Syarat Menjadi Pendonor ASI | ethicaldigest

Syarat Menjadi Pendonor ASI

Di luar negeri, ASI donor telah lama dikenal dan dimanfaatkan layaknya transfusi darah. Penyalurannya diatur melalui suatu Bank ASI, yang akan melakukan skrining terhadap pendonor ASI yang memenuhi syarat. Termasuk melakukan kultur serta pasteurisasi terhadap ASI yang didonorkan. Di Indonesia belum ada Bank ASI; terkendala oleh tradisi dan ajaran agama.

Ada sejumlah virus dan penyakit yang dapat dibawa melalui ASI, di antaranya HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Tanpa skrining tentunya ditakutkan jika ASI berasal dari ibu yang menyalahgunakan obat-obatan terlarang. Untuk itu, donor ASI hanya dianjurkan jika ibu si bayi benar-benar tidak dapat memberikan ASI-nya sendiri karena satu dan lain hal.

Kelompok orang yang tidak disarankan untuk mendonorkan ASI antara lain:

  • Ibu yang pernah menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir
  • Menerima transplantasi organ atau jaringan dalam 12 bulan terakhir
  • Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces (sekitar 60 mL) atau lebih dalam periode 24 jam
  • Pengguna rutin obat-obaan over the counter (OTC) seperti aspirin, paracetamol, dan lain-lain; obat-obatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau terapi pengganti hormon masih dimungkinkan)
  • Pengguna vitamin dosis tinggi atau obat-obatan herbal
  • Pengguna produk tembakau (perokok)
  • Memakai implan silikon pada payudara
  • Vegetarian total tanpa suplementasi vitamin B12
  • Penyalahguna obat-obatan terlarang
  • Memiliki riwayat hepatitis, gangguan sistemik lain atau infeksi kronis (HIV, HTLV, sifilis, CMV)
  • Berisiko HIV (pasangan HIV positif, memiliki tattoo/body piercing)

Dari sisi penerima, orangtua sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

  • Kondisi kesehatan ibu atau pendonor, termasuk pola makan terkait agama atau keyakinan
  • Hasil uji serologis pendonor terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV
  • Kemungkinan ASI tercemar obat, nikotin, alkohol, dan lain-lain
  • Kemungkinan ASI tercampur air atau bahan/zat/nutrisi lain
  • Higiene saat ASI diperah dan disimpan
  • Jangka waktu penyimpanan dan media penyimpanan
  • Kondisi bayi dari ibu pendonor, sebaiknya berusia kurang dari 1 tahun

ASI yang didonorkan sebaiknya disterilkan melalui proses pasteurisasi. ASI di Bank ASI terutama diperuntukkan bagi bayi dan anak-anak yang membutuhkan ASI akibat kondisi medis tertentu, hanya jika suplai ASI dari ibunya tidak mencukupi atau kontraindikasi karena alasan tertentu. Misalnya:

  • Bayi yang tidak memiliki ibu kandung
  • Ibu dengan riwayat menderita penyakit kronis tertentu, di mana memiliki kewajiban untuk mengonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi kualitas ASI
  • Bayi prematur dan/atau mengalami masalah kesehatan
  • Ibu mengalami masalah dnegan jumlah produksi ASI

Praktik pendonoran ASI, sebaiknya melalui Bank ASI, mengingat risiko medis yang mungkin terjadi. Pendonoran secara langsung tidak dianjurkan, apalagi jika ASI tidak disterilkan lebih dulu. Jika ingin menerima ASI dari orang/ibu lain, sebaiknya dari orang yang dikenal atau kerabat dekat. Orangtua juga sebaiknya mempelajari isu donor ASI menurut agama dan keyakinannya masing-masing, sehingga semua data donor mau pun penerima perlu dicatat secara teliti.

Sebelum mendonorkan ASI, Bank ASI perlu melakukan pengecekan secara lisan dan tulisan terhadap kondisi kesehatan pendonor, untuk memastikan bahwa pendonor telah memenuhi persyaratan mendonorkan ASI. Langkah kedua, dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap HIV 1 dan 2, hepatitis B dan C, sifilis, dan HTLV I dan II, baik dari kehamilan yang paling akhir atau setelah melahirkan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.