Deteksi Dini Kanker | ethicaldigest

Deteksi Dini Kanker

Kanker. Kata ini terdengar sangat  menakutkan. Begitu mendengar kata ini, dalam benak pasien dan keluarga segera muncul seribu satu perasaan.  Mulai dari biaya pengobatan yang tinggi, proses pengobatan yang lama dan berbagai efek lain dari kanker atau pengobatannya, sampai bayangan kematian. Tak heran jika banyak penderita kanker yang enggan datang berobat ke rumah sakit dan memutuskan untuk melakukan pengobatan alternatif. Padahal, jika dapat dideteksi lebih dini dan diberi pengobatan yang tepat,  pasien dapat diselamatkan.

Data Kementrian Kesehatan menyebutkan, di Indonesia penderita kanker setiap tahunnya diperkirakan mencapai 100 / 100.000 penduduk. Dengan jumlah penduduk 200 juta lebih, diperkirakan setiap tahun ada sekitar 200.000 penderita kanker baru di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 4.000 di antaranya adalah anak-anak. Jika pada dekade lalu kanker menduduki urutan ke-9 dari 10 penyakit terbesar penyebab utama kematian di Indonesia, kini kanker masuk 5  besar.

Peningkatan jumlah penderita kanker di Indonesia disebabkan berbagai hal, dari perubahan pola hidup sampai polusi. Orang Indonesia umumnya senang makan gurih atau goreng-gorengan yang mengandung minyak. Ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang pada akhirnya menyebabkan sel tidak mendapat cukup oksigen. Beberapa senyawa yang ada lingkungan dan industri seperti tembakau, rokok, alkohol, zat hidrokarbon dan asbestosism juga diperkirakan menyebabkan kanker.

 

Menimpa semua orang

Kanker dapat menimpa semua orang (pria, wanita, anak-anak), pada semua bagian tubuh dan semua golongan umur. Walau kanker dapat timbul pada anak-anak, tapi lebih sering timbul pada orang dewasa, terutama pada  yang berusia >40 tahun. Ini karena adanya ketidakseimbangan hormon dan proses menua atau kemunduran pertumbuhan sel.

Data pemeriksaan histopatologik di Indonesia tahun 1999 menyebutkan, 5 besar kanker adalah: kanker leher rahim, kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, kanker kulit dan kanker rektum.  Pada anak-anak, jenis yang sering ditemukan antara lain: kanker darah atau leukemia, tumor otak, kanker kelenjar getah bening (limfoma), kanker retinoblastoma atau mata, kanker saraf atau neuroblatoma, kanker ginjal, kanker jaringan otot lurik (rabdomiosamiosarkoma) dan kanker tulang (osteosarkoma). Yang paling banyak menyerang anak-anak adalah leukemia.

 

Deteksi Dini

Penanganan kanker bersifat holistik atau menyeluruh. Artinya, di samping pengobatan yang lazim dilakukan pada orang sakit, dokter harus memperhatikan keadaan pasien. Misalnya faktor keluarga, keuangan dan  sosial budaya. Dengan, kemajuan-kemajuan dalam skrining, deteksi dini dan pengobatan kanker, makin banyak yang bisa diselamatkan dari kanker setiap tahunnya. 

Yang paling penting adalah deteksi dini. Kendala di Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke dokter. Sekitar 63% pasien yang datang, biasanya  sudah dalam stadium lanjut. Dalam stadium ini, pengobatan akan sulit, karena kemungkinan metastasis besar sekali. Jika tumor dapat ditemukan ketika masih berukuran sangat kecil, pengobatan akan lebih mudah

Ada 3 cara deteksi dini kanker. Pertama, deteksi dini aktif atau primer. Pada tingkat ini, pasien datang ke tempat praktek dokter untuk memeriksakan kondisinya, terlebih setelah ditemukan tanda atau gejala kanker, seperti buang air besar disertai darah atau ada benjolan di payudara. Kedua pemeriksaan sekunder, yang meliputi pemeriksaan dengan pap smear, foto thorax, pemeriksaan sitologis dan yang paling baru adalah dengan pemeriksaan jarum halus.

Ketiga pemeriksaan tersier, yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Yayasan Kanker Indonesia. Cara tersier ini sudah banyak berjalan, tapi pemeriksaan dini aktif kurang dapat berjalan. Rumah Sakit Dharmais mulai merintis pemeriksaan keliling, terutama mamografi, menggunakan mobil ambulans.

 

Waspadai Gejalanya

Gejala yang harus di waspadai adalah munculnya benjolan pada bagian tubuh mana pun, perdarahan pada saluran dalam tubuh (saluran cerna, pernafasan), nyeri yang tidak jelas sebabnya, demam berulang, penurunan berat badan yang bermakna, dan infeksi berulang yang tidak kunjung sembuh meski telah diterapi dengan adekuat. American Cancer Society memberi pedoman yang mudah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker, yaitu: perubahan-perubahan kebiasaan buang air, luka yang tidak kunjung sembuh, perdarahan atau keluarnya cairan tubuh yang abnormal, pembesaran benjolan di payudara atau di mana pun, kesulitan makan atau menelan, kutil atau tahi lalat yang berubah secara nyata dan batuk berat atau suara serak.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.