Rumah Sakit Usada Insani "Bersama Kita Kokoh" | ethicaldigest

Rumah Sakit Usada Insani "Bersama Kita Kokoh"

Kota Tangerang, 1985. Dua puluh lima tahun yang lalu, kota di Provinsi Banten itu masih sepi. Belum banyak aktivitas industri dan perumahan penduduk juga masih jarang. Begitu halnya dengan fasilitas kesehatan. Saat itu, Rumah Sakit Tangerang milik pemerintah merupakan satu-satunya rumah sakit yang memberikan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat  di Kota Tangerang.

 “Saat itu, banyak pasien yang tidak mendapat pelayanan kesehatan, karena kapasitas tempat tidur yang dimiliki RS Tangerang sudah penuh. Akibatnya, banyak pasien yang dirujuk ke beberapa rumah sakit di Jakarta,” dr. Yudhie Yudo P, Direktur Utama Rumah Sakit Usada Insani (RSUI) Tangerang, saat ditemui Kamis, 21 Oktober 2010.

Atas dasar itu, para dokter yang bertugas di RS Tangerang berinisiatif untuk mendirikan sebuah rumah sakit swasta, yang kemudian bernama RSUI. RS yang diimpikan tidak serta merta berdiri. Awalnya (tahun 1985) yang mampu didirikan hanya sebuah klinik, di daerah Cipondoh, Tangerang, tepatnya di Jalan KH. Hasyim Ashari No. 24. Para pendirinya adalah sejumlah dokter yang bertugas RS Tangerang, yang semuanya para alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tujuannya tidak muluk-muluk, hanya ingin membantu para dokter RS Tangerang dan pasien, agar lebih mudah melakukan akses pelayanan kesehatan.

Dalam perjalanannya, klinik terus berkembang dan kemudian menjadi RSUI  pada tahun 1991. Berdiri di atas areal tanah seluas 5,000 m2, jumlah tempat tidurnya ketika itu sebanyak 30 buah. Ini sekaligus merupakan rumah sakit swasta pertama yang berdiri di Kota Tanggerang. Saat masih berupa klinik, pelayanan yang diberikan hanya berupa pelayanan kesehatan umum dan kebidanan.

Sampai tahun 1995, RSUI mengalami perkembangan pesat karena semakin dipercaya oleh pasien. Semakin banyak ditangani pasien jaminan dari sejumlah perusahaan di Tangerang. Pada tahun 2005, seiring dengan perkembangan rumah sakit dan fasilitas penunjang, dibangun gedung baru dengan kapasitas 200 tempat tidur. “Ini merupakan upaya yang dilakukan manajemen rumah sakit untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di RSUI,” ujar dr. Yudhie.

Dari tahun ke tahun perbaikan manajemen dan fasilitas pelayanan terus ditingkatkan. Kini, rumah sakit yang secara resmi berdiri pada tahun 1991 ini memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 396 buah, dengan areal seluas 11.000 m2. Bed Occupation Rate  (BOR)-nya sekitar 80%.

Pasiennya bervariasi. Hampir semua kasus dapat ditangani di sini. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah biaya yang sangat terjangkau. Termasuk biaya untuk kelas VIP. “Kelas VIP selalu penuh. Ini menandakan bahwa biaya VIP kami masih terjangkau oleh masyarakat Kota Tangerang,” ujar dr. Usep P Wiraatmaja, Sp.OG., Wakil Direktur RSUI.

Komposisi antara pasien jaminan perusahaan dan pasien umum, seimbang 50:50. Pasien kelas 3 jumlahnya sekitar 30%, kelas 2 sekitar 32%, dan pasien kelas 1 ke atas sekitar 40%. Tangerang kini adalah kota dengan banyak pabrik, industri, perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan dan komplek perumahan.

Tingginya BOR dan kepercayaan pasien, terkait erat dengan sistem marketing dan kerjasama yang dilakukan pihak RSUI. Starategi marketing dilakukan antara lain dengan membuat jejaring yang disebut sebagai dokter satelit. Para dokter di seantero Tangerang dan sekitarnya, selalu berhubungan dengan RSUI. Sistem satelit juga berlaku bagi para bidan dan perawat di wilayah Tangerang dan sekitarnya (di timur sampai Cengkareng, utara sampai Mauk, selatan sampai Serpong dan bahkan sampai ke Serang).

“Untuk memuaskan para dokter, dan  bidan satelit kami  berkomitmen bahwa jika mereka merujuk ke RSUI, pasien mereka kami jamin bisa mendapatkan kamar sesuai dengan permintaan,” ujar dr. Yudhie. Itu sebabnya, RSUI tak pernah sepi, meski kini banyak rumah sakit bermunculan.

“Kebersamaan” menjadi kata kunci. Ini merupakan hal utama, yang selalu dijunjung tinggi oleh setiap individu. Rasa kebersamaan inilah yang membuat rumah sakit ini tetap survive dan terus berkembang. Contoh kebersamaan dengan pasien misalnya adalah tidak mau memberatkan pasien tidak mampu.

Hampir 60% pasien yang datang berobat berasal dari golongan menengah  bawah. Tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa melunasi biaya pengobatan. “Hal semacam ini sudah diantisipasi dan kami - yaitu para dokter, pihak manajemen rumah sakit mau pun pihak-pihak lain yang terkait - berkomitmen untuk menanggungnya secara bersama-sama,” ujar dr. Yudhie. Hal ini dilakukan agar pasien tidak terbebani. Disamping itu, ‘Kami masih menjunjung tinggi nilai-nilai social dan kemanusiaan,” katanya lagi.

RSUI juga berusaha untuk menerima masukan dari para dokter. Contohnya adalah usulan untuk meningkatkan sarana dan prasarana rumah sakit, untuk mendukung kompetensi dan agar peratatan asertra fasilitas yang dimiliki selalu up to date. Kini telah terrsedia fasilitas penunjang medis cangih seperti Endoskopi/bronchoskopi, Endoskopi THT, Laparoskopi, Colonoskopi, Radiology seperti MRI, CT Scan, USG 3D/4D, Mamografi dan Panoramik.

Selain itu, ada peralatan cangih seperti Audiometric, Vasera, Fisioterpi, Biometri dan banyak fasilitas penunjang medik lainnya. Ada juga Spinometri, CTG, EKG, EEG dan laboratorium. Unit hemodialisa ada 11 buah, dioperasikan selama 24 jam dan mampu menangani sekitar 350-400 kasus perbulan.

Smile & care. Inilah motto penggerak RSUI untuk meraih sukses. Motto ini berlaku bagi seluruh jajaran di rumah sakit. Mulai dari petugas parkir, resepsionis, perawat, dokter hingga cleaning service. Dalam hal perparkiran, misalnya, meski sudah dikelola pihak ketiga evaluasi selalu dilakukan. Bila ada pelanggan yang complaint, akan segera diambil langkah-langkah untuk mengatasinya.

“Tidak mudah memberikan pelayanan prima. Tapi, usaha ke arah yang lebih baik selalu kami lakukan,” ujar dr. Yudhie.

Un tuk meningkatkan kualitas SMD, secara berkala dilakukan pelatihan service of excellent, leadership dan pelatihan lain untuk meningkatkan skill karyawan. “Meningkatnya kemampuan seorang dokter, memang harus didukung dengan peningkatan skil perawat,” kata dr. Yudhier.

Semula, misalnya, dokter hanya bisa melakukan bedah konvensional. Dokter terus meng up-grade kemampuanya sehingga dapat melakukan bedah minimal invasive. “Dengan sendirinya, perawat harus dapat mengimbangi untuk mendukung kompetensi dokter tadi,” ujar dr. Usep. 

Klinik Diabetes & Center Onkologi

Bedah minimal invasive memang adalah salah satu unggulan di RSUI. “Saya berani bilang, kami lebih baik dari rumah sakit lain yang ada di daerah Tangerang,” ujar dr. Usep. Selain lebih murah dari sisi pembiayaan, RSUI juga memiliki dokter yang handal dan perawat yang juga handal dalam bidang ini. Minimal invasive surgery yang dapat dilakukan di RSUI hampir menyeluruh, mulai dari kebidanan, urologi, operasi usus buntu, operasi batu empedu sampai bedah tulang mulai atroskopi sampai spine (tulang belakang).

Dalam satu bulan, RSUI paling tidak melakukan operasi sekitar 600 kasus. Dalam satu harinya berarti ada sekitar 20-30 kasus bedah yang ditangani. Bahkan pada tahun 2006-2007, menurut dr. Usep, RSUI melakukan operasi hingga 700 kasus dalam satu bulan. “Angka ini mungkin bisa di bilang tertinggi di Indonesia,” katanya.

Pelayanan homecare (perawatan di rumah) juga dapat diberikan. Pelayanan ini dilakukan oleh tim medis professional meliputi dokter spesialis bedah, dokter umum /keluarga dan perawat, yang datang langsung ke rumah pasien. Umumnya homecare diberikan bagi para pasien pasca tindakan operasi. Selain dapat menghemat biaya, banyak hal lain yang didapatkan dari fasitilas homecare ini. Seperti mengurangi kejadian infeksi, perawatan yang lebih optimal serta tingkat kesembuhan pasien yang lebih cepat.

Dalam waktu dekat ini, RSUI akan membuka 2 unit baru yakni Klinik Diabetes dan Center Onkologi. Prosesnya sudah berjalan sekitar 85%. Alasan dibuatnya Klinik Diabetes adalah untuk menangani penderita diabetes yang jumlahnya terus meningkat. “Sampai saat ini, diabetes belum ada obatnya. RSUI berusaha untuk membimbing mereka, para penderita diabetes, agar supaya bisa hidup berdampingan dengan diabetes yang diidapnya. Dengan kadar gula yang terkontrol maka tidak akan menimbulkan komplikasi mikro mau pun makro vaskuler bagi penderita,” ujar dr. Usep.

Unit Persadia di RSUI sudah lama didirikan. Unit ini bisa berjalan dengan baik, sebagai ajang komunikasi para diabetesi. Kegiatan-kegiatan seperti senam diabetes bersama, secara rutin dilakukan.

Ada pun pendirian Onkologi Center, titik beratnya adalah untuk mendeteksi secara dini pada pasien, sebelum menjadi kanker dengan stadium lanjut. Center ini didirikan sebagai upaya preventif penyakit kanker. Karena, jika seseorang terkena penyakit kanker, bukan hanya orang itu yang akan mengalami penderitaan dalam hidupnya, melainkan keluarganya juga akan terbebani karena banyaknya biaya yang harus di keluarkan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.