Mewaspadai MDR dan XDR TB | ethicaldigest

Mewaspadai MDR dan XDR TB

Resistensi obat pada penyakit tuberkulosis, terutama multi drug resistant (MDR)-TB, merupakan masalah serius dalam pengobatan tuberkulosis, yang telah menyebabkan banyak kegagagalan pengobatan “Ini merupakan sebuah kondisi, di mana pasien TB mengalami resistensi terhadap beberapa jenis obat tuberkulosis lini pertama, yang paling poten untuk pengobatan TB, yaitu Rifampicin dan INH,” kata Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, SpP dari RS Persahabatan, Jakarta.

Menurut Dr. N. Arifin Nawas, Sp.P dari RS Persahabatan, ada beberapa pilihan strategi untuk mengatasi MDR-TB, yaitu:

  • Pengobatan terstandarisasi. Data DRS dari populasi pasien yang terwakilkan digunakan untuk mendisain regimen dasar, jika tidak ada data DST individual. Semua pasien dalam satu kelompok yang sama, mendapatkan regimen yang sama. Pasien suspek MDR-TB harus dikonfirmasi dengan DST.
  • Pengobatan empiris. Masing-masing regimen secara individual didisain berdasarkan riwayat pengobatan tuberkulosis sebelumnya, dan berdasarkan data DRS dari populasi pasien yang mewakilkan. Umumnya, regimen empiris disesuaikan ketika hasil DST sudah keluar. 
  • Pengobatan yang terindividualisasi/masing-masing regimen didisain berdasarkan riwayat pengobatan tuberkulosis sebelumnya dan hasil DST individual.

 

Namun, saat ini dilaporkan adanya extensively drug resistance (XDR-TB). Sebagaimana  ditunjukkan hasil penelitian di RS Persahabatan, dari 72 pasien MDR TB yang dilibatkan dalam penelitian tersebut, 5 di antaranya mengalami XDR-TB. “Pasien ini kita sebut pasien Extensively Drug Resistant (XDR) TB. Ini merupakan suatu kondisi, di mana pasien sudah mengalami multi drug resistance. Kemudian, pasien mengalami resistensi obat-obatan untuk MDR TB,” tutur dr. Dr. Erlina Burhan, MSc, SpP dari RS Persahabatan.

Untuk penanganan, dalam pengobatan dibedakan dengan MDR TB. Itu karena pada kasus XDR, pasien telah mengalami resistensi obat-obatan yang digunakan pada pasien MDR TB. Tapi dalam perawatan, prinsip pengendalian infeksinya sama dengan pasien TB yang lain. “Prinsip perawatan adalah, saat pasien datang untuk pertama kali, kita lakukan rawat inap hingga pasien stabil. Kemudian bisa dilanjutkan dengan rawat jalan,” kata dr. Erlina.

Dikatakan bahwa obat-obatan lini kedua ini sangat toksik. Umumnya, pasien mengalami gangguan pencernaan, halusinasi, insomnia, meningkatkan kadar asam urat dan penurunan kalium. Sehingga, dalam masa itu, kita memerlukan obat-obat lain untuk mengurangi efek toksik penggunaan obat-obatan TB lini ke dua ini.

Meski dinyatakan telah konversi, pasien harus terus meneruskan pengobatan selama 18 bulan. Meski hasil pemeriksaan pada dahak menunjukan TB negative, di paru atau saluran pernafasan masih terdapat kuma TB, sehingga pasien masih harus melakukan pengobatan hingga tahap akhir secara adekuat.

 

Pengelompokan obat TBC alternatif

  • Kelompok 1: agen oral lini pertama (isoniazid, rifampicin, ethambutol, pyrazinamide, rifambutin)
  • Kelompok  2: obat suntik (kanamycin; amikacin; capreomycin; streptomycin)
  • Kelompok  3: fluoroquinolon (moxifloxacin, levofloxacin; ofloxacin)
  • Kelompok 4: agen bakteriostatik lini kedua (esthionamide, protionamide, cycloserine, terizidone, para aminosalicylic acid)
  • Kelompok 5: agen dengan efikasi yang belum jelas (tidak direkomendasikan WHO untuk digunakan secara rutin pada pasien dengan MDR-TB): clofazimine; linezolide; amoxicilline/clavulanat; thioacetazoine; imipenem/cilastatin; isoniazide dosis tinggi; clarithromycin.

 

Menurut dr. N. Arifin Nawas, guideline pengobatan untuk pasien dengan XDR TB menganjurkan agen dalam kelompok 1 yang efektif. Jika masih gagal, tambahkan agen suntik yang masih ampuh untuk strain kuman yang ditangani dan gunakan dalam jangka waktu lama (12 bulan atau jika mungkin sepanjang pengobatan). Jika pasien sudah resisten terhadap semua agen suntik, dianjurkan menggunakan obat yang belum pernah digunakan sebelumnya. Jika masih gagal, gunakan fluoroquinolon generasi terakhir, seperti moxifloxacin.

Langkah selanjutnya, pasien bisa diberi agen dari kelompok 4 yang belum pernah digunakan secara ekstensif dalam regimen pengobatan sebelumnya. Atau obat apa pun dalam kelompok 4 yang diperkirakan efektif. Gunakan dua atau lebih agen dari kelompok 5. Pertimbangkan isoniazide dosis tinggi, jika resistensinya masih rendah. Pertimbangkan operasi ajuvan, jika ada penyakit terlokalisasi. Usahakan untuk mencegah terjadinya infeksi. Jika pasien juga terinfeksi HIV, obati HIV-nya. Lakukan pengawasan secara komprehensif dan pertahankan kepatuhan pasien.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.