RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Unggul di Klaten | ethicaldigest

RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Unggul di Klaten

 “Selamat Datang. Rumah Sakit Dr. Soeradji Tirtonegoro, Terdepan dalam pelayanan, Terkaya dalam pengalaman, Terbanyak dokter spesialis dan dokter sub-spesialisnya …” Demikian bunyi running teks pada billboard di RS Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah. Dalam waktu dekat, kata-kata itu akan ditambah dengan informasi tentang jumlah bed yang masih kosong mulai kelas VVIP sampai kelas 3.  Counter down digital rencananya akan dipasang di atas bangunan RS, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan raya. Selain sebagai upaya promotif, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pihak RS.

 “Ini adalah upaya keterbukaan kepada khalayak dan khususnya calon pasien. Jika masih ada tempat tidur yang kosong, silakan masuk. Tapi, kalau sudah penuh, kami terpaksa harus menolak pasien,” ujar dr. Bambang Purwoatmodjo, Sp.THT-KL, Direktur Utama RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro RSUP ST).

Rumah sakit terletak di Jalan Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Sesuai tuntutan jaman, RS yang berada di bawah Departemen Kesehatan RI ini terus berkembang dan melakukan inovasi. Tujuannya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pasien, dan agar para dokter merasa kerasan mengabdikan diri di RS yang berdiri di atas areal 5 Ha lebih dengan luas bangunan sekitar 1 Ha ini.

Lewat program “Operasi Sore Hari”, pelayanan bagi pasien dapat ditingkatkan. Di pihak lain, para dokter juga diuntungkan. “’Operasi Sore’ selain menguntungkan dari sisi managemen rumah sakit, dokter bisa terus praktek di sini dengan system pembayaran cash and carry,” ujar dr. Bambang.

Pasien “Operasi Sore” umumnya berasal dari luar, seperti dari klinik dokter atau dari RS lain tempat dokter-dokter RSUP Dr. Soeradji Tirtonegero juga berpraktek. Ketika pasien masuk rumah sakit, harus melengkapi beberapa persyaratan administrasi seperti menandatangani surat persetujuan dilakukan operasi sore. “Ini untuk mengantisipasi, supaya tidak ada kesalahpahaman antara pihak rumah sakit dengan pasien,” ujar dr. Bambang. Dengan program ini, pasien tak harus antri untuk mendapatkan giliran operasi.

Keleluasaan untuk bisa lebih berkembang, terutama dirasakan sejak tahun 1997. Tepatnya sejak RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro berstatus BLU (Badan Layanan Umum).

Among Tamu

Awalnya, RS ini bernama Dr. Scheurer Hospital, didirikan secara gotong royong oleh perkebunan tembakau, tebu dan rami milik pemerintah Hindia Belanda. Sempat dikuasai Jepang, setelah kemerdekaan namanya berganti menjadi RSU Tegalyoso, Klaten, karena berlokasi di Desa Tegalyoso. Nama RS yang sekarang, mulai digunakan tahun 1997.  Nama Dr. Soeradji Tirtonegoro diambil dari nama tokoh pergerakan di perkumpulan Boedi Oetomo, yang mengabdi sebagai dokter di Klaten.

Setelah kemerdekaan, RS ini dimanfaatkan untuk pendidikan bidan dan mantri. Juga sebagai tempat kuliah dan praktek mahasiswa Perguruan Tinggi Kedokteran, yang dalam perkembangannya menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Gajahmada (FK UGM. Tak heran bila sampai hari ini, antara RSUP Dr. ST dan FK UGM Jogjakarta terjalin kerja sama yang erat.

Di depan RS, kini dibangun pintu utama. Pasien dan keluarga masuk lewat pintu ini dan bila hendak keluar harus lewat pintu lain. Hal ini dimaksudkan untuk ketertiban dan keramanan, serta meminimalisir dan menghindari pedagang asongan. Terdapat hall yang luas sebagai ruang tunggu pasien, yang hendak melakukan registrasi. Tempat duduknya modern, ruangan ber-AA dan ada pesawat TV, hingga pasien dan keluarga merasa nyaman.

Beberapa loket akan disediakan, seperti loket khusus pasien Jamkesmas dan Jamkesda, loket umum dan loket Jamsostek. Pasien tinggal mengambil nomer antrian di masing-masing loket, dan menanti dipanggil namanya. Setelah dipanggil, petugas akan mengarahkan pasien menuju poli yang dituju. “Di hall akan ditempatkan beberapa petugas, perawat dan dokter, yang berfungsi sebagai among tamu. Mereka akan stand-by pukul 07.00-09.00 WIB setiap hari, secara bergiliran. Saya juga akan kebagian jadi among tamu nanti, ” dr. Bambang  tertawa.

 Baginya, sebagai pimpinan tertinggi RS, bertemu pasien sudah biasa. Setiap hari Sabtu, lewat program “Direktur Menyapa”, ia biasa mengajak beberapa staf terkait untuk bertandang ke kamar-kamar pasien. Ia akan menanyakan langsung tentang kondisi pasien, sakitnya apa, bagaimana pelayanan dokter, menu, kebersihan dll. Kadang, ia juga melakukan kunjungan di malam hari, untuk mengetahui secara langsung bila ada masalah teknis seperti lampu mati, TV rusak, atap bocor, dll. Dan untuk mempererat hubungan dengan jajaran managemen, kadang rapat untuk membahas permasalahan yang muncul, dilakukan di kediamannya.             

Urologi Center

Penghijaun di lingkungan rumah sakit, mendapat perhatian. Termasuk di areal parkir. Dokter, perawat dan seluruh jajaran rumah sakit - staf medis & non medis - sudah dibekali untuk memberikan pelayanan 6S (Senyum, Sapa, Sentuh, Sopan, Santun dan Sabar). Ternyata, masih ada yang terlewat. Yakni petugas parkir, yang adalah orang pertama yang berhubungan dengan pasien dan keluarganya.

“Mereka suka merokok dan memakai baju seenaknya,” ujar dr. Bambang. Menyadari hal itu, dilakukan pengarahan karena bagaimana pun mereka adalah garda depan pelayanan RS.

Sesuai perkembangan jaman dan untuk menampung aspirasi masyarakat  kalangan menegah atas, dibangun fasilitas VVIP/VIP. Di sini tersedia sofa, kursi tunggu, lemari es, AC, air panas, TV, serta fasilitas hot-spot area. “Sejak dioperasikan, meski belum dibuka secara resmi, kelas VVIP/VIP selalu full,” ujar dr. Bambang. Salah satu yang menjadi daya tarik, karena  tarifnya sangat bersaing yaitu hanya Rp.500 ribu/hari, sudah include visite dari dokter. Umumnya, yang memanfaatkan kelas VIP adalah para pejabat daerah Klaten dan sekitarnya. Rencanannya, akan di bangun lagi 2 ruangan VIP  tahun ini.

Secara umum, pelayanan terhadap pasien VIP atau pasien kelas 3 bahkan pasien Jamkesmas tidak dibeda-bedakan. Yang berbeda hanyalah fasilitasnya. Tapi, kadang, ada juga pasien yang nakal. Ketika datang, ia menyatakan diri sebagai pasien umum. Ia menolak dirawat dirawat di kelas 3 atau disatukan dengan pasien Jamkeskas. Ia minta ditempatkan di kelas 2. Setelah sembuh dan mau pulang, ia keberatan membayar tagihan dan minta untuk menjadi pasien Jamkesmas, Jamkesda atau Jamkesprof.

“Ini masalah, karena pihak rumah sakit akan sulit mengklaim,” ujar dr. Bambang. Karena tidak bisa dibayar oleh Pemda, tagihan itu akan menjadi piutang negara, yang bisa saja nantikan akan diputihkan. Bagaimana pun, “Yang dirugikan adalah pihak rumah sakit.”

Direncanakan untuk membangun gedung 4 lantai yang akan di fungsikan sebagai ruang perawatan kelas 1 dan 2. Sementara bangunan lama akan dimanfaatkan sebagai bangsal. Meski terus mengembangkan pelayanan dengan membangun gedung-gedung baru, faktor keamanan mendapat perhatian. Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran, tata ruang dibuat sedemikian rupa sehingga mobil pemadam bisa masuk dan menjangkau seluruh penjuru rumah sakit. Tabung pemadam dan titik hidran diperbanyak.

Pasien yang datang ke RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, terbanyak adalah kasus infeksi saluran pernafasan, penyakit saraf, THT, stroke dan penyakit degeneratif lainnya. Karena kasus stroke cenderung meningkat, tahun ini rencananya akan didirikan Unit Stroke.

Ada pun unggulan pelayanan yang dimiliki yakni bedah tulang belakang seperti kasus kifosis, lordosis dan scoliosis. “Kami memiliki tim bedah tulang yang handal,” ujar dr. Bambang. Sistem pembayaran bagi dokter yang melakukan tindakan operasi adalah cash and carry, dengan pembagian yang telah ditentukan oleh pihak managemen rumah sakit. “Hal ini merupakan upaya untuk menjaga, agar dokter tetap melakukan praktek di rumah sakit ini,” ujarnya.

Mengenai biaya yang harus ditanggung pasien, selalu dilakukan evaluasi secara berkala. Jasa sarana merupakan cost murni, mencakup penggunaan kapas, obat bius, air, dan penghitungan penyusutan alat secara real. “Jangan sampai, tarif jasa pelayananan tinggi, tarif sarana tinggi, mengakibatkan tarif yang tinggi bahkan lebih tingi dari swasta,” ujar dr. Bambang. 

Unggulan lain di rumah sakit ini adalah bidang urologi. Kasus urologi yang di tangani di rumah sakit ini cukup banyak. Sekitar 45% dari keseluruhan jumlah perlakukan operasi di kamar operasi, adalah kasus-kasus urologi. Lainnya adalah kasus  bedah umum, digestif, obgyn, bedah THT, bedah Mata. Dan, untuk dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, akan dibangun klinik di Mahahari Plaza, Klaten.

Ke depan dr. Bambang optimis, RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro mampu menjadi Center Urologi di Jawa Tengah, karena ia yakin dengan kualitas dokter yang ada saat ini. “Sekarang belum sehebat Center Urologi RS Dr. Sardjito (Jogja) atau RS Dr. Kariadi (Semarang). Tapi, beberapa tahun ke depan saya yakin RS. Soeradji Tirtonegero mampu menjadi yang terbaik untuk penanganan kasus urology,” ujar dr. Bambang.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.