Obesitas, Risiko LBP2 | ethicaldigest

Obesitas, Risiko LBP2

Vismara Luca tahun 2010, mengatakan, terdapat peningkatan kejadian LBP seiring  meningkatnya IMT. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan beban pada orang dengan IMT tinggi di bagian lumbosakral pada tulang belakang. “Tulang belakang memiliki fungsi mempertahankan posisi tegak pada tubuh manusia. Tetapi tidak hanya tulang yang berperan, otot berperan untuk membantu tulang belakang dalam mempertahankan posisi dan sebagai motor penggerak,” jelasnya. Kaki hanya mampu menahan beban seberat 2 k. Pada orang dengan IMT tinggi, beban akan bertambah dan tulang belakang mulai tidak stabil.

Bila seseorang kelebihan berat badan dan lemak disalurkan ke daerah perut, berarti kerja lumbal bertambah. Saat berat badan bertambah, tulang belakang tertekan untuk menahan beban tersebut sehingga mudah terjadi kerusakan struktur tulang dan bahaya bagi tulang belakang. “Yang paling berbahaya adalah daerah vertebra lumbal,” jelasnya.

Sebuah penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dengan responden 102 orang  diambil dengan teknik simple random sampling. Usia responden yang mengalami nyeri punggung bawah, sebagian besar usia 50-59 tahun. Dikatakan oleh peneliti, hal ini dapat terjadi karena usia tersebut tergolong usia produktif, dipengaruhi lingkungan tempat kerja, aktivitas selama bekerja seperti pekerjaan fisik berat, posisi duduk selama bekerja, getaran, dan pengangkatan barang. Serta mulai terjadi penurunan fungsi pada tubuh, terutama di bagian tulang yang sudah tidak seelastis saat masih  muda. Dalam penelitian ini perempuan lebih banyak mengalami LBP dibanding laki-laki, karena pada perempuan terjadi penurunan hormon estrogen yang berdampak pada penurunan kepadatan tulang.

Dari 102 responden yang ikut dalam penelitian, 51 orang mengalami LBP dan 51 orang tidak mengalami LBP. Responden yang tidak menderita low back pain digunakan sebagai kontrol terdiri dari stroke, myalgia, osteoarthritis, vertigo, tension headache, cephalgia dan bellpalsy. Penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov; didapatkan hasil p= 0,000 dengan nilai p < 0,005, dapat diartikan terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan angka kejadian LBP. Berarti H1 diterima dan H0 ditolak. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian case control yang dilakukan Mohammed Halalsheh et al tahun 2000 di Marka Medical Center, Jordan, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara IMT dan LBP pada pasien dengan LBP (p=0,001 dan r = (+) 0,299).

Penelitian lain yang dilakukan Hershkovick et al di Israel tahun 2011, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara peningkatan IMT dengan LBP pada dewasa muda, dengan perbedaan nilai p tidak terpaut jauh berdasar jenis kelaminnya ( p= 0,001). Hasil penelitian ini berbeda dengan  yang didapat Tuti Marinus tahun 2011, dari penelitian cross sectional di RSUD Dr. Soedarso Pontianak, yang menunjukkan tidak ada hubungan antara peningkatan indeks masa tubuh dengan LBP.

Penelitian lain oleh Mangwani dan kawan-kawan dengan menggunakan kohort prospective di Inggris menunjukkan, indeks massa tubuh tidak mempengaruhi nyeri punggung pada pasien fisioterapi dengan p= 0,349 dan r = (-) 0,083. Semantara penelitian oleh Brook dan kawan-kawan tahun 2013 terhadap penderita LBP cronic yang telah menjalani terapi menyatakan, tidak terdapat hubungan IMT dengan nyeri punggung yang dirasakan dengan p = 0,349 r= (+) 0,083. Menurutnya, IMT tidak signifikan dan tidak merupakan preduktor akibat latihan terhadap perubahan nyeri LBP cronic.

Hubungan obesitas dan gangguan fungsional tulang belakang dengan kelemahan dan kekakuan otot lumbal, dapat menyebabkan LBP. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya fleksibilitas rendah dari tulang belakang dan meningkatnya kekakuan pada bagian punggung (Cimolin et al, 2011). Seseorang dengan kelebihan berat badan, maka lemak akan disalurkan ke daerah abdomen dan dapat terjadi penimbunan, yang berarti kerja lumbal bertambah untuk menopang beban. Ketika berat badan semakin meningkat, tulang belakang akan semakin tertekan untuk menerima beban, sehingga memudahkan terjadinya kerusakan dan bahaya pada struktur tulang tersebut.

Lemak yang ada di daerah abdomen terdiri dari lemak subkutan dan lemak intraabdominal, yang dapat diketahui dengan pemeriksaan penunjang. Lemak subkutan merupakan sentral dari obesitas, dan memiliki korelasi dengan resistensi insulin. Tetapi juga memiliki perbedaan yang bermakna dengan lemak viseralnya. Adanya penimbunan lemak di daerah tersebut, membuat tekanan meningkat karena ada beban ekstra sehingga meningkatkan risiko nyeri punggung bawah.

Peningkatan IMT dapat menyebabkan berbagai mekanisme terjadinya LBP. Mekanisme pertama, adalah terjadinya cidera secara tidak sengaja. Kedua, overweight dan obesitas menyebabkan peradangan yang bersifat kronik, meningkatkan produksi sitokin proinflamasi dan reaktan fase akut yang dapat menyebabkan nyeri. Ketiga, ada hubungan yang kuat antara nyeri punggung bawah dengan hipertensi dan disiplidemia. Keempat, overweight dan obesitas berhubungan dengan degenerasi tulang, mobilitas tulang belakang menurun dengan adanya peningkatan berat badan.

Penderita obesitas umumnya mengalami peningkatan kadar kolesterol dan low density lipoprotein (LDL), dan terjadi penurunan high density lipoprotein (HDL). Peningkatan kadar profil lipid dalam darah, dapat terjadi karena stres, kecemasan, kondisi emosi yang tidak stabil. Konsumsi kafein juga dapat mempengaruhi kadar asam lemak dalam plasma. Hal ini dapat berdampak pada meningkatnya kadar trigliserid dan kolesterol yang diangkut oleh VLDL, sehingga profil lipid meningkat.

Sangat disarankan untuk menurunkan kadar profil lipid, hal ini dapat dilakukan dengan penurunan berat badan terutama pada penderita obesitas sentral. Dengan penurunan berat badan, kadar serum trigliserid akan menurun. Hal ini dapat meningkatkan kadar HDL, menurunkan kolesterol total dan LDL serta mengurangi risiko terjadinya PJK dan diabetes mellitus. Cara lain dalam menurunkan kadar profil lipid, menurut Adam (2009), adalah dengan melakukan diet rendah lemak dan karbohidrat, konsumsi lemak sehat, mengonsumsi makanan yang mengandung serat, membatasi konsumsi kolesterol, hindari konsumsi alkohol, dan melakukan aktivitas fisik atau olahraga.

“Overwight dan obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP,” jelasnya. LBP dapat terjadi akibat gaya hidup tidak sehat dan akibat kegemukan. Hal ini dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup dan meningkatkan aktivitas fisik. Penderita LBP usia produktif terutama usia diatas 40 tahun, harus mengurangi sedikit aktivitas duduk dan aktivitas yang berat, karena tulang sudah tidak seelastis saat masih muda. Penderita LBP usia di atas 20 tahun, dianjurkan mengonsumsi susu tinggi kalsium, dengan harapan mampu mengurangi pengeroposan tulang sehingga tidak memperberat LBP.

Obesitas, Risiko LBP1

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.