“Perlu Kerjasama Perbaiki Pelayanan Kanker di Indonesia” | ethicaldigest

“Perlu Kerjasama Perbaiki Pelayanan Kanker di Indonesia”

Kanker merupakan jenis penyakit katastropik yang berat. Sebuah penelitian menyatakan, tahun pertama pasien dan keluarga penderita kanker setelah diagnosis ditegakkan, dapat mengalami goncangan berat dari sisi ekonomi dan psikologis. Hal ini perlu menjadikan perhatian banyak pihak, mulai Kementerian Kesehatan, pemangku kebijakan dan para klinisi.

Dengan bertambahnya usia, terjadi peningkatan fibrosis dan kolagen pada kandung kemih sehingga fungsi kontraktil otot tidak efektif, mudah terbentuk trabekulasi hingga diventrikel.

Sejauh mana kemajuan penanganan kanker di Indonesia?

Banyak kemajuan penanganan kanker di Indonesia. Kita tidak kalah dengan negara lain di dunia. Tapi perlu diketahui, kemajuan keilmuan tidak serta merta bisa diaplikasikan kepada pasien kanker di sini. Seperti contoh terapi target dan imunoterapi.

Dalam rangkaian ROICAM-5 pada 6 – 9 April 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, para pakar dari luar negeri akan membawakan tema imunoterapi. Ahli yang didatangkan dari European Society for Medical Oncology (ESMO). Hadir pula pakar dari American Cancer Society (ACS). Ada topik-topik lain dari para pakar manca Negara, untuk menambah wawasan para praktisi kesehatan di Indonesia di tingkat konsultan, mahasiswa PPDS, dokter pelayanan primer, dokter umum dan perawat.

Pesertanya siapa saja?

Targetnya menyeluruh, tidak hanya dokter spesialis onkologi atau dokter penyakit dalam. Kita tahu penanganan kanker sangat multi dimensi. Mulai dari tahap diagnosis, pemeriksaan radiologi, biopsi, hingga beberapa komplikasi yang sering muncul seperti gangguan makan dan nyeri, yang perlu  keterlibatan berbagai displin ilmu kedokteran. Andil perawat cukup besar. Mereka yang melakukan pendampingan pasien selama 24 jam di rumah sakit.

Apa kendala dalam penanganan pasien kanker?

Banyak aspek dalam perawatan kanker, yang belum terjamah tenaga kesehatan di Indonesia. Seperti tempat meninggal yang nyaman bagi penderita kanker. Kita bisa memberi pilihan pada keluarga atau pasien, ingin meninggal di rumah sakit atau di rumah dikelilingi keluarga tercinta. Di indonesia, ini belum dilakukan. Di luar negeri, setelah pasien kanker diprediksi secara medis kemungkinan angka harapan hidupnya, pasien umumnya memilih meninggal di rumah.

Tantangan di sini, 60% pasien kanker datang dalam kondisi sudah berat (advance). Yang terjadi adalah lamanya perawatan, tahapnya dari kemo ke kemo atau radiasi ke radiasi. Kebiasaan orang Indonesia, ketika ada penyakit mereka cenderung menghindar. Di Eropa, sebagain besar penderita kanker diketahui stadium awal, hanya 30% stadium advanced.

Masyarakat Indonesia yang menghindar dari penyakit, kemudian memilih pengobatan alternatif, orang pintar dan sebagainya. Baru setelah penyakit bertambah parah dan pengobatan alternatif gagal, mereka ke rumah sakit atau dokter.

Distribusi, fasilitas, ketersediaan obat dan kompetensi tenaga kesehatan juga belum merata, masih terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta. Saat ini ada sekitar 110 konsultan Onkologi Medik, ditambah dokter penyakit dalam yang mengambil course onkologi jumlahnya 200-an. Jumlah ini sangat sedikit, dibanding sekian juta penderita kanker. Di Serang, Bogor, Sukabumi, tidak ada konsultan onkologi medik, hingga pasien harus ke Jakarta atau Bandung.

Bagaimana mengatasi jumlah dokter onkologi medis yang terbatas?

Dokter penyakit dalam bisa mengambil course di Perhompedin, misal untuk memperdalam kemoterapi dan paliatif care, agar dapat menangani pasien kanker dengan kemoterapi sederhana. Bila pasien kanker sudah komplikasi, perlu komunikasi dengan konsulen.

Sejauh ini sudah ada 3 angkatan course di Perhompedin bagi dokter spesialis penyakit dalam, neurologi atau dokter bedah. Course dilakukan di Jakarta, setiap Sabtu dan Minggu selama 3 bulan.

Secara kompetensi mereka bisa melakukan kemoterapi atau memberi terapi paliative seperti pemberian morphine. Perlu ada keserasian antara Perhompedin dan BPJS, yang menilai bahwa yang berhak memberi terapi pasien kanker adalah dokter onkologi medik. 

Masalah seperti ini harus dicari jalan keluarnya. Jika harus menanti terapi kanker dari konsulen, sampai kapan pasien harus menanti. Dokter penyakit dalam yang ribuan bisa dimanfaatkan. Selama ini pelayanan penyakit kanker terpusat di PPK 3. Sehari menangani 120 pasien kanker, seperti apa rasanya? Jika sebagian pasien bisa ditangani di PPK 2, lebih  baik.

Perhompedin akan mengajak berbagai pihak, termasuk BPJS kesehatan membahas masalah ini. Semoga pembicara-pembicara dari ESMO dan ACS bisa membuka wawasan semua pihak, sehingga penanganan kanker di Indonesia bisa lebih baik.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.