Resiko Penyakit Hati pada Obesitas2 | ethicaldigest

Resiko Penyakit Hati pada Obesitas2

Presentase klinis NAFLD

Penderita NAFLD non sirosis sering tidak menunjukkan gejala. Tapi, secara umum, NAFLD akan disertai peningkatan kadar transaminase secara insidental. Pada pemeriksaan ultrasound ditemukan adanya perlemakan hati, malaise/fatigability dan dispepsia. Pada sebuah studi yang melibatkan 100 orang pasien, dispepsia adalah keluhan utama yang dialami penderita. Sebagian besar pasien (37 orang) mengalami dispepsia, 36 pasien mengalami malaise/fatigability, dan 22 orang mengalami peningkatan transaminase. 

Kadang NAFLD tidak disertai gejala klinis. Sebuah penelitian melibatkan 328 personil Angkatan Darat Amerika, yang merupakan pasien rawat jalan, tanpa gejala-gejala NAFLD. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa 40% pasien mengalami NAFLD, NASH 13% (30% dari NAFLD) dan fibrosis tingkat lanjut 13% (23% NAFLD). Penelitian lain di Inggris melibatkan 1118 pasien asimptomatis dengan risiko rendah penyakit hati kronis, menemukan kasus NAFLD pada 26% pasien, ALD 25% dan fibrosis tingkat lanjut 2% (8% dari kasus NAFLD).

Update patoghenesis

“NAFLD dikaitkan dengan obesitas dan resistensi insulin, dan merupakan konsekuensi sindroma metabolik pada hati,” kata dr. Jian Gao Fan dari Shanghai Jiao Tong University, Cina. Ia menambahkan bahwa perlemakan hati merupakan akibat dari ketidakseimbangan, antara pemasukan dan pengeluaran lemak.

Dua presentasi histologis NAFLD adalah perlemakan hati atau steatosis dan non alkohol steatohepatitis. Dengan perlemakan hati, infiltrasi lemak mengubah bentuk hepatosit, menyebabkan pembengkakan dan perubahan posisi nuclei ke sudut sel. “Balooning” ini mengindikasikan kerusakan dan degenerasi seluler. NASH adalah bentuk progresif dari NAFLD, yang ditandai peradangan dan nekrosis hepatosit, dan bisa berkembang menjadi sirosis.

Mekanisme pasti patologi NAFLD tidak diketahui. Beberapa hipotesa menduga bahwa kerusakan hari dipengaruhi banyak faktor. Hipotesa “multi hit” diajukan sebagai patologi NAFLD. Serangan, atau ‘hit’ pertama berasal dari resistensi insulin.Hal itu menyebabkan peningkatan asam lemak, yang menyebabkan infiltrasi lemak ke hati atau steatosis. Serangan ini berlanjut dan meningkatkan asam lemak, yang pada akhirnya menyebabkan apoptosis, atau kematian sel, dari hepatosit.

Hipotesa lain menyatakan bahwa setelah serangan pertama dengan resistensi insulin dan infiltrasi lemak, serangan kedua berasal dari endotoksin dari usus dan jaringan adipose yang dapat menyebabkan progresi NASH. Hipotesa ‘multi pararel hit’ mengatakan bahwa banyak serangan diarahkan pada hati secara bersamaan, menyebabkan infiltrasi lemak dan inflamasi hepatika.

Apa pun hipotesanya, kerusakan liver yang progresif di tingkat seluler tampaknya berakar dari kombinasi resistensi insulin dan deposit lemak di hati yang disebabkan oleh obesitas. Tidak sepenuhnya jelas, apa yang menyebabkan progresi dari NAFLD menjadi NASH, meski resistensi insulin tampak menjadi penanda berawalnya penyakit liver dan progresinya menjadi NASH. Faktor risiko lainnya untuk progresi meliputi peningkatan berat badan, bertambahnya usia dan rasio aspartate aminotransferase/alanine transaminase (AST/ALT) > 1 (normal < 1).

Deposit iron di hati atau hemokromatosis, dapat juga menjadi faktor penyebab progresi penyakit. Peran akumulasi iron telah ditegakkan pada penyakit hati kronis lain, tapi perannya pada NAFLD dan NASH masih belum jelas. Ada penelitian yang menghubungkan NAFLD berat dengan deposit iron, yang terjadi secara ekslusif dalam sistim retikuloendotelial. Sementara bentuk yang lebih ringan dihubungkan dengan akumulasi iron secara ekslusif dalam hepatosit.

Selain itu, faktor genetik untuk terjadinya sindroma metabolik juga dihubungkan dengan berkembangnya NAFLD. Faktor-faktor yang cenderung ada dalam keluarga meliputi obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, kadar triglisreida tinggi dan kadar HDL rendah. Faktor genetik NAFLD terkait komorbiditas ini, juga dimediasi oleh gaya hidup dan lingkungan. Terutama pola makan dan olah raga.

NAFLD dan NASH

Banyak penelitian yang menghubungkan NAFLD dan NASH. Pada penelitian NASH CRN, yang melibatkan 679 penderita NAFLD, menunjukkan bahwa ada 20% yang menderita steatosis dan 59% mendeita NASH. Penelitian lain, CYTOL 2002, memperlihatkan bahwa dari 248 pasien yang dilibatkan, 45% mengalami statosis dan 55% menderita NASH. Kemudian penelitian EKSTENDT yang melibatkan 129 pasien NAFLD, memperlihatkan ada 45% menderita steartosis dan 55% menderita NASH.

Akan ada dua jenis penampilan histologis penderita NAFLD. Pertama adalah steatohepatitis, yang akan berprogresi dengan cepat menjadi sirosis. Kedua steatosis, yang berkembang lambat menjadi sirtosis. Namun, publikasi dari Pais di jurnal Hepatology tahun 2013 menunjukkan, perkembangan steatosis tidak menutup kemungkinan menjadi steatohepatitis, yang pada akhirnya mempercepat terjadinya sirosis. Ini terjadi jika ada pemburukan faktor risiko metabolik atau ada kemungkian kesalahan diagnosa.

Seorang penderita steatosis memiliki peluang hidup yang sama dengan populasi umum. Tapi penderita NASH memiliki peluang hidup yang lebih kecil dibanding populasi umum, mengalami peningkatan mortalitas terkait penyakit liver, kematian kardiovaskular dan berisiko tinggi mengalami sirosis.

Di Amerika berdasarkan penelitian Charlton dan dipublikasikan di Gastroenterology tahun 2011, ada peningkatan tindakan transplantai karena NASH. NASH meningkat dari 1,2% menjadi 9,7% di tahun 2009. NASH menempati urutan ketiga sebagai indikasi dilakukannya transplantasi hati di Amerika.

Ada beberapa faktor risiko yang mempercepat perkembangan sirosis pada penderita NASH. Yaitu berusia di atas 45 tahun, menderita diabetes melitus tipe 2, memiliki kadar ALT atau AST/ALT >1, ditemukan Maloris Hyaline Bodies, steatosis signifikan >40%, fibrosis nekroinflamasi dini, degenerasi ballooning dan nekrosis, serta mengidap hepatitis C.

BACA JUGA RESIKO PENYAKIT HATI PADA OBESITAS1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.