Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie, Rumah Kedua Pasien HD | ethicaldigest

Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie, Rumah Kedua Pasien HD

Di Jalan Tubagus Ismail No. 46, Bandung utara, terdapat sebuah bangunan bercat merah bata dengan jendel-jendela kecil. Arsitektur bangunan ini berbeda dengan bangunan-bangunan di Indonesia umumnya. Bangunan itu mirip bangunan di Eropa, tepatnya di Kota Groningen, Belanda. “Saya menduplikasi asrama tempat saya dulu studi di Belanda,” ujar Prof. Dr. dr. Rully MA Roesli, SpPD-KGH, Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) dan guru besar FK Unpad Bandung.

Bangunan di atas areal seluas 6.000 m2 itu bukan asrama, melainkan Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) Ny. RA Habibie. Ini adalah satu-satunya rumah sakit khusus ginjal di Indonesia. 

Pada tahun-tahun pertama, Prof. Rully pernah mengepalai frumah sakit ini dan kini ia menjabat Ketua Komite Medik. Studi di Belanda untuk mendalami penyakit ginjal, pulang ke Indonesia ia bekerja sama dengan Ny. Sri Sudarsono, adik mantan Presiden RI, Prof. Dr. BJ Habibie, mendirikan RSKG Ny. RA Habibie, yang awalnya beralamat di Jalan Aceh, Bandung. 

Bangunan RSKG bercat merah itu dibangun sekitar tahun 1996, untuk “menggantikan” bangunan asrama di Groningen yang sekarang sudah tidak ada lagi. Berdirinya RSKG ini dimaksudkan untuk menolong sesama, yang saat itu sangat sulit mendapatkan pelayanan hemodialisa (penderita gagal ginjal terminal). Prof. Rully awalnya merasa terharu, melihat banyak pasien Indonesia yang sulit mendapatkan pertolongan jika telah mengalami gagal ginjal. Bisa dikatakan, sebagian besar dari mereka akhirnya meninggal karena tidak tertolong. Kondisi inilah yang mendorongnya untuk lebih mendalami masalah penyakit ginjal, dengan mengambil S3 di Belanda.

Studi selesai, ia menolak tawaran untuk bekeja di Belanda dan memilih mengabdikan diri di tanah air. Sejawat dan para seniornya yang semuanya orang Belanda, memberi saran agar ia  mengajukan permohonan bantuan kepada yayasan social di negeri itu, yang sering  membantu pasien atau individu yang membutuhkan uluran tangan. Prof. Rully ketika itu belum fasih untuk presentasi dalam bahasa Belanda. Tak kurang akal, ia melakukan presentasi menggunakan gambar/karikatur yang dibuatnya sendiri. Ternyata, proposalnya untuk membantu pasien gagal ginjal di Indonesia disetujui. Ia meminta agar bantuan yang diberikan berupa peralatan, jangan berupa uang. Ia menerima 4 mesin hemodialisa lengkap dengan semua peralatannya. Bersama Ny. Sri Soedarsono, Ketua Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB), dimulailah sejarah pelayanan hemodialisa di Indonesia, di Bandung khususnya.

Dari 4 mesin, kini RSKG Ny. RA Habibie telah memiliki 45 mesin HD, belum lagi stok 5 mesin yang siap digunakan jika terjadi kerusakan pada mesin hemodialisa yang lain. Pelayanan hemodialisa dilaksanakan setiap hari, dari pagi sampai malam (3 shift). “Kami tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Semua pasien kami layani dengan baik,” ujar Ny. Sri Soedarsono.

Sesuai visinya sebagai Center of Excellent untuk pelayanan kesehatan ginjal di Indonesia, RSKG Ny. R.A Habibie memberikan pelatihan bagi para dokter mau pun perawat yang ingin memperdalam mengenai hemodialisa. Termasuk, pelatihan untuk teknisi mesin HD. Pelatihan diadakan 2 kali setahun dan sejauh ini, “Hingga pertengahan tahun 2011, kami telah mencetak sebanyak 13 angkatan,” ujar Ny. Sri Soedarsono.

Dalam sehari, RS dapat melayani 60 pasien. RSKG Ny. RA Habibie adalah satu-satunya rumah sakit yang mau menerima pasien gagal ginjal dengan disertai penyakit hepatitis. “Umumnya rumah sakit lain menolak. Kami tidak, karena kami di sini mengemban misi social yang tinggi,” ujar dr. Qania Mufliani, Direktur Utama.

Dari sekian banyak pasien yang menjaladi cuci darah di rumah sakit ini, paling muda berusia 11 tahun, dan yang paling tua berumur 84 tahun. Kenapa anak usia 11 tahun sudah mengalami gagal ginjal? “Salah satu faktornya adalah karena konsumsi makanan, atau pola hidup yang kurang baik yang di mulai sejak kecil,” ujar dr. Qania.

“Juga karena sekarang ini banyak yang senang mengonsumsi makanan serba instant atau penyedap masakan, dengan kadar garam yang sangat tinggi. Di sisi lain, kurang melakukan aktivitas fisik,” tambah Prof. Rully.

Empat S

“Feeling at home”. Motto ini bukan sekedar slogan. Kenyataannya, banyak pasien HD yang menganggap RSKG Ny. RA Habibie sebagai rumah kedua mereka. Salah satunya, seperti diutarakan Sari Shinta D, S.Pd, yang sudah menjadi pasien RSKG sekitar 12 tahun, dimulai pada bulan Oktober 1999. Baginya, menjalani HD seminggu 2 kali sangat mewarnai kehidupannya. Tahun 2000, sebelum mendapat gelar sarjana pendidikan, di sela-sela kesibukannya sebagai  mahasiswi, ia harus menjalani cuci darah. Semua itu dia jalani dengan ikhlas.

“Saya selalu ingat kata-kata Prof. Rully bahwa kita harus selalu berpegang pada 4S: Sabar, Solat, Semangat dan Sehat,” katanya. Semangat 4S ini telah menginspirasi para pasien RSKG ini, sehingga banyak di antara mereka yang tetap sabar dan bersemangat dalam menjalani HD selama belasan bahkan 20 tahun. “Itu  bukan waktu yang singkat. Tanpa semangat, mereka tidak akan bisa menjalani semua ini,” ujar Ny. Sri Sudarsono.

Bengkel Mesin HD

Di RS ini terdapat bengkel mesin hemodialisa. Saat acara ulang tahun 8 Agustus 2011 lalu, sebanyak 4 mesin HD sedang di-service di bengkel yang terletak di lantai 2. “Mesin hemodialisa sama halnya sepeda motor atau mobil, yang membutuhkan service berkala,” ujar salah satu teknisi. Menurutnya, setelah sekian jam dioperasikan, ada beberapa komponen mesin yang harus diganti, atau mesin di tune up agar performa dan kinerjanya selalu terjaga baik dan tidak kalah dengan mesin yang masih baru.

Tak hanya men-service mesin di rumah sakit sendiri, teknisi RSKG Ny. RA Habibie juga melayani service dan perbaikan mesin hemodialisa dari rumah sakit di kota lain. Terutama rumah sakit yang pernah memperoleh sumbangan mesin HD dari RSKG Ny. RA Habibie. Sumbangan  mesin HD biasanya diserahkan langsung oleh Ny. Sri Soedarsono.

 “Biasanya kami datang ke rumah sakit dimaksud, untuk melakukan perbaikan. Lamanya perbaikan tergantung ketersediaan komponen. Jika komponen tersedia, mesin HD dapat segera diswervice atau diperbaiki,” ujar kepala mekanik.

Dalam waktu dekat, rumah sakit yang sudah 23 tahun mengabdikan diri di bidang kesehatan ginjal ini akan memperluas bangunan RS. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien gagal gionjal, yang jumlahnya cenderung terus meningkat.

Akan dibangun ruangan pelayanan untuk tipe tertentu.  Fasilitas ruangan yang ada saat ini dibagi 3 yakni Ruang Melati dan Teratai; dalam ruangan ini terdapat 41 tempat tidur, dengan fasilitas AC, TV kabel dan pasien mendapat snack serta susu. Ada Ruangan Anggrek dengan 2 tempat tidur, dengan fasilitas yang engkap. Dan Ruangan Tulip merupakan kelas eksekutif dengan fasilitas yang lebih lengkap lagi.

Sejarah

RSKG Ny. RA Habibie merupakan salah satu unit kegiatan dari Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB) cabang Bandung yang diketuai Ny. Sri Soedarsono, bekerja sama dengan Tim Nefrologi Bandung, dan didukung oleh Yayasan Netherland-Batam (Stichting Nederland-Batam) di Belanda. RSKG Ny. RA Habibie awalnya bernama Klinik Ginjal Bandung, berdiri pada 8 Agustus 1988. “Saya ingat betul saat pertama kali dibuka juga jam 08.00 pagi. Dimulai dengan melakukan hemodialisa kepada pasien Ny. Tan dan seorang pria bernama Agus,” ujar Prof. Rully.

Pada 31 agustus 1993 namanya diubah menjadi Pelayanan Dialisis Ny. R.A Habibie, sebagai penghormatan untuk mengenang Ny. R.A. Tuti Marini Habibie (ibunda Prof. BJ Habibie dan Ny. Sri Sudarsono) yang sangat membantu dalam pendirian Klinik Ginjal Bandung. Tujuan dari pendirian klinik adalah untuk meringankan beban pasien gagal ginjal, terutama dari kalangan masyarakat yang tidak mampu.

Tahun 1996, status klinik ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny. RA Habibie, untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada pasien. Maka, meski statusnya ditingkatkan, filosofi dasar yakni untuk berperan di bidang sosial tetap dipertahankan.

RS Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie telah banyak melayani masyarakat, khususnya para penderita gagal ginjal yang memerlukan hemodialisa. Kini, rumah sakit ini telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit dengan pelayanan hemodialisa terbesar dengan kapasitas 45 mesin.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.