Sclerotherapy, Terapi Suntik pada Varises | ethicaldigest

Sclerotherapy, Terapi Suntik pada Varises

Metode lain dalam penanganan varises adalah dengan  sclerotherapy alias ‘suntik varises’. Yakni menyuntikkan sclerosis agent, seperti sodium tetradecyl sulphate /STD , polidocanol atau sodium morrhuate, dengan bantuan USG. Larutan ini akan mengiritasi dan menimbulkan parut di lapisan dalam vena.

Beberapa cairan mengandung anestesi lokal (lidocaine). Iritasi di dinding vena akan ‘memaksa’ darah untuk mengubah rute melalui pembuluh vena yang lebih sehat. Vena yang kolaps diserap kembali ke jaringan lokal dan akhirnya memudar. 

 “Ini hanya bisa pada varises tipe spider vein, atau masih stadium C1. Jika disuntikkan pada vena yang sudah besar justru berbahaya. Sclerosis agent tidak akan meresap, berisiko ikut aliran darah dan menyumbat jantung,” kata dr. Achmad Faisal, SpBTKV.

Prosedur mungkin dilakukan 2-3 kali, bahkan lebih. Sebelumnya daerah yang akan mendapat injeksi telah ditandai dengan USG, bius lokal diberikan di area paha bawah atau pertengahan betis. Kemudian dibilas dengan larutan garam yang mengandung heparin, untuk menjaga jarum terbuka.

Dua atau tiga jarum kecil (butterfly needles) dimasukkan ke dalam varises. Kaki diangkat (setinggi sofa) dan larutan disuntikkan dengan volume kecil, ke masing-masing jarum. Kemudian pasien diminta menekuk pergelangan kaki (ke atas-bawah), untuk meningkatkan aliran darah.

Pasien mungkin akan merasa sensasi seperti tersengat saat sclerosis agent masuk. Setelah injeksi, dilakukan pembebatan dengan bubblewrap (bantalan kompresi) untuk menekan vena. Stoking atau perban kompresi dipakaikan setelahnya. 

Komplikasi yang tercatat termasuk tromboflebitis superfisial (yang dapat diatasi dengan obat anti-inflamasi), pigmentasi di kulit (warna kecoklatan akan pudar/hilang dalam beberapa bulan), atau timbul ulkus jika cairan STD meleset tidak masuk vena, tapi mengenai jaringan sekitarnya. Pada sedikit kasus dilaporkan ada reaksi alergi dan gangguan visual. Metode sclerotherapy tidak cocok digunakan pada mereka dengan riwayat trombosis vena dalam.

Paul V Tisi, Catherine Beveley, dan kawan-kawan melakukan analisa pada 17 penelitian, yang membandingkan sclerotherapy dengan terapi kompresi (1 studi dilakukan pada wanita hamil). Riset tersebut menyimpulkan bahwa pemilihan dosis, formulasi (cairan atau busa), pemakaian kompresi lokal, atau pemilihan derajat kompresi tidak memberi efek signifikan, untuk menangani varises. Namun penelitian tersebut menegaskan, sclerotherapy mendukung mengatasi varises berulang setelah terapi pembedahan. 

BACA MENEGAKKAN DIAGNOSIS VARISES

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.