Resiko Penyakit Hati pada Obesitas1 | ethicaldigest

Resiko Penyakit Hati pada Obesitas1

Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) adalah suatu gangguan pada hati yang meliputi berbagai macam kondisi. Mulai dari perlemakan hati sederhana sampai non-alcoholic steatohepatitis (NASH) dengan atau tanpa fibrosis, sampai sirosis dan komplikasinya (seperti hipertensi portal dan karsinoma hepatoselular), yang terjadi pada pasien yang tidak mengonsumsi alkohol atau sedikit mengonsumsi alkohol (≤30 g/hari untuk pria, ≤20 g/hari untuk wanita).

Jumlah kejadian penyakit ini cukup tinggi di Asia Pasifik. Data dari beberapa publikasi di jurnal internasional menyebutkan, Indonesia memiliki angka kejadian NAFLD sebesar 20-30%, Srilangka 18-30%, Pakistan 15-20%, dan Bangladesh sekitar 10-20%. Sementara sebuah penelitian di Jepang memperlihatkan bahwa angka kejadian NAFLD beragam, antara 31-86 kasus per 1000 orang pertahun.

“NAFLD adalah masalah kesehatan yang angkanya mengalami pertumbuhan. Diderita oleh sepertiga orang dewasa,” kata dr. Lai Wei, dari Peking University Hepatology Institute, Cina, pada konfrensi APASL di Jakarta, 29 November-1 Desember 2013. “Saat ini, NAFLD dianggap sebagai penyakit liver kronis utama. Tidak hanya di negara-negara barat, tapi juga di Asia,” tambahnya. Ia mengestimasi, jumlah prevalensi NAFLD di Asia saat ini berkisar 5-30%. 

“Perubahan gaya hidup menjadi kebarat-baratan dan perubahan pola makan, meningkatkan prevalensi NAFLD di Asia dalam beberapa dekade terakhir,” kata dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH dari Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Indonesia, Jakarta. “Orang tidak saja akan menderita gangguan hati karena NAFLD, tapi juga penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan Hipertensi,” kata dr. Irsan.

Angka kejadian diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke akan meningkat secara bersamaan dengan prevalensi NAFLD, dan beban biaya pelayanan kesehatan akan meningkat dalam beberapa dekade yang akan datang.

Dr. Irsan Hasan melihat adanya hubungan antara prevalensi NAFLD dengan status sosial ekonomi. Dinyatakan, ketika pendapatan meningkat akan terjadi peningkatan jumlah penderita obesitas, yang berdampak pada terjadinya peningkatan angka kejadian NAFLD. Contohnya adalah di Jepang dan Korea, dengan prevalensi NAFLD 9-30% dan 18%. Sedangkan di Sarawak dan Thailand, angka prevalensinya  44,2% dan 35,9%. 

Ada penelitian yang dilakukan dr. Irsan Hasan dan dipublikasikan di Journal Gastroenterology and Hepatology tahun 2012. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian penyakit tidak menular di daerah sub urban, bekerja sama dengan WHO dan Kementrian Kesehatan RI. Sampel yang digunakan adalah 55.000 orang, berusia 25-65 tahun.

Hasilnya memperlihatkan, berdasakan jenis kelamin, perlemakan hati lebih banyak dialami pria (65%), dibanding wanita (35%). Sebagian besar penderita NAFLD pada penelitian ini berusia 41-55 tahun, diikuti 56-65 tahun  dan 25-40 tahun. Faktor risiko berkembangnya NAFLD adalah obesitas, diabetes dan hiperlipidemia.

Faktor risiko

Ada beberapa faktor risiko NAFLD dan NASH, yaitu: jenis kelamin pria, menderita diabetes tipe 2, menderita obesitas, hipertrigliseridemia, penurunan berat badan mencolok dalam waktu singkat, operasi bypass jejuni-ileal dan total parenteral nutrition. “Seseorang yang menderita diabetes tipe 2, berisiko 2,6 kali menderita NASH dibanding orang normal. Sedangkan, penderita obesitas berisiko 6 kali menderita NASH,” kata Necati Ormeci, Presiden Turkish Gastroenterology Association.

Pada suatu publikasi, Mann dan Whitney memperlihatkan, kadar insulin puasa pada penderita NASH lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Begitu juga dengan HOMA-IR, di mana penderita NAFLD memiliki kadar HOMA-IR yang lebih tinggi dari orang normal.

Sebuah penelitian terbaru dari Loomba P memperlihatkan, prevalensi NAFLD meningkat di negara-negara di mana prevalensi obesitas tinggi, seperti di Amerika, Israel, Korea dan Taiwan. Sementara di Cina dan Itali, di mana angka penderita obesitas rendah, angka kejadian NAFLD lebih rendah. Hasil penelitian ini relevan, mengingat obesitas adalah salah satu faktor risiko berkembangnya NAFLD. Tapi, apakah semua penderita NAFLD adalah orang dengan obesitas?

Populsi non obesitas di negara berkembang memiliki prevalensi yang tinggi, mengalami perlemakan hati dan penyakit hati signifikan. Sebuah penelitian prospektif yang dipublikasikan di jurnal Hepatology tahun 2010 menunjukkan, yang non obesitas pun punya risiko menderita NAFLD. Penelitian ini  melibatkan 1911 pasien dengan 87% memiliki indeks masa tubuh kurang dari 23kg/m2, 11% memiliki obesitas abdominal dan 134% memiliki disglikemia.

Dari penelitian tersebut terlihat ada 8,7% orang dengan steatosis, 2,3% memiliki steatosis dengan kadar ALT yang tinggi dan 0,2% menderita sirosis. Sebanyak 40% penderita NAFLD memiliki indeks masa tubuh 18,5-23kg/m2, 54% tidak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas abdominal.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.