“Dalam Kasus Emboli Paru Dokter Jangan Takut Lakukan Tindakan” (Bagian 2) | ethicaldigest

“Dalam Kasus Emboli Paru Dokter Jangan Takut Lakukan Tindakan” (Bagian 2)

Penanganan emboli paru, menurut Prof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P(K), dari Departemen Pulmonologi FK Universitas Indonesia /RS Persahabat, Jakarta, guru besar FK Universitas Indonesia adalah masalah waktu. Pemeriksaan yang akurat, membutuhkan waktu berjam-jam. Padahal dalam jangka waktu tersebut, banyak hal bisa terjadi pada pasien. Karenanya, dokter mengandalkan klinis pasien. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana mendeteksi dan mengobati emboli paru, berikut petikan wawancara ETHICAL DIGEST dengan Prof. Menaldi.

Apa saja gejala-gejala orang yang mengalami emboli paru?

Kalau ada sumbatan pada paru, sehingga ada kekurangan aliran darah, oksigen  tidak bisa masuk. Keluhan utamanya sesak nafas. Tapi kalau ada banyak sumbatan, mungkin keluhannya tidak hanya sesak tapi juga nyeri dada. Kadang-kadang, rasanya seperti tertekan. Sering orang berfikir itu jantung, lupa bahwa mungkin itu karena emboli paru. Kemudian, saat terjadi seperti itu, kekurangan oksigen tadi bisa memicu reaksi saluran nafas, yang membuat saluran nafas menyempit. Maka akan terdengar bunyi mengi, seoerti penderita asma. Itu gejalanya. Emboli kalau sangat luas, bisa meyebabkan kematian. Jadi kematian pada emboli paru bila daerah paru yang terkena luas, sehingga oksigen turun dengan sangat cepat. Karena terjadi sangat cepat maka kadang sulit terdeteksi.

Bagaimana mendeteksinya?

Jika pasien mengalami sesak dan rasa nyeri di dada, kita lihat riwayat pasien. Apakah pasien baru selesai operasi, atau ada kanker atau ada DVT? Kalau ada, baru pikirkan  ini mungkin emboli. Untuk memperkuat dugaan, kita periksa analisa gas darah. Dari hasil analisa gas darah, bisa kita lihat mungkin kurang kadar oksigennya. Tapi yang disebut kurang itu berapa? Karena pemeriksaan gas darah bukan pemeriksaan rutin, kita tidak bisa tahu berapa yang disebut kurang. Tapi, kita bisa menghitung perbedaan gas darah di alveoli dengan di arteri. Kalau lebih dari 40mmHg, dipastikan kadar oksigen di arteri ini kecil sekali. Karena normalnya di bawah 20mmHg.

Kalau di atas 40mmH, mungkin ada emboli paru. Tapi, pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit; pada saat itu banyak yang terjadi terhadap pasien. Selain itu, pemeriksaan tidak cukup. Butuh pemeriksaan D-dimer, untuk melihat apakah ada bekuan darah pada pasien. Tapi, pemeriksana ini bisa 2 jam. Jadi total 2,5 jam kita baru bisa simpulkan bahwa pasien mungkin mengalami emboli paru. Tapi, itu masih belum cukup, masih perlu dilakukan pemeriksaan lagi dengan ronsen. Tapi kadang ronsen gambarannya juga tidak tajam, terpaksa kita lakukan pulmonary angiogram. Ini lebih lama lagi.

Jadi, memang, diagnosis emboli paru yang pertama kita lihat adalah gejala klinis. Dan ini bisa meleset. Itu sebabnya kita sering kecolongan. Pemeriksaan-pemeriksaan ini penting dilakukan, tapi waktunya? Jadi yang sering kita pakai adalah gejala klinis. Tapi, karena kasus ini sering tidak terdeteksi cukup kuat di semua Negara, maka kesadaran dokter untuk mengenali emboli paru tidak memadai. Contohnya, Amerika adalah negara yang paling akurat bisa melaporkan berapa angka kejadian emboli paru di Negara itu. Berapa? Antar 300.000 sampai 600.000. Artinya, tidak sempit rangenya. Artinya, dokter AS juga bisa meleset diagnosisnya. Sementara di negara kita, fasilitas untuk ini tidak cukup. Jadi, betul-betul menggantungkan pertimbangan klinis dari pasien. Jika pasien punya riwayat DVT, merokok, ada riwayat kanker atau diabetes, baru kita pikirkan kemungkinan emboli paru. Tapi kan tetap mesti dibuktikan.

Bagaimana penangananya? 

Kalau masih punya waktu, kadang kita berikan obat oral, heparin. Jadi kalau pasien punya riwayat DVT, kita kasih heparin saja daripada terjadi emboli paru. Tapi, kalau keadaannya sudah akut, dengan tampilan klinis, kita berikan obat suntik. Biasanya adalah streptokinase. Tapi streptokinase punya periode emas juga, kalau kurang dari 4 jam masih bagus. Kalau lebih dari 4 jam, suka tidak tertolong. Kalau kita lihat orangnya ada diabetes, dan mungkin akan berulang, kadang kita gunakan heparin; ini lebih murah dari streptokinase. Heparin bisa dipakai dengan jangka waktu lebih lama dari streptokinase. Sekarang, untuk pencegahan pada orang-orang yang berpotensi atau pernah kejadian emboli, ada obat plasminogen aktifator.

Obat seperti heparin baik untuk mencegah bekuan darah. Bagaimana pada orang yang akan menjalani persalinan atau operasi, yang mungkin berisiko emboli paru?

Karena itu, kita lihat persentase. Berapa kejadian emboli paru pada persalinan dan berapa kejadian emboli paru pada tindakan operasi. Angka itu kecil sekali. Sementara, kalau kita menggunakan obat pengencer darah dalam operasi, tentu operasi jadi bahaya. Kalau itu dipakai, berarti kita sengaja membuat pembuluh darah terus berdarah tidak beku-beku.

Seberapa cepat sebaiknya pertolongan diberikan?

Tergantung. Pada orang dengan kondisi akut, karena oksigen turun, maka pertolongan pertama adalah memberikan oksigen dosis tinggi. Kedua, dilakukan analisa gas darah. Kalau dicurigai emboli paru, kita boleh kasih obat-obatan tersebut. kalau dia pasien operasi, hindari obat-obatan yang mencegah pembekuan. Itu risiko yang terpaksa diambil dokter, dalam melakukan sesuatu. Dokter lihat, mana risiko yang paling besar. Kalau misalnyanya, dia harus melakukan Caesar karena suatu hal, dokter harus melakukannya. Emboli bisa terjadi pada siapa saja, termasuk dokter yang melakukan tindakan. Dan, setiap tindakan kedokteran pasti ada risikonya.

BACA SEBELUMNYA (BAGIAN 1)

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.