Resiko DE Penderita Diabetes | ethicaldigest

Resiko DE Penderita Diabetes

Penderita diabetes, pria mau pun wanita, seringkali mengalami komplikasi berupa disfungsi seksual. Dampak ini terutama banyak dirasakan oleh kaum pria, karena hasrat seksual yang masih belum padam pada usia lanjut, dibanding wanita dengan usia yang sama Disfungsi seksual atau disfungsi ereksi yang terjadi, berkaitan erat dengan disfungsi endotel di penis.

Disfungsi endotel sendiri dapat tercetus sejak penderita memiliki status prediabetes, mengakibatkan berkembangnya kerusakan end-organ akibat gangguan vaskuler. Ini disebabkan oleh kombinasi antara inflamasi akibat hiperglikemi dan advanced glycosylation end product (AGE) dan terdapatnya aterosklerosis.

Prevalensi terjadinya disfungsi ereksi pada pria penderita diabetes sangat bervariasi, mulai dari 25% sampai 75%. Pria dengan diabetes memiliki kemungkinan mengalami disfungsi ereksi tiga kali lipat, dibanding pria yang sehat. Disfungsi ereksi juga terjadi lebih cepat, yaitu sekitar 10 sampai 15 tahun.

Menurut Dr. dr. Nur Rasyid,SpU,  Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM, Jakarta, ada dua hal yang sering muncul bersama dan menimbulkan disfungsi ereksi, yaitu gangguan relaksasi otot polos pembuluh darah, dan oklusi aterosklerotik pada arteri kavernosa. Untuk menurunkan kadar kalsium intraseluler, NO akan menyebabkan relaksasi otot polos di kavernosa dan menimbulkan ereksi. Ini kemudian akan dipengaruhi oleh phosphodiesterase 5 (PDE5), yang memecah cGMP (efektor NO) untuk membatasi proses berlangsungnya ereksi.

PDE5 inhibitor akan memperkuat terjadinya ereksi, dengan mengurangi pemecahan cGMP dan meningkatkan relaksasi yang disebabkan oleh NO. PDE5 inhibitor juga memiliki manfaat terhadap inflamasi yang terjadi pada disfungsi endotel melalui inhibisi aktivitas NADPH oksidase. Bahkan PDE5 inhibitor juga memberi keuntungan pada pasien dengan disfungsi endotel sistemik, seperti yang terjadi pada hipertensi, penyakit kardiovaskuler dan diabetes.

“Penggunaan PDE5 inhibitor secara rutin, diduga dapat memperbaiki disfungsi endotel yang ada secara permanen, bahkan setelah penggunaan obat dihentikan,” tambahnya. Ini memungkinkan perbaikan terhadap fungsi seksual penderita diabetes dengan disfungsi ereksi. Lebih jauh, dapat memperbaiki fungsi endotel secara sistemik, meski masih dibutuhkan studi lebih lanjut.

Jika dengan obat oral tidak membuahkan hasil, dapat dilakukan terapi dengan alprostadil. Alprostadil merupakan prostaglandin E1 yang menimbulkan relaksasi otot polos dan vasodilatasi dengan bekerja pada adenylate cyclase, untuk meningkatkan konsentrasi cAMP. Alprostadil diberikan secara intrauretra, di mana ia akan diserap dan dihantarkan ke seluruh jaringan penis. Efek samping Alprostadil intrauretra yang sering dijumpai, adalah nyeri pada penis akibat sensitisasi serat saraf yang disebabkan oleh obat.

Menurut Dr. Nur Rasyid, obat vasoaktif juga dapat disuntikkan secara intrakavernosa. Ini merupakan terapi lini kedua dari disfungsi ereksi, bagi mereka yang tidak merespon terhadap pemberian obat oral. Cara ini sangat efektif namun tidak nyaman, sehingga memiliki angka drop out  yang tinggi. Obat yang digunakan antara lain papaverin hydrochloride dan phentolamine mesylate.

Papaverin merupakan PDE inhibitor nonspesifik. Kedua obat ini juga dapat diberikan secara bersama dalam bentuk campuran, untuk menghasilkan respon yang adekuat. Belakangan, terapi secara intrakavernosa juga banyak dilakukan menggunakan Alprostadil, mengingat efektivitasnya yang lebih baik dan efek samping yang lebih sedikit.

Cara lain adalah dengan vacuum constriction devices (VCD). Alat ini bekerja cukup baik, pada penderita disfungsi ereksi dengan diabetes. Alat terbuat dari silinder akrilik yang diletakkan pada penis. Kemudian, alat dipompa agar tercipta kondisi vacuum di dalam silinder, sehingga timbul ereksi pada penis.

Begitu terjadi ereksi, pada pangkal penis diletakkan cincin atau karet khusus untuk mempertahankan ereksi. Alternatif lain adalah dengan implan penis, serta psikoterapi bagi pasien. Psikoterapi sendiri dapat memberi dampak signifikan bagi terciptanya ereksi yang lebih baik.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.