Obat Gangguan Bipolar | ethicaldigest

Obat Gangguan Bipolar

Penatalaksanaan gangguan bipolar memiliki banyak tantangan, karena di dalamya menyangkut banyak faktor. Disamping itu, sifat gangguan bipolar yang bermacam-macam, perjalanan penyakit yang terjadi secara episodic yang kemudian muncul tiba-tiba tanpa dugaan, pengaruh lingkungan yang memperberat keadaan, sifat bawaan individu yang cenderung mudah terombang-ambing dan terpengaruh, membuat penatalaksanaan gangguan bipolar memerlukan kesabaran, ketekunan, dan optimisme tersendiri. Juga sifat pantang menyerah dalam menjalani terapi.

Menurut Prof. Tuti, strategi terapi yang diberikan pada pasien tergantung kondisinya. Ada beberapa fase pengobatan, yaitu fase terapi akut, fase terapi berkelanjutan dan fase terapi pemeliharaan, dengan tujuan masing-masing. Tujuan terapi fase akut adalah mengendalikan gejala, sehingga tercapai perbaikan. Menurut Prof. Tuti, pada fase ini penting sekali diberikan obat mood stabilizer dan dilakukan psikoedukasi tentang apa itu gangguan bipolar.

Sementara pada fase terapi berkelanjutan (continuation treatment phase), umumnya memerlukan waktu sekitar 2-6 bulan. Tetapi bisa lebih singkat atau lebih lama, tergantung dari sifat individu pasien. Diharapkan, fase terapi ini bisa berakhir dengan recovery pada pasien. “Tetapi tidak selalu demikian. Kadang juga terjadi kekambuhan, sehingga harus kembali ke fase terapi akut,” ujar Prof Tuti. Sementara pada fase terapi pemeliharaan, tujuannya adalah memelihara suasana hati yang stabil, mencegah kekambuhan, dan memberi kemudahan pada pasien.

Pengobatan gangguan bipolar, secara langsung terkait pada fase episodenya, dan derajat keparahan pada fase tersebut. Apabila seseorang dengan depresi ekstrim dan kemungkinan menunjukkan perilaku bunuh diri, pasien ini memerlukan rawat inap. Sebaliknya, jika datang dengan depresi ringan dan pasien masih dapat melakukan aktifvtas, bisa dilakukan dengan rawat jalan. Dokter atau psikiater akan melakukan evaluasi diagnosa secara lengkap, berdiskusi tentang riwayat gangguan bipolar atau melihat gangguan kejiwaan lain, serta menyimpan hasil rekam medis lengkap sebagai data untuk menegakkan diagnosis.

Kesalahan dan keterlambatan dalam menegakkan diagnosis gangguan bipolar sering terjadi, menjadikan terapi yang akurat terlambat diterima oleh pasien. Oleh karena itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) membuat tuntunan untuk gangguan bipolar, yang dapat digunakan secara nasional. Tuntunan ini bertujuan agar diagnosis yang akurat dapat ditegakkan sedini mungkin, supaya penatalaksanaan yang komprehensif dapat segera diberikan kepada pasien dengan gangguan bipolar.

Penatalaksanaan yang komprehensif, terdiri dari intervensi farmakologik dan nonfarmakologik. Tuntunan ini terutama memberikan arahan tentang penggunaan psikofarmakologi pada pasien gangguan bipolar. Pemilihan psikofarmakologi berdasarkan penilaian kritis terhadap obat-obatan yang digunakan pada pasien. Berikut adalah obat-obatan yang dapat digunakan pada kasus gangguan bipolar, di antaranya:

  1. Litium
    Litium merupakan salah satu obat yang dapat digunakan sebagai terapi mania akut, dan sudah digunakan cukup lama uakni sejak 50 tahun yang lalu. Beberapa data penelitian yang ada menyatakan bahwa obat ini lebih superior dibandingkan dengan placebo.

    Secara farmakologis obat ini disekresikan dalam bentuk utuh melalui ginjal, dan dalam jumlah kecil ia terikat dengan protein. Indikasi litium adalah pada episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri. Juga bermanfaat sebagai terapi rumatan.

    Pemberian dosis litium untuk kasus mania akut, dapat dimaksimalkan dengan mentitrasi dosis sehingga mencapai dosis terapeutik antara 1.0 – 1.4 mEq/L, dan umumnya perbaikan akan terjadi dalam 7-14 hari.

    Dosis awal yang diberikan pada pasien adalah 20 mg/kg/hari. Sementara dosis untuk mengatasi keadaan akut, umumnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan terapi rumatan. Pada terapi rumatan, dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Malah, gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis > 1,5 mEq/L.

    Efek samping yang dilaporkan dari penggunaan obat ini di antaranya mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat badan, penumpulan kognitif. Kondisi lain seperti neurotoksisitas, delirium dan ensefalopati, dapat pula terjadi akibat penggunaan litium. Neurotoksisitas bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, deficit memori dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi lithium, hemodilaisis harus segera dilakukan.

    Pasien yang mengonsumsi litium, dapat mengalami poliuri. Oleh karena itu pasien dianjurkan untuk banyak minum air putih.

    Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid pasien, harus dilakukan pemeriksaan. Pada pasien dengan usia di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG juga harus dilakukan. Penting juga untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal pada pasien setiap 2-3 bulan, dan untuk fungsi tiroid dilakukan pemeriksaan dalam 6 bulan pertama. Dan setelah 6 bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau jika terdapat indikasi.

    Beberapa data yang ada menunjukkan, penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin, dengan kejadian yang meningkat bila janin terpapar pada periode awal kehamilan. Pada wanita dengan derajat gangguan bipolar berat yang mendapatkan rumatan litium, bisa melanjutkan penggunaan litium pada kehamilan jika ada indikasi. “Namun kadar litium dalam darah harus selalu dipantau dengan seksama,” ujar Prof. Tuti. USG juga harus dilakukan, untuk memantau kondisi janin. Supervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater, juga harus dilakukan.
     

  2. Valproat
    Valproat merupakan obat antiepilepsi, yang disetujuai FDA sebagai anti mania. Valproat tersedia dalam beberapa bentuk sediaan:
    - Preparat oral; sodium divalproat, tablet salut, dengan proporsi antara asam valproat dan sodium valproat adalah sama. Asam valproat, sodium valproate, sodium divalproate; kapsul yang mengandung partikel salut yang dapat dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dengan dosis sekali sehari.
    - Preparat intravena
    - Preparat supositoria

    Secara farmakologi, preparat ini terkait dengan protein. Mampu diserap dengan cepat setelah pemberian secara oral. Konsentrasi puncak plasma valproate sodium dan asam valproat dicapai dalam waktu 2 jam, sedangkan sodium divalproate dicapai dalam waktu 3-8 jam. Awitan absorbs divalproate lepas lambat, lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbs menjadi lambat bila obat diminum bersama dengan makanan. Ikatan valproate dengan protein meningkat, bila melakukan diet mengandung rendah lemak, dan menurun bila diet mengandung lemak tinggi.

    Dosis terapiutik untuk kondisi mania, dicapai bila konsentrasi valproate dalam serum berkisar antara 45-125 µg/mL. Untuk kasus GB II dan siklotimia, diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50 µg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250-500 mg/hari, dan dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45-125 µg/mL.

    Efek samping yang umumnya muncul pada pasien misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 µg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 µg/mL.

    Valproate evektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan, GB, mania skunder, GB yang tidak berrespons dengan penggunaan litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada usia lanjut.

    Valproate ditoleransi dengan baik. Efek samping yang bisa muncul di antaranya anoreksia, mual, muntah, diare, dyspepsia, peningkatan enzyme transaminase, sedasi dan tremor. Efek samping ini umumnya sering terjadi pada awal pengobatan dan berkurang dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam valproate dan valproat sodium, bila dibandingkan dengan tablet salut sodium divalproat.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.