Tekanan Darah Rendah dan Keinginan Bunuh Diri | ethicaldigest

Tekanan Darah Rendah dan Keinginan Bunuh Diri

Penelitian terbaru memperlihatkan, tekanan darah rendah dapat meningkatkan risiko keinginan bunuh diri. Dalam satu penelitian, dari 10000 orang dewasa Korea Selatan dengan tekanan darah sistolik rendah berisiko tinggi memiliki keinginan bunuh diri, dibanding mereka dengan tekanan darah normal.

"Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tekanan darah rendah berhubungan dengan masalah neuropsikologi, termasuk depresi dan ansietas. Belum ada penelitian yang menyelidiki hubungan antara tekanan darah rendah dan keinginan bunuh diri, yang merupakan satu indikator masalah psikitri,” kata Sung-il Cho, MD, dari Seoul National University.

Penelitian dr. Cho dan kawan-kawannya menganalisa data 10.708 orang dewasa, yang terlibat dalam Korean National Health and Nutrition Examination Survey 2010-2013.

Secara keseluruhan, 1.199 (11,2%) pernah memiliki keinginan bunuh diri, diidentifikasi dengan menanyakan satu dari dua pertanyaan: "Pernahkah Anda merasa ingin bunuh diri selama setahun terakhir?" (2010-2012) dan "Pernahkah Anda mempertimbangkan untuk bunuh diri secara serius selama setahun terakhir?" (2013). Keinginan bunuh diri lebih sering terlintas pada wanita, daripada pria (12,9% vs 7,8%) dan pada mereka yang berusia 70 tahun ke atas (20,8%).

Para peneliti menggunakan 4 nilai cut off untuk menentukan tekanan darah rendah: SBP <110 mmHg, <100 mmHg, <95 mmHg, dan <90 mmHg. Secara keseluruhan, 2.569 (24%) orang dewasa memiliki tekanan darah rendah, dan 8139 (76%) memiliki tekanan darah normal.

Menurut para peneliti, 10,8% orang dengan tekanan darah normal pernah memiliki keinginan bunuh diri. Untuk orang dengan tekanan darah sistolik rendah, persentasi meningkat menjadi 12,5% pada mereka yang memiliki tekanan darah sistolik <100 mmHg, 13,7% dengan tekanan darah sistolik <95 mmHg, dan 16,6% dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg.

Dibanding kelompok normotensif, kemungkinan terlintas keinginan bunuh diri secara signifikan lebih tinggi pada kelompok hipotensi dengan tekanan darah sistolik <100 mmHg, <95 mmHg, dan <90 mmHg, setelah dilakuka penyesuaian berdasat jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh, tingkat kolesterol total, pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, status perkawinan, status merokok saat ini, asupan alkohol, dan interaksi antara jenis kelamin dan usia.

Penyesuaian lebih lanjut untuk diabetes, stroke, infark miokard / angina pektoris dan depresi sebagai kovariat, memiliki pengaruh kecil terhadap hubungan ini. Juga, tidak ada hubungan yang signifikan antara prehipertensi atau hipertensi dan keinginan bunuh diri.

"Meski prehipertensi mungkin merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan harus ditangani, tampaknya tidak berdampak negatif pada kesehatan mental. Tekanan darah rendah dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbeda dibandingkan tekanan darah tinggi. Penelitian ini menjawab anggapan bahwa dalam kesehatan mental, tekanan darah rendah selalu lebih baik, "kata Cho.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.