Perawatan Paliatif Pasien Kanker | ethicaldigest

Perawatan Paliatif Pasien Kanker

Kemajuan teknologi banyak membantu bidang kedokteran dan cukup memberikan manfaat dalam diagnostik dan terapi kanker. Tapi, hal tersebut kadang membuat dokter menjadi kurang dalam memandang berbagai aspek manusia saat menghadapi pasien. Dokter, menurut Prof. dr. R. Sunaryadi Tejawinata, Sp.THT-KL(K) dari RS dr. Soetomo, Surabaya, seharusnya tidak hanya melihat pasien dari penyakitnya saja, tapi harus melihatnya sebagai manusia secara utuh. Inilah yang menjadi dasar berkembangnya perawatan paliatif di seluruh dunia.

Berdasarkan buku Pedoman Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna, perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif guna meringankan beban penderita kanker, terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Jadi, penanganan kanker tidak lagi hanya mengobati penyakitnya, tetapi juga memperhatikan keluhan-keluhan yang dialami pasien, guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

Ketika kemoterapi pertama kali diperkenalkan di tahun 1960-an sebagai pengobatan kanker, dunia sangat excited dan berharap banyak terhadap terapi ini. Tapi,  ternyata banyak pasien kanker yang justru meninggal karena efeknya. “Saat itu, dunia kedokteran dikritik habis-habisan bahwa dokter tidak memperhatikan penderitaan pasien,” kata dr. Maria A. Witjaksono, MPALLC., dari Rumah Sakit Kanker Dharmais.

 

Layanan Perawatan Paliatif

Insiden penyakit kanker di Indonesia, hampir 50 persennya datang dalam stadium lanjut. Selain itu, tiap tahunnya di Indonesia terdapat sekitar 238.000 penderita kanker baru. Karena itu Indonesia berada di urutan ke 4 setelah China, India, dan Amerika Serikat. Penderita yang datang dalam stadium lanjut, biasanya sulit untuk dapat disembuhkan. Penderitaan pasien semakin hari semakin berat, begitu juga dengan keluarganya yang harus mengalami masa akhir hidup penderita.

Perawatan paliatif merupakan pendekatan yang efektif dan relatif lebih murah, bagi pasien yang memiliki penyakit dengan stadium lanjut. Selain untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya, terapi paliatif bisa mengantisipasi masalah yang mungkin timbul dan meminimalkan dampak progesifitas penyakit, sehingga pasien bisa berfungsi semaksimal mungkin sesuai dengan kondisinya sebelum meninggal.

Beberapa negara maju telah memiliki sistem kesehatan dengan dana yang besar, dalam program pencegahan kanker yang ditujukan pada penyembuhan (kuratif), pencegahan (preventif), primer dan skunder (skrining dan deteksi dini). Namun, tetap saja perawatan paliatif menjadi prioritas dan dijadikan hak bagi pasien yang tidak bisa disembuhkan. Jenis layanan paliatif yang dapat diberikan pada pasien kanker antara lain berupa :

  • Konsultasi layanan paliatif
  • Penanggulangan nyeri
  • Penanggulangan keluhan lain penyerta penyakit primer
  • Bimbingan psikologis, sosial & spiritual
  • Persiapan kemampuan keluarga untuk perawatan pasien di rumah
  • Kunjungan rumah berkala, sesuai kebutuhan pasien dan keluarga
  • Bimbingan perawatan untuk pasien dan keluarga
  • Asuhan keperawatan terhadap pasien dengan: luka, gastrostomi, colostomy, selang makan (NGT), kateter dll. Membantu penyediaan sarana / alat bantu kesehatan : tabung O2, suction, nebulizer, kasur dekubitus, dan lain-lain
  • Membantu penyediaan tenaga perawat home care
  • Membantu penyediaan pelaku rawat/caregiver
  • Membantu kesiapan menghadapi akhir hayat dengan tenang dan dalam iman
  • Memberi dukungan masa duka cita
  • Konsultasi melalui telepon. 

           

Tujuan Perawatan Paliatif

Banyak diagnosis kanker yang dianggap sebagai vonis mati, atau akhir dari segalanya sehingga penderita mengalami kecemasan atau depresi berat karena merasa kehilangan harapan, kehilangan kebebasan beraktivitas, ketidakpastian, ketergantungan dan proses pengobatan yang memakan waktu lama dan mengakibatkan stres psikologis.

Selain itu, pada penderitaan juga bisa muncul yang disebabkan karena gejala fisik tidak mendapat penanganan yang memadai. Gejala fisik tersebut bisa terjadi akibat penyakitnya itu sendiri, seperti nyeri, penurunan berat badan, luka berbau, sesak nafas dan sebagainya. Gejala fisik juga bisa timbul akibat pengobatan yang sedang dilakukan. Misalnya saja kemoterapi dan radiasi, yang memberikan efek samping.

Kesulitan sosial juga terjadi pada pasien kanker. Misalnya, terjadi masalah hubungan interpersonal yang menyebabkan munculnya reaksi pasien dan reaksi keluarga, akibat dari penyakitnya sehingga merasa perubahan peran dalam keluarga, kesulitan keuangan, penyakit yang dirahasiakan. Terkadang muncul anggapan bahwa penyakitnya datang karena akibat hukuman, menyalahkan diri sendiri dan merasa hidup tak berguna.

Keinginan penderita kanker adalah terbebas dari keluhan fisik, yang menimbulkan penderitaan seperti nyeri. Pada perawatan paliatif, hal yang dituju adalah memperhatikan hal realistik yang akan dicapai oleh pasien. Perawatan paliatif menawarkan berbagai layanan dan tujuan yang konkrit, yaitu membantu dari penderitaan, mengobati rasa sakit dan gejala-gejala lainnya, perawatan psikologis dan spiritual, sistem dukungan untuk membantu individu yang hidup aktif, dan sistem pendukung untuk mempertahankan dan merehabilitasi keluarga individu.

“Bagi pasien yang sudah tidak bisa disembuhkan, jangan dibiarkan hidupnya hanya sekedar hidup menderita. Semua manusia akan meninggal, maka tindakan yang kita lakukan harus benar-benar bisa membuat hidup pasien berkualitas. Penelitian di luar negeri menyatakan bahwa pasien yang akan meninggal lebih memilih berada di tengah keluarga, dibandingkan di rumah sakit. Karena, saat meninggal yang dibutuhkan hanya keiklasan dan doa, bukan menjadi beban karena banyak menghabiskan biaya,“ kata dr. Maria.  

 

Pencegahan dan Keluhan Lain Pasien Kanker

Pencegahan keluhan fisik pada pasien kanker, meliputi dan melibatkan berbagai modalitas sesuai penyebabnya mulai dari tindakan operasi, radiasi, kemoterapi, fisioterapi dan dengan pemakaian obat-obatan. Keluhan fisik yang sering timbul adalah nyeri, sistem pernapasan, sistem pencernaan, saluran kemih, luka dekubitus, luka kanker, dan gangguan pada kulit. 

Pasien kanker sering mengalami rasa nyeri dan merupakan kelainan yang mempengaruhi kualitas hidup pasien, dan berdampak serius bagi pasien dan keluarga. Masalah nyeri kanker sudah menjadi masalah besar di dunia, juga di Indonesia. Saat ini, ada 8 juta pasien kanker di Ameria Serikat, termasuk memiliki riwayat kanker.

Sekitar 90% nyeri kanker, sebetulnya bisa diatasi secara efektif dengan cara yang relatif sederhana, tapi kenyataanya masih ada pasien yang nyeri kanker tidak diobati dengan benar. Pengelolaan nyeri kanker dengan tepat dapat  meningkatkan kualitas hidup pasien selama menjalani penyakit kankernya.

Perawatan paliatif mengobati ke bagian gejala yang muncul dan apa yang dirasakan oleh pasien. Misalnya pada pasien kanker payudara yang menimbulkan nyeri, obatnya bisa saja menggunakan kemoterapi untuk mengurangi. Tapi kenyataannya, banyak pasien saat bertemu dengan dokter ahli kanker justru sudah takut lebih dulu dengan kemoterapi dan operasinya.

“Pada perawatan paliatif, kita akan berikan konsultasi mengenai nyerinya, bahwa nyeri itu sangat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup. Setelah pasien bisa menerima, maka akan mengerti bahwa kemoterapi itu penting,“ katanya 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.