Terapi LABA 2 | ethicaldigest

Terapi LABA 2

Meta analisa FDA

Meta-analisis ini dilakukan sebagai respon terhadap rekomendasi dari pertemuan Paediatric Advisory Committee, untuk terus menilai risiko dan manfaat LABA. Meta analisa ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan LABA dengan rawat inap karena asma, intubasi, dan kematian. Meta analisa ini melibatkan 110 uji klinis terkontrol pararel acak (60 954 pasien). Meta-analisis ini meninjau empat produk yang mengandung LABA dan disetujui di Amerika Serikat, untuk pengobatan asma: salmeterol plus flutikason, formoterol, salmeterol, dan formoterol plus budesonide.

Sebagian besar pasien (> 70% dari total sampel) berasal dari penelitian salmeterol. SMART memberikan sampel lebih banyak (43%) dari total sampel. Untuk analisis secara keseluruhan, 77% pasien berusia 18 - 64 tahun, 11% antara 12 - 17 tahun, 7% 65 tahun ke atas, dan hanya 6% antara 4 - 11 tahun. Sebagian besar pasien berkulit putih (72%), perempuan (57%), dan dari uji coba dengan jangka waktu pengobatan 12 minggu atau lebih (94%).

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa LABA dihubungkan dengan tingginya perbedaan risiko (risk difference [RD]) kejadian terkait asma dari obat-obatan non LABA, saat diukur menggunakan endpoin gabungan antara kematian asma, intubasi asma, dan rawat inap asma. Pengobatan non LABA mencakup kortikosteroid hirup, SABA, pengobatan non LABA lainnya, plasebo atau kombinasi beberapa obat.

Yang menarik, RD untuk endpoin gabungan asma hanya meningkat ketika LABA tanpa kortikosteroid hirup dibandingkan dengan pengobatan non-LABA. Sebaliknya, perbandingan antara terapi LABA plus kortikostroid hirup dengan monoterapi kortikostroid hirup (kortiksotroid hirus yang sama dan dosis yang sama), secara statistik tidak signifikan. Tiga dari empat produk (formoterol, salmeterol, dan formoterol plus budesonide) memberi peningkatan tidak signifikan dalam RD, untuk endpoint komposit asma. Hanya salmeterol memberi perbedaan signifikan.

Ada 20 kematian terkait asma, 16 di antaranya berada di kelompok LABA (semua terjadi di antara pasien yang diobati dengan salmeterol), dan 4 pada kelompok non-LABA. Perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian yang dilakukan  AstraZeneca  untuk kombinasi formoterol plus budesonide, tidak diikutkan dalam analisis FDA (38 studi dengan 22 240 pasien) untuk alasan berbeda (menggunakan dosis yang tidak disetujui oleh FDA dan usia 4-11 tahun).

Berbeda dengan analisis FDA (empat penelitian dengan 1.270 pasien), yang menunjukkan peningkatan risiko non-signifikan rawat inap karena asma (RD = 7,49 per 1.000 pasien), analisis terhadap 44 penelitian (23510 pasien) yang dilakukan  AstraZeneca menunjukkan penurunan risiko yang tidak signifikan (RD = -4,5 per 1.000 pasien) untuk formoterol plus budesonide.

Sebagaqi kesimpulan, LABA dihubungkan dengan peningkatan endpoin komposit asma. Ada 44 kematian dan intubasi pada populasi menggunakan LABA terpajan, 43 terjadi pada 22 dari 286 pasien (0,19%) dalam penelitian, di mana penggunaan kortikosteroid hirup tidak diwajibkan, dibanding 1 kematian pada 7.862 pasien (0,01%)  dalam penelitian, dimana kortikosteroid hirup diwajibkan. Dan, tidak ada kematian atau intubasi pada pasien yang diobati dengan kombinasi LABA dan kortikostroid hidup dalam satu alat.

Tinjauan sistematis dengan meta analisa berbasis penelitian acak terkontrol dan database klinis

Karena sedikitnya angka kematian dalam uji klinis asma, salah satu pendekatan yang berguna untuk menganalisis tinjauan sistematis adalah menggunakan meta-analisis, berdasar percobaan terkontrol acak (RCT). Para penulis memeriksa 16 meta-analisis: tiga membandingkan LABA dengan plasebo, delapan membandingkan LABA plus kortikostroid hirup dengan kortikosteroid hirup saja, dan tiga membandingkan kedua perbandingan tersebut. Juga dilakukan evaluasi dua database penelitian acak terkontrol, yang diberikan perusahaan farmasi pada FDA.

Dari enam tinjauan membandingkan LABA dengan placebo, empat menunjukkan peningkatan yang signifikan kematian karena asma pada kelompok yang menggunakan LABA. Mayoritas kematian yang terekam dalam tinjauan ini berasal dari SMART. Satu-satunya tinjauan yang secara eksklusif menilai efek formoterol, menghasilkan satu kematian asma pada kelompok LABA. Monoterapi LABA meningkatkan risiko asma dan rawat inap asma peristiwa yang mengancam jiwa, meskipun di beberapa tinjauan efeknya tidak signifikan secara statistik. Jelas, analisis data ini mengonfirmasi kekhawatiran sebelumnya, yang timbul dari studi seperti SNS atau SMART.

Tinjauan membandingkan LABA plus kortiksoteroid hirup dengan monoterapi kortiksteroid hirup, menunjukkan gambaran yang cukup berbeda. Semua tinjauan, kecuali dua, dilakukan menggunakan kortikostroid hirup yang sama di kedua kelompok, dan satu penelitian dilakukan secara eksklusif pada anak-anak. Secara keseluruhan, kematian karena asma dan serangan yang mengancam jiwa jarang terjadi. Pasien yang yang diobati dengan LABA plus kortikostroid hirup, menunjukkan penurunan risiko rawat inap. Satu-satunya tinjauan dari pasien anak, tidak menunjukkan kematian asma atau serangan yang mengancam jiwa.

AstraZeneca juga memberi tinjauan komprehensif pada FDA, berkenaan data-data yang ada untuk formoterol plus budesonide dalam metered dose inhaler dan penelitian Turbuhaler (≥12 tahun). Data yang mereka berikan mencakup penelitian-penelitian yang melibatkan 15.852 pasien, yang mendapat formoterol plus kortikostroid hirup atau monoterapi kortikosteroid saja. Tidak ada kematian terkait asma, dan endpoin komposit asma (kematian, intubasi, dan rawat inap) menurun secara signifikan (rasio odds (OR) = 0,62; 95% CI 0,42-0,93), pada pasien yang menerima terapi kombinasi.

Sebuah perkembangan yang berbeda untuk ICS dikombinasikan ditambah pengobatan LABA, adalah penggunaan budesonide ditambah formoterol baik sebagai perawatan dan terapi pereda (strategi SMART). Data Keselamatan dari enam RCT double-blind (14 346 pasien) yang budesonide ditambah formoterol digunakan selama minimal 6 bulan, menunjukkan toleransi yang baik dan tidak ada peningkatan masalah keamanan, dengan kejadian yang lebih rendah atau setara kematian dan efek samping terkait asma serius, dibandingkan pembanding dosis tetap.

Satu perkembangan pengobatan kombinasi kortikostroid hirup dan LABA, adalah penggunaan budesonide ditambah formoterol, baik sebagai terapi pelega atau rumatan (strategi SMART). Data keamanan dari enam penelitian buta ganda (14.346 pasien), dimana budesonide plus formoterol digunakan selama minimal 6 bulan, menunjukkan toleransi yang baik dan tidak ada peningkatan masalah keamanan, dengan angka kematian dan kejadian serius terkait asma yang lebih rendah atau setara, dibandingkan komparatornya.

Akhirnya, analisis dari 41 penelitian acak terkontrol (≥3 bulan) yang disponsori  AstraZeneca menunjukkan bahwa formoterol (82% diberikan bersamaan dengan kortikosteroid hirup) sebagai terapi rumatan dan / atau terapi pereda, yang melibatkan hampir 12 000 anak dan remaja, tidak berhubungan dengan peningkatan risiko rawat inap karena asma. Hanya ada satu kematian karena asma, pada pasien yang diobati dengan formoterol.

TERAPI LABA 1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.