Derajat varises | ethicaldigest

Derajat varises

Menurut CEAP (Classification System for Chronic Venous Disorder), derajat keparahan varises dikelompokkan dari C0 yang berarti tidak ada penyakit vena yang tampak di kaki, sampai C6 dengan ulkus terbuka.

CEAP - C1

Varises laba-laba (spider telangiectasias) dan vena retikuler dikategorikan sebagai varises C1. Varises laba-laba dibentuk oleh pelebaran sekelompok kecil pembuluh vena. Tampak kemerahan atau bercabang seperti pola sarang laba-laba. “Biasanya baru keluhan kosmetik, tidak ada nyeri,” tegas dr. Achmad.

CEAP - C2

Pasien mulai mencari pertolongan medis pada stadium C2. Sudah tampak ada tonjolan vena yang tampak jelas, mulai dari daerah pantat dan selangkangan, turun ke kaki. Vena tampak membengkak saat berdiri dan menghilang ketika berbaring, terutama jika kaki diangkat. Pada beberapa kasus, varises terjadi dekat permukaan kulit, sehingga tonjolan vena akan tampak kebiruan /kehijauan. “Pada derajat ini, keluhan terbanyak adalah nyeri. Selain itu, sudah ada keluhan tidak bisa duduk atau berjalan lama,” tambah dr. Achmad.

CEAP – C3

Stadium C3 ditandai jika keluhan berlanjut dengan bengkak dan edema; sudah terjadi kerusakan pada area sekitar vena. NICE (National Institute of Health and Clinical Excellence) Inggris menyatakan, varises stadium C3 adalah kondisi medis yang harus segera ditangani. Pembengkakan biasanya terlihat pada betis ke bawah sampai sekitar tulang pergelangan kaki, namun tidak meluas ke jari-jari kaki.

Biasanya, pembengkakan belum akan terlihat di pagi hari setelah bangun tidur. Ini karena tidak terjadi refluks vena saat berbaring; katup belum diperlukan untuk bertindak sebagai alat ‘anti-gravitasi’. Aliran darah tetap normal sehingga tidak ada penumpukan cairan di pergelangan kaki. Gejala mulai tampak setelah beraktivitas.

CEAP – C4

Kerusakan mulai menjalar ke area di luar vena, terjadi inflamasi jaringan di bawah kulit maupun pada kulit, terutama bagian pergelangan kaki (ankle) dan di bawah otot betis (area yang disebut ‘daerah gaiter’).

“Mulai ada hiperpigmentasi dan/atau eksim. Bisa ditandai dengan lipodermatosclerosis (LDS). Banyak pasien datang ke dokter kulit karena keluhan ini,” ujar dr. Achmad. LDS ditandai dengan bercak yang lebih mengkilap, disertai perubahan warna. Sementara eksim vena terlihat dengan adanya bercak merah, gatal dan ada pengendapan hemosiderin untuk bercak coklat gelap.

Terjadi refluks pada vena safena besar, vena savena kecil atau vena perforator yang tidak kompeten, tapi jarang pada vena pelvis. Pada beberapa kasus, bisa disebabkan oleh kondisi yang lebih parah. Misalnya akibat post thrombotic syndrome  (PTS); kerusakan vena dalam parah akibat deep vein thrombosis.

CEAP – C5

Dalam derajat ini mulai terjadi ulkus di pergelangan kaki, namun masih bisa sembuh kembali. Bekas luka bisa menimbulkan parut, yang warnanya berbeda dengan kondisi CEAP – C4 yang mengelilinginya. Penting diketahui bahwa ulkus yang sembuh tersebut sangat mungkin terbuka kembali, jika varises tidak tertangani baik. Perawatan menggunakan perban / stokcing kompresi, tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam jangka panjang. Untuk sementara bisa menyembuhkan ulkus vena. Tapi, tanpa perawatan yang benar, ulkus akan terjadi lagi.

CEAP – C6

Terjadi luka terbuka yang sulit sembuh; kerap dikira sebagai luka kaki diabetes. Ulkus vena biasa muncul di sisi bagian dalam kaki bawah. Bisa juga terjadi di luar atau bagian depan kaki bawah. Ulkus itu sendiri tampak sebagai luka terbuka, tanpa kulit yang menutupi jaringan di bawahnya. Tampak berwarna pink dan sehat, atau terlihat kuning kehijauan.

Sebelum tahun 1986, ulkus vena diterapi menggunakan perban kompresi dan dressings. Setelah itu banyak penelitian menyatakan manfaat metode diagnosis memakai duplex ultrasound (USG) pada kasus varises. Banyak ahli yang hanya memakai terapi kompresi tanpa USG. Hasilnya, kesembuhan yang didapat bersifat sementara, beberapa minggu atau bulan setelah perban dan dressings dibuka, ulkus kembali muncul. 

C A Thomas, J M Holdstock,dkk., dari The Whiteley Clinic, Inggris, melakukan studi retrospektif pada 72 pasien yang menderita ulkus vena, tahun 1999 – 2011. Sebelumnya pasien mendapat informasi bahwa kondisi ulkus tersebut tidak bisa disembuhkan, sehingga mengharuskan mereka memakai perban /stocking kompresi seumur hidup.

Untuk studi ini dilakukan investigasi menggunakan duplex ultrasound dan terapi memakai teknik TRLOP (TRansLuminal Occlusion of Perforator). Didapati, 85% ulkus vena sembuh dan tidak terjadi rekurensi. Dari jumlah tersebut, 52% tidak lagi harus memakai stocking kompresi. 

Pada tahun 2013, the National Institute for Health and Care Exellence (NICE) mengeluarkan guideline.  Pasien varises dengan ulkus kaki harus mendapat perawatan multidisipliner, termasuk scan duplex ultrasound, sebagai metode diagnosis.

BACA GAYA HIDUP DAN BERAT BADAN PICU VARISES

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.