"Hindari Gangguan Pada Otak Anak" | ethicaldigest

"Hindari Gangguan Pada Otak Anak"

Cerebral palsy (CP) menjadi momok menakutkan bagi orangtua yang memiliki anak balita. Bagaimana tidak, kesalahan sedikit saja mungkin akan menyebabkan kelainan fungsi motorik anak sepanjang hidupnya. Infeksi dan kekurangan oksigen adalah dua penyebab cerebral palsy terbanyak. Seperti kata dr. R. Anna Tjandajani, Sp.A dari RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta, “Kekurangan oksigen selama 10 menit saja baik saat hamil, saat persalinan atau post natal bisa menyebabkan gangguan pada otak anak.”

Bagaimana mengenali gangguan ini dan bagaimana pengobatannya? Berikut wawancara Vitra Hutomo dari ETHICAL DIGEST dengan dr. Anna.

Pada usia berapa diagnosis CP sudah bisa ditegakkan?

Cerebral palsy (CP) sering baru bisa ditegakkan diagnosanya di atas 1 tahun. Kembali pada definisi sebelumnya: apa sih yang dimaksud CP? Anak dikatakan menderita CP jika dia mengalami gangguan motorik, ada gangguan pada tonus otot, terutama di gerak motorik yang disebabkan cidera di otak yang sifatnya non progresif. Maksudnya, penyakit itu tidak memburuk. Kapan kelainan muncul, tergantung penyebabnya. Penyebab langsung adalah cidera otak.

Cidera otak bisa terjadi saat dalam kandungan, saat persalinan, sesaat setelah persalinan atau karena sakit pada waktu balita. Jadi, kapan diketahui? Tergantung. Kalau memang cidera otaknya terjadi dalam kandungan, waktu lahir mungkin terlihat normal, tetapi perkembangan si anak mengalami keterlambatan di gerak motoriknya. Misalnya, umur 3 bulan anak tidak bisa tengkurep. Tapi, ada juga di usia 3 bulan belum terlihat dan baru terlihat jelas di usia 6 bulan. Jadi, tidak ada rentang waktu kapan kelainan itu bisa terlihat; sesuai dengan berat ringannnya bentuk CP. Dulu dipakai definisi diatas 1 tahun, kemundian turun diatas 6 bulan.

Seberapa besar kasus CP di Indonesia?

Belum tercatat data terbaru kejadian CP di Indonesia,  yang ada data setempat. Angka kejadian CP, diperkirakan 2 – 2,5 per 1000 kelahiran hidup. 

Apa penyebab utama CP?

Adanya cedera otak, yang disebabkan (periventricular leucomalacia) kelainan dari jaringan putih otak, disgenesis otak – kelainan pertumbuhan otak misal mutasi genetik, pendarahan, hipoksia (kekurangan oksigen dalam waktu lama). Penyebab paling banyak di Indonesia adalah infeksi, baik infeksi intrauterin (saat janin masih dalam kandungan) atau infeksi yang terjadi pada waktu lahir. Penyebab kedua terbanyak adalah hipoksia. Hipoksia bisa terjadi saat kehamilan, saat perasalinan atau post natal. Kekurangan oksigen yang lama—lebih dari 10 menit—bisa berdampak buruk pada otak bayi. Misalnya ibu sedang hamil, ternyata dia mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah, perfusinya rendah, sehingga aliran oksigen ke otak janin rendah. Atau oksigenisasi ibu rendah. Otomatis, oksigenisasi pada janin juga rendah. Atau si ibu kekuarangan darah atau anemia, oksigen tidak sampai ke janin. Ini bisa juga menyebabkan hipoksia. Karena kekurangan nutrisi ke otak, juga bisa.

Ada peran faktor genetika?

Untuk beberapa kasus, memang disebutkan ada mutasi gen. Tapi apakah mutasi gen itu menurun, misalnya dari ibu ke anak, belum terbukti.

Apa saja faktor risiko CP?

Lahir kurang bulan (prematur): 26-34 minggu, infeksi (janin/ibu, bayi, anak), hipertensi pada ibu hamil, hipotensi dan perfusi aliran darah yang rendah pada ibu hamil.

Kadang anak mengalami keterlambatan perkembangan. Bagaimana membedakannya dengan CP?

Kita punya batasan antara keterlambatan perkembangan. Keterlambatan perkembangan macam-macam jenisnya, ada yang mempengaruhi motor kasar saja, ada yang motor halus saja. Ada juga yang mempengaruhi kemampuan bicara, berfikir, sosialisasi dan sebagainya. Kalau anak hanya mengalami keterlambatan perkembangan, perbedaan waktu dengan kondisi normal kurang dari 3 bulan kita belum bisa bilang terlambat perkembangannya. Contohnya, seorang anak saat berusia 6 bulan--harusnya sudah bisa duduk--dia baru bisa tengkurap bolak-balik. Ini belum bisa kita bilang terlambat. Tapi kalau, misalnya, anak berusia enam bulan belum bisa tengkurep, padahal tengkurep normalnya 3 bulan, kita bisa curiga anak ini terlambat perkembangannya.

Bedanya dengan penderita CP adalah pada fungsi motoriknya. Pusat motoriknya yang terganggu. Awalnya, ada keterlambatan fungsi motor kasar. Lalu disertai melemahnya kekuatan tonus otot. Apakah tonus ototnya berkurang atau terlalu kaku kontraksinya. Tapi, gangguan motor bisa saja gangguan otot motorik pada gerak, pada bicara, pada menelan dan sebagainya.

CP bisa dideteksi sejak dini?

Dapat, dengan cara menilai riwayat kehamilan, kelahiran dan riwayat sakitnya. Jika tidak ada masalah pada riwayat kehamilan atau kelahiran, dapat dideteksi dengan menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak – melakukan skrining perkembangan pada bayi dan anak. Pada bayi yang lahir dengan risiko, tentunya perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya.

Apakah penderita CP bisa sembuh seperti orang normal?

Kalau kita sudah mendiagnosa seorang anak kena CP, dikatakan sembuh 100% biasanya tidak. Kita tidak pernah berani mengatakan anak itu sembuh. Kita hanya akan meningkatkan kemampuannya. Tergantung berat ringannya CP. Kalau ringan, bisa kita stimulasi dan latih ototnya. Tujuannya, agar bisa mendekati normal. Tapi, tetap saja ada kekurangannya.

Tergantung berat ringannya bentuk CP. Tetapi, umumnya, CP yang terjadi itu berat. Pada kondisi yang sangat berat, kebutuhan pribadinya sampai harus dibantu orang lain. Yang biasa terjadi itu yang jenis berat.

Ada berapa jenis CP, apakah penangannya berbeda?

Jenis CP bisa stastik, ataksia atau atetoid. Penderita mungkin banyak bergerak, tetapi gerakannya di bawah sadar. Atau tipe campuran, ada stastik, ataksia dan atetoid. Kalau dari penangannya jelas berbeda. Tapi, perbedaan keseluruhan secara prinsip tidak ada. Tetap, prinsip penangannya sama. Hanya saja disesuaikan dengan jenis CP-nya. Misalnya, kalau penderita mengalami spastisitas, atau kekakuan, tentunya kekakuan harus dikurangi. Caranya dengan melatih ototnya atau kadang diberi obat untuk melemaskan ototnya. Tetapi  pada penderita dengan jenis atetoid,  karena bergerak terus, maka pengobatannya berbeda. 

Bagaimana prinsip penanganan CP?

Prinsip penangan pada CP harus komprehensif, butuh interdisiplin ilmu. Penderita  membutuhkan fisioterapi, terapi okupasi, fisioterapi. Fisioterapi diperlukan motor kasarnya dan  terapi okupasi untuk motor halusnya. Apakah dia butuh obat atau tidak? Kalau pada kasus berat, misalnya otot-ototnya kaku, dia butuh relaksan otot. Lain lagi kalau ototnya tidak apa-apa tapi banyak bergerak, maka lain obatnya. Kita juga perlu edukasi orangtuanya.

Sampai kapan terapi diberikan?

Sebenarnya, tidak ada batasan waktu persis sampai kapan terapi dilakukan. Yang pasti kalau si anak tidak ditangani, biasanya makin berat. CP itu kalau tidak dilatih akan makin berat.

Fungsi sensorik pada penderita juga terganggu?

Kalau CP lebih pada fungsi motorik. Tetapi akibat fungsi motornya terganggu, walau fungsi sensoriknya tidak terganggu, fungsi sensoriknya terlihat terganggu. Karena refleksnya jadi tidak optimal. Contohnya, seorang pasien CP ada kelemahan di kanan, tangan kanannya kaku. Lalu dia terkena panas. Sebenarnya indra perasanya merasakan panas, tapi karena tidak berdaya untuk menarik tangan kanannya, akhirnya refleksnya terganggu. Sehingga terlihat seperti tidak merasakan panas.

Jika bisa dikenali sejak dini, apakah CP juga bisa dicegah?

Pencegahan kembali lagi pada mencari faktor kausanya. Apa sih penyebabnya? Pertama, jangan sampai kita melahirkan anak CP. Jangan sampai anak yang sehat terkena infeksi otak atau radang otak, atau mengalami cidera misalnya ada trauma atau pendarahan otak. Pencegahannya mungkin ke situ. Kalau misalnya terjadi gangguan otak, jangan sampai terjadi hipoksik lama.

Bagaimana dengan penggunaan stem cell untuk pengobatan CP?

Di sini belum ada stem cell. Tapi, saya baca di literatur, memang di luar negeri sudah ada penggunaan stem cell pada penderita CP. Dengan harapan, stem cell sampai ke jaringan otak yang rusak dan  membuat sel otak baru. Tapi, di Indonesia belum sampai ke situ.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.