Fase Penyebuhan Luka1 | ethicaldigest

Fase Penyebuhan Luka1

Luka, terutama luka kronik, merupakan masalah kesehatan yang banyak di jumpai di fasilitas layanan kesehatan. Luka kronik yang tak kunjung sembuh menjadi beban fisik, mental dan finansial bagi pasien dan keluarga.

Masih dilakukannya perawatan luka tradisional di berbagai fasilitas layanan kesehatan, menjadikan tidak efektifnya perawatan luka. Belum lagi masalah pasien yang takut berobat ke dokter bedah karena takut vonis amputasi, yang sering dilakukan. Menurut dr. Priscilla SpBP-RE, dari RSU Bunda, Jakarta, dalam Launching Wound Care Unit, beberapa waktu lalu, perawatan luka saat ini telah mengalami perkembangan pesat, terutama dalam dua dekade terakhir.

Makin banyak inovasi terbaru dalam perkembangan produk-produk perawatan luka, yang memberi kontribusi positif dalam menunjang praktek perawatan luka. “Perubahan profil pasien mendukung kompleksitas perawatan luka. Semakin banyaknya pasien yang ditemukan dengan penyakit degeneratif atau kelainan metabolik, semakin membutuhkan prosedur perawatan luka yang tepat agar proses penyembuhan luka bisa tercapai secara optimal,” jelasnya.

Para tenaga medis dituntut untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat, terkait dengan proses penyembuhan luka. Dimulai dari pengkajian, intervensi yang tepat, implementasi tindakan dan evaluasi hasil selama perawatan. “Tentunya, manajemen luka harus tetap mengedepankan pertimbangan biaya (cost effectiveness), kenyamanan (comfort) dan keamanan (safety),” imbuhnya.

Penyembuhan luka merupakan proses kompleks yang dinamis, di mana terdapat fase-fase yang harus dilalui. Di antaranya penggantian struktur selular yang hilang pada beberapa lapisan jaringan.

Secara garis besar, proses penyembuhan luka pada manusia dapat dibagi menjadi 3 atau 4 tahap yang berbeda. Dulu, para ahli menyebutkan setidaknya terdapat 3 fase penyembuhan luka yaitu: fase inflamasi, fase fibroblastic dan fase maturasi. Dilambangkan dengan proses inflamasi, proliferasi dan remodeling. Sementara pada konsep baru, proses penyembuhan luka memenuhi setidaknya 4 tahap, yakni: fase hemostasis, fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodeling. Sebanyak 3 atau 4 fase di atas, sebetulnya sama dan masih saling terkait dalam pendekatan 3 fase; fase hemostasis terkandung dalam fase inflamasi.

Menurut dr. Priscilla, antara fase yang satu dengan yang lain dalam proses penyembuhan luka, selalu berkaitan dan tumpang tindih. Dengan adanya kegagalan atau kesalahan di sebuah fase, dapat mengakibatkan munculnya bekas luka hipertropik, meski hanya terbatas pada lokasi luka. Lebih ekstrem lagi, penyembuhan luka yang keliru dapat mengakibatkan terbentuknya keloid, disertai penebalan dari kolagen, struktur jaringan penyembuhan luka yang tidak teratur dan bahkan dapat menimbulkan nyeri di lokasi bekas luka.

Data yang ada menyatakan bahwa luka hipertropik terjadi hampir pada semua ras manusia, meski tidak begitu terlihat pada mereka yang masih usia muda. Perubahan hormone mungkin menjadi pemicu munculnya luka hipertropik mau pun keloid. Meski demikian, keloid lebih sering dijumpai pada orang kulit putih.

Proses penyembuhan luka dapat dikatakan sebagai respon alamiah tubuh, terhadap cidera jaringan. Interaksi dari berbagai cascade yang kompleks, akan mendukung terjadinya penyembuhan luka. Selain 4 fase yang terjadi secara tumpang tindih seperti disebutkan diatas, dalam proses penyembuhan luka trombosit juga memliki peran penting. Dalam hal ini melakukan pembentukan bekuan selama proses homeostasis, selanjutnya sel-sel inflamasi menjembatani cidera jaringan selama fase inflamasi. Sementara epitelisasi, fibroplasias dan angiogenesis terjadi selama fase proliferasi.

Di saat yang hampir bersamaan terbentuk jaringan granulasi, menjadikan kulit mulai berkontraksi. Akhirnya, pada fase maturasi terbentuk kolagen yang kemudian saling mengait dengan kolagen lain dan molekul protein di sekelilingnya, dan meningkatkan kekuatan tarik pada luka. “Meski terlihat sederhana, kenyataannya seluruh proses penyembuhan luka lebih rumit dari yang dibayangkan. Beberapa aspek penyembuhan luka, belum dapat dijelaskan hingga saat ini,” jelasnya.

Fase homeostasis

Fase ini dimulai saat pertama kali cidera terjadi. Dalam fase ini, trombosit memeliki peran penting yakni dalam menggabungkan serta melepaskan sitokin, kemokin dan hormone.

Selama fase ini berlangsung, terjadi vasokonstriksi yang bertujuan untuk membatasi kehilangan darah yang lebih banyak dan dipengaruhi oleh mediator vasoaktif, dalam hal ini epinefrin, norepinefrin, prostaglandin, serotonin dan tromboksan. Selanjutnya terjadi temporary blanching pada luka.

Kolagen subendotelium mengagregasi platelet, yang kemudian menyebabkan terbentuknya gumpalan (primary plug). Agregasi dan keterikatannya dengan kolagen mengaktifkan platelet. Aktifasi dari platelet ini memungkinkan untuk melakukan degranulasi dan melepaskan chemotactic, serta faktor pertumbuhan seperti platelet derived growth factor (PDGF). Demikian halnya dengan protease dan agen vasoactive, seperti serotonin dan histamine.

Berikutnya, kemokin dilepas oleh adanya aktivasi platelet sehingga menarik sel-sel inflamasi ke daerah luka, yang selanjutnya mengarah ke tahap lanjut dalam proses penyembuhan luka.

Fase Inflammatory

Selain mengaktifasi fibrin, thrombin diaktifkan oleh cascades koagulasi yang kemudian memfasilitasi migrasi sel-sel inflamasi ke daerah yang mengalami cidera, yaitu dengan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Dengan mekanisme inilah faktor pertumbuhan dan sel yang diperlukan untuk proses penyembuhan, mengalir dari intravascular ke exstravascular.

Periode awal dari vasokonstriksi, diikuti banyak periode lain yang bersifat sementara dari vasokonstriksi dan dimediasi oleh histamine, prostaglandin, kinin dan leukotrien.

Vasodilatasi bertanggung jawab atas terjadinya eritema, edema dan demam yang terlihat setelah terjadinya cidera jaringan. Vasodilatasi merupakan sarana penting, agar luka dapat terpapar oleh darah, disertai dengan sel-sel inflmasi yang diperlukan dan faktor yang dapat melawan infekasi, untuk menjaga jaringan yang cidera. Perubahan pada pH, pembengkakan, dan hipoksemia pada jaringan pada daerah yang cidera, berkontribusi menimbulkan rasa nyeri pada luka.

Aspek selular dari fase inflamasi terjadi dalam beberapa jam setelah cidera. Hal itu meliputi neutrofil, makrofag dan limfosit. Neutrofil merupakan jenis sel yang paling dominan, pada 48 jam pertama setelah cidera. Namun bukan merupakan faktor penting, yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka. Meski demikian, neutrofil memiliki peran dalam membersihkan lokasi cidera dari bakteri dan jaringan nekrotik sekitar serta melepaskan mediator inflamasi.

Sementara makrofag merupakan faktor terpenting pada penyembuhan luka, dan bisa dikatakan sebagai sel yang paling penting dalam fase awal penyembuhan luka. Makrofag berperan untuk mensekresi kolagenasi dan elastases, dengan memecah jaringan luka serta melepaskan sitokin. Makrofag juga berperan dalam pelepasan PDGF, yang merupakan sitokin penting untuk merangsang kemotaksis dan proliferasi fibroblas dan sel otot polos. Terakhir, makrofag akan mengeluarkan zat yang mempu menarik endotel dari luka dan merangsang proliferasi sehingga terbentuk angiogenesis. Makrofag juga menghantarkan faktor pertumbuhan (growth factor) yang berperan penting dalam pembentukan jaringan baru.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.