalkan sel hati, kita biakkan melalui tissue culture primer. Kultur ini tetap akan menggunakan sel binatang sebagai ”feeder cell/pemberi makan”. Ini berlaku juga bila yang digunakan terpaksa sel manusia, baik dari janin mau pun sel dewasa. Ini diperlukan karena untuk pengobatan, dibutuhkan 3 juta stem cell per mililiter cairan. Kadaver tidak bisa digunakan, karena sulit diperoleh sel yang benar-benar segar/fresh. Darah dan jaringan dari tali pusat, juga tidak bisa digunakan untuk mendapatkan sel yang segar, karena sudah mengalami proses penyimpanan sebelum digunakan (disimpan dalam suhu sangat rendah, 80-120 derajat dibawah nol). Tujuannya agar metabolisme dalam sel sangat minimal. Jadi, walau sel itu disimpan sekian puluh tahun tidak mati. Yang menjadi pertanyaan, apakah setelah sekian lama tidak mengalami mutasi.

Apa kriteria pasien yang bisa mendapat manfaat dari stem cell?

Sampai saat ini disepakat, pengobatan dengan stem cell diarahkan pada penyakit/keadaan yang dengan cara-cara konvensional tidak dapat disembuhkan dan penyakit yang belum ditemukan cara pengobatannya, seperti kelainan genetik. Kriteria penentuan sel yang digunakan, tergantung dari penyakit dan komplikasi yang sudah terjadi pada masing-masing pasien. Contohnya, penderita diabetes dasarnya diatasi dengan obat-obatan penurun kadar gula darah. Komplikasi yang timbul bisa diatasi dengan pemberian stem cell standar, terdiri 6 jenis stem cell  ditambah beberapa sel lain.

Di antaranya sel langerhans pancreas, sel liver, sel usus, hypothalamus, adrenal cortex dan lain-lain. Pada penyandang síndrome Parkinsons, di mana sel-sel neuronnya tidak bisa memroduksi L Dopa, awalnya akan mendapat obat-obatan dari luar. Bila obat tersebut menjadi tidak efektif dan banyak menimbulkan efek samping, pemberian stem cell perlu dipertimbangkan. 

Beberapa jenis penyakit seperti penyumbatan pembuluh darah jantung, tidak bisa disembuhkan dengan stem cell, tetapi berulangnya pengerasan pembuluh darah dapat dicegah. Syarat-syarat pengobatan menggunakan  fetus stem cell antara lain: (a) bila pengobatan dengan menggunakan cara-cara konvensional pada pasien sudah tidak dapat diharapkan. (b) penyakit yang belum ada pengobatannya seperti penyakit genetic, down syndrome, Duchen Muscular dystropy, talasemia.

Dalam berapa kali penyuntikan fetus stem cell, pasien akan mengalami perbaikan?

Cukup satu seri fetus stem cell. Kita mengupayakan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel yang rusak/saki, dalam satu kali implantasi/penyuntikan. Gaya hidup, lingkungan, bahan-bahan beracun merupakan factor penentu, sampai sejauh mana pemberian sel baru bisa bertahan. Bila tidak melakukan cara hidup sehat, seperti mengatur masukan gizi, exercise, pengaturan berat badan, istirahat kurang, merokok dan menggunakan obat-obatan secara irasional, suatu saat dia akan membutuhkan stem cell baru lagi. Sebab, ada kemungkinan sel mengalami kerusakan lebih dini. Implantasi fetus stem cell mungkin dilakukan kembali setelah 5 tahun, ada yang 3 tahun. 

Berapa persentase tingkat keberhasilan fetus stem cell di Indonesia?

Sulit menentukan tingkat keberhasil dengan presentasi, tapi pada tahap awal akan terjadi perubahan  tingkat/rasa sehat. Pasien menjadi lebih segar dan fungsi tubuh membaik. Pada penderita diabetes, saya yakin tingkat keberhasilanya sangat baik. Dari laporan yang ada,  bisa 95% sekali pun para ahlinya menghindari penggunaan persentase keberhasilan karena aspek perbaikan yang berbeda pada pasien. Saat ini, dengan jumlah pasien kita yang berkisar 50 orang, keberhasilan terbesar dicapai pada segi keamanan penggunaan stem cell ini (Xenotransplant), dan perbaikan rata-rata kondisi pasien..

Tim kami  menangani 3 pasien dengan kelumpuhan  akibat cedera tulang belakang, ketiganya membaik tapi belum sepenuhnya. Seperti terapi sel yang lain, transplantasi feths stem cell memerlukan waktu berkembang, yaitu sejak sel ditanam kepada pasien dan berkembang di masing-masing organ. Pasien tidak langsung membaik. Di hari ketiga setelah dilakukan implant, sel-sel tersebut sudah seluruhnya mencapai organ sasaran. Setelah itu, mereka tumbuh dan menyatu dengan sel lain, dan memperbaiki kerusakan.

Jika di suatu tempat selnya masih normal, stem cell akan mati dengan sendirinya karena tidak ada yang perlu diperbaiki. Makin muda umur pasien, makin cepat hasil yang akan dirasakan  pasien. Jika pasien sudah berumur 60 tahun, butuh waktu 3-6 bulan, baru terlihat hasilnya. Paling cepat, hasil terlihat setelah 1,5 bulan pasca implantasi. Ada pasien yang datang dan berkata, “Rambut saya kok jadi hitam lagi dok?” Ada yang kemudian berpikir, kenapa  stem cell tidak digunakan sebagai terapi rejuvenasi? Dengan berbagai pertimbangan, penemu stem cell fetus tidak menghendaki. Alasannya, fetus stem cell untuk rejuvenasi terlalu mahal.

Sejauh mana implementasi fetus stem cell dalam kasus HIV?

Sampai sejauh ini, masih berupa percobaan. Di luar negeri, sudah dilakukan. Ketika kekebalan pasien menurun, dan ketika CD4-nya dibawah 200, atau kekebalan tubuh pasien sudah sangat rusak, dengan implantasi fetus stem cell sistem imunnya membaik. Ke depan, saya berharap semua dokter hati hati dalam pemberian obat, terutama yang dapat menyebabkan sel rusak.

Perlu rawat inap dalam penanganan pasien?

Sebenarnya tidak. Menjelang implant, pasien perlu mengkuti persiapan. Seperti mengurangi makanan dan zat yang lambat laun merusak, seperti: expose pada logam berat, merokok, minum obat keras, makan dengan gizi seimbang. Tiga hari menjelang implant, pasien disarankan tidak olah raga. Karena sel ini peka terhadap fluktuasi suhu tubuh. Pasien dijaga supaya suhunya stabil, sebelum dilakukan implantasi. Sebenarnya, setelah menjalani implant pasien bisa pergi ke mana saja, tapi kita tidak mau ambil risiko. Diambil kebijakan untuk rawat inap 1 malam. Jangan olah raga sampai 1 bulan setelah implant. Pasien yang membutuhkan sel otak (implant sel otak), selama 1 hari harus tetap di tempat tidur. Ini prosedur yang wajar, harus dilakukan pada kasus neurology. Kita perlu ruang bedah yang steril dan prosedure implantasi. Jika tidak terjadi apa-apa, pasien boleh pulang. Dilakukan monitoring secara berkala, untuk melihat hasil pengobatan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.