Bahayanya Varises pada Ibu Hamil | ethicaldigest

Bahayanya Varises pada Ibu Hamil

Kehamilan, terutama kehamilan kembar, berisiko menyebabkan varises. Selama kehamilan terjadi pertambahan aliran darah untuk membantu pertumbuhan bayi; peningkatan aliran darah sampai 50% di bulan ke 8 kehamilan.

Semakin besar janin, pembuluh balik dari kaki menuju vena cava (pembuluh darah besar yang masuk ke jantung kanan) akan tertekan oleh janin. Akibatnya, aliran darah kembali ke bawah, menyebabkan hipertensi vena.  Selain itu  ada peningkatan hormon progresteron di awal kehamilan, menyebabkan pembuluh darah lebih rileks dan terdilatasi. Pelepasan hormon relaxin (guna mempersiapkan proses kelahiran), juga menyebabkan otot halus di vena menjadi lebih rileks.

Secara bertahap, terjadi penurunan aliran darah vena dari kaki ke paha. Obstruksi yang bermakna dari vena cava akibat penekanan oleh uterus membesar, terutama mulai pertengahan kehamilan, turunnya tonus vena pada anggota gerak bawah yang dimulai sejak awal kehamilan, dilatasi vena panggul dan kemungkinan terjadinya disfungsi daun katup vena. Dilaporkan, sekitar 28% wanita hamil dalam satu populasi mengalami varises.

Terjadi penekanan vena di area pelvic sehingga berisiko menyebabkan varises di vulva vagina dan daerah sekitar rahim. Menurut dr. Med. Damar Prasmusinto, SpOG(K), dari Depertemen Obstetri & Ginekologi FKUI, rahim yang membesar menyebabkan perlambatan aliran darah di vena area vagina. “Biasanya menimbulkan rasa pegal di daerah vagina,” katanya. 

Varises di vulva juga akan terlihat berwarna kebiruan dan menonjol. Kata dr. Damar, varises vagina biasanya menjadi masalah. Pelebaran vena berisiko menyebabkan robekan dan perdarahan. “Bisa berpengaruh pada proses kelahiran normal. Tapi tidak harus seksio sesarea, kalau masih memungkinkan, masih bisa lahir normal,” ujarnya.

Masalah lain yang mengintai adalah terlepasnya bekuan darah. Pada ibu hamil, terjadi  hiperkoagulabilitas darah akibat peningkatan faktor koagulasi (faktor I, II, VII, VIII dan IX meningkat setelah trimester pertama). Kadar fibrinopeptida A dan monomer-monomer fibrin juga meningkat. Hal ini menunjukkan terjadi aktivasi sistem pembekuan selama kehamilan.

Seperti dijelaskan Dr. dr.Jetty R.H. Sedyawan, SpJP(K), FIHA, FACC, dari RS Ibu dan Anak Brawijaya, Jakarta, turbulensi aliran darah karena kerusakan katup vena membuat bekuan darah lebih mudah terjadi. “Bahkan pada kasus spider vein, sudah bisa terjadi turbulensi aliran. Jika bekuan sampai lepas berisiko terjadi serangan jantung atau emboli paru. Dengan pemeriksaan USG Doppler kaki komplikasi tersebut dapat dicegah. Turbulensi aliran darah, bekuan darah atau aneurisme, akan terlihat memakai USG Doppler,” urainya. 

Tulisan S.M. Greenstone, dkk., dalam Western Journal of Medicine, menjabarkan terapi konservatif utama varises pada kehamilan meliputi terapi kompresi, seperti stocking, yang digunakan dari mata kaki sampai paha (midthigh). Kompresi harus cukup kuat, untuk menekan vena saat pasien berdiri. Terapi kompresi akan membantu memompa darah kembali ke jantung, dan mengurangi pembengkakan. Terapi kompresi juga bermanfaat untuk mencegah terjadinya tromboemboli.

Ditambah dengan terapi elevasi, menaikkan/mengganjal kaki (± 6 inci) lebih tinggi dari badan saat tidur, dan lebih sering mengistirahatkan kaki saat beraktivitas dengan menaikkan kaki lebih tinggi dari jantung. Beberapa minggu menjelang persalinan, cara ini tidak lagi dianjurkan jika terjadi dyspnea.

“Dianjurkan untuk tidak berdiri atau duduk dalam waktu lama, juga untuk tidak duduk dengan menyilangkan kaki. Jadi, posisi duduk/berdiri) mesti sering berubah. Tidur miring ke kiri, supaya pembuluh vena tidak terhamba. Gunakan sepatu yang nyaman dengan bantalan karet,” papar dr. Jetty.

Selain itu, kurangi asupan sodium untuk meringankan pembengkakan vena, menjaga berat badan dan olahraga ringan.  Jalan kaki atau berenang sangat disarankan, karena akan membantu melancarkan sirkulasi darah dan menguatkan otot-otot kaki untuk memompa darah kembali ke jantung.

Greenstone juga menulis, terapi operatif selama kehamilan dilakukan hanya jika ada indikasi gejala berat, karena dampak dari stasis vena. Seperti adanya sensasi berat, kaki terasa penuh yang tidak bisa dikurangi dengan terapi kompresi, ada dermatitis, hiperpigmentasi atau terbentuk ulkus. Terapi operatif dibatasi pada ligasi pada vena pendek yang incompetent. Dilakukan pada bulan ketiga dan ketujuh kehamilan, menggunakan anestesi lokal dan memungkinkan pasien untuk tetap melakukan rawat jalan. 

Pada banyak kasus varises pada ibu hamil, di tungkai atau area vagina, akan hilang dengan sendirinya tiga bulan pascamelahirkan, seiring dengan normalnya hormon. Pada beberapa kasus, varises menetap setelah melahirkan. “Varises yang menetap bisa disebabkan faktor keturunan, atau masalah life style,” ujar dr. Achmad Faisal, SpBTKV.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.