Hormone Testosteron dan Kesehatan Pria | ethicaldigest

Hormone Testosteron dan Kesehatan Pria

Seorang pria yang berusia di atas 40 tahun, akan mengalami penurunan kadar testosteron dalam tubuh sampai 2% pertahun. Hal ini akan berpengaruh pada kondisi fisik, seksual dan psikologis. Dulu, kita tahu bahwa testosteron hanya berpengaruh pada kehidupan seksual pria. Kini, banyak bukti yang memperlihatkankan bahwa defisiensi testosteron juga meningkatkan risiko pria terkena sindroma metabolik dan penyakit jantung.

Berbagai penelitian memperlihatkan bahwa penurunan kadar testosteron serum, akan meningkatkan risiko untuk terjadinya sindroma metabolik. Begitu juga sebaliknya. “Pria dengan sindroma metabolik, memiliki kadar testosteron yang rendah,” ucap dr. Yohanes Suryono, SpAnd.

Suatu penelitian oleh Simon D dan kawan-kawan yang dipublikasikan di Journal of Clinical Metabolic and Endocrine tahun 1997, menunjukkan bahwa pada pria berusia paruh baya tekanan darah sistolik, kadar glukosa puasa dan kadar low-density lipoprotein (LDL) dan kolesterol total, berhubungan terbalik dengan kadar testosteron. Setelah dilakukan pengukuran adipositas dan resistensi insulin, hanya resistensi insulin yang berhubungan signifikan dengan testosteron.

Hubungan antara defisiensi testosteron dan risiko kardiovaskuler, jelas terlihat pada pasien-pasien yang menjalani androgen deprivation therapy (ADT). Seperti dibuktikan dalam penelitian Smith MR dan kawan-kawan yang memperlihatkan,  pemberian terapi agonist GnRH pada 25 pria untuk kanker prostat selama 12 minggu, menurunkan masa tubuh ramping dan meningkatkan masa lemak. Sementara Basaria S dalam penelitiannya menyebutkan, setelah 3 bulan pasien-pasien yang  menjalani ADT mengalami hiperinsulinemia.

Manfaat terapi pengganti testosteron

Ada hubungan antara pemberian terapi testosteron dan perbaikan sindroma metabolik. “Sudah banyak penelitian mengenai hal ini,” ucap dr. Yohanes. “Kalau menurut rekomendasi dari Asosiasi Endokrinologi Dunia adalah 400 ngram/dL dan dipertahankan.”

Untuk meningkatkan gairah seksual, biasanya akan tercapai dalam waktu 2-3 minggu. Dan, untuk mendapatkan hasil optimal dipertahankan sampai 3 bulan. Lemak perut akan menurun dalam waktu 3-6 bulan, dan optimal setelah 1 tahun.

Ada hubungan terbalik antara kadar testosteron endogen dan hiperinsulinemia, atau peningkatan risiko berkembangnya diabetes melitus tipe 2. Penelitian Kapoor D dan kawan-kawan yang memperlihatkan adanya penurunan masa lemak, terutama jaringan adipose visceral, dengan terapi testosteron menuntun pada suatu hipotesis bahwa terapi testosteron dapat memperbaiki sensitifitas insulin.

Pada satu penelitian oleh Marin P dan kawan-kawan melibatkan pria paruh baya dengan obesitas sentral mendapatkan, testosteron menunjukkan perbaikan sensitifitas insulin dan penurunan kadar insulin serum. Hasil-hasil ini tidak ditemukan pada penelitian oleh Lovejoy dan kawan-kawan, yang menggunakan DHT atau oxandrolone (ketika diberikan serupa dengan kelompok obesitas).

Bukti-bukti dari penelitian acak terkontrol terapi testosteron pada pria berusia lanjut menunjukkan, berkenaan dengan komposisi tubuh dan terutama masa lemak, pria yang paling besar mendapatkan manfaat dari terapi testosteron adalah mereka dengan kadar tetsoteron baseline rendah dan mendapatkan terapi lebih dari 12 bulan.

Berkenaan dengan berbagai macam sediaan testosteron saat ini, dr. Yohanes menyatakan bahwa semua preparat sama efektifnya. “Hanya saja, ada yang bekerja pendek dan ada yang bekerja panjang,” katanya.

Yang kerja pendek ada yang berbentuk oral dan gel. Sedangkan yang bekerja panjang, ada yang berbentuk suntik. “Namun, biasanya pada orang lanjut usia (lansia), terapi awal menggunakan obat dengan aksi pendek. Tak lain, agar jika ada efek samping bisa segera dihentikan, dan efeknya akan cepat menghilang,” tambah dr. Yohanes.

Jika tidak ada efek samping, bisa dilanjutkan. Atau, jika penderita ingin tidak terlalu repot, bisa diganti dengan terapi suntik, yang mempunyai kerja panjang.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.