RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta Pusat Rujukan Nasional Ortopedi & Rehab Medik | ethicaldigest

RSO Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta Pusat Rujukan Nasional Ortopedi & Rehab Medik

Clubfoot (kaki pengkor) merupakan kelainan bawaan lahir, yang terjadi pada sekitar 1:1000 kelahiran hidup. Dapat terjadi pada satu atau kedua kaki. Clubfoot secara khas ditandai dengan kaki yang menjulur ke bawah, lalu melengkung ke dalam. Dulu, kasus seperti ini umumnya ditanggani dengan operasi. Sejak tahun 2009, penderita kaki pengkor yang datang ke Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, tidak lagi harus menjalani operasi. Pasien cukup diterapi non operatif, yang ternyata lebih efektif.

“Ini merupakan pelayanan terbaru bidang ortopedi, sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujar Direktur Keuangan Drs. Suranto, MM kepada Agung Sutopo dan Yulianto dari Ethical Digest.

Clubfoot disebabkan karena otot yang tidak bisa memanjang secara sempurna. Terapi dilakukan dengan menggunakan gips, agar otot dapat memanjang dan mendekati normal. Diagnosa clubfoot sudah bisa dilakukan pada bayi umur 2 minggu, bahkan kurang. Tergantung, sejauh mana perhatian orangtua.

Pelayanan clubfoot merupakan salah satu unggulan RS ini, yang beralamat di Jalan Jendral. A. Yani, Pabelan, Surakarta. RS ini merupakan Pusat Rujukan Nasional di Bidang Pelayanan Ortopedi dan Rehabilitasi Medik. Hal ini merupakan pengembangan dan penajaman spesialisasi dari Rehabilitasi Centrum (RC), yang didirikan Prof. Dr. R. Soeharso tahun 1951.

RSO Prof. Dr. R Soeharso kini memiliki 4 pelayanan unggulan. Yaitu: 1) Pusat Pelayanan Tulang Belakang, 2) Pengembangan Pelayanan Ortopedi & Traumatologi, Rehabilitasi Medik pada Anak (Rekonstruksi Kelainan Kongenital dan Pencegahan Kecacatan), 3) Rekonstruksi Sendi, Panggul, Lutut dan Pemanjangan Tulang (Illizarov) dan 4) Bedah Tulang Replantasi Anggota Gerak (Jari Tangan dan Rekonstruksi Kecacatan Pada Tangan).

Clubfoot masuk point 2. Jumlah pasien clubfoot sangat banyak. Secara klinis, clubfoot merupakan kelainan bawaan yang disebabkan faktor genetik atau proses kelahiran sungsang.

Pada 2008, sejumlah dokter RSO Prof. Dr. Soeharso dikirim ke manca negara untuk mempelajari pengobatan kelainan clubfoot. Metode non operasi yang digunakan, adalah dengan memasangkan gips. Setiap 1-2 minggu, pasien harus kontrol untuk memperoleh tahapan terapi selanjutnya. “Semakin muda usia pasien yang melakukan terapi, tingkat kesembuhanya semakin baik,” ujar Drs. Suranto. Pasien termuda yang pernah ditangani adalah bayi berumur 5 hari. Lamanya terapi, tergantung dari parah-ringannya kondisi pasien. Ketaatan pasien dalam melakukan tahapan demi tahapan terapi, juga berpengaruh.

Selain clubfoot, TKR (Total Knee Replacement) surgery banyak dilakukan di sini. Tahun 2009, yang ditangani ada 18 kasus. Untuk satu kasus/lutut, membutuhkan dana sekitar Rp.50 juta. “Kami juga menangani pasien Jamkesmas yang membutuhkan operasi TKR,” ujar Drs. Suranto. Pasien yang diprioritaskan yakni bila yang bersangkutan adalah tulang punggung keluarga, dan masih dalam usia produktif.

Memperpendek Waktu Tunggu operasi

CEKATAN (Cepat, Akurat, Aman, Nyaman) adalah motto rumah sakit. Pada tahun 2000, RSO Prof. Dr. R. Soeharso memperoleh status BLU (Badan Layanan Umum). Namun, status BLU baru bisa dilaksanakan secara penuh tahun 2008. “BLU sangat membantu. Kami menjadi lebih fleksibel dan leluasa dalam menggunakan anggaran,” ujar Drs. Suranto. 

Sebelum BLU, waktu tungggu operasi di sini 10 hari. Kadang, petugas sampai kasihan melihat pasien yang datang dari jauh, tapi tidak bisa segera ditangani. Setelah BLU, di mana pelayanan sudah tersistematis, waktu tunggu operasi hanya 1-2 hari. Dari studi kecil-kecilan yang dilakukan, bahkan diketahui bahwa waktu tunggu rata-rata hanya 32 jam; sudah termasuk puasa 6 jam yang harus dijalani pasien sebelum melakukan prosedur operasi. Pasien senang, karena begitu datang langsung disambut oleh petugas.

Pelayanan tersistematis dan terintegrasi, dilakukan dengan membentuk tim-tim yang terpadu dan komperhensif. Disiapkan tenaga penunjang seperti psikolog, untuk ikut menangani pasien. Kehadiran psikolog mulai sebelum operasi - agar pasien lebih tenang - hingga sesudah operasi dan sampai pasien pulang. Ahli nutrisi ikut masuk dalam tim, dan hasilnya nyata. Penelitian yang pernah dilakukan menyatakan, sisa makanan pasien di RS ini hanya 15%. Di banyak rumah sakit, pasien umumnya tidak berselera makan karena hidangan – meski cukup dari segi gizi - terasa tidak enak.

Kelebihan lain RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso, adalah karena RS ini merupakan tempat studi bagi 9 kolegium fakultas kedokteran di Indonesia. Yaitu FK Universitas Sumatera Utara, FK Universitas Indonesia, FK Universitas Padjajaran, FK Universitas Diponegoro, FK Universitas Gadjah Mada, FK Universitas Negeri Surakarta, FK Universitas Airlanga, FK Universitas Udayana dan FK Universitas Hasanudin. Semua dokter yang akan mengambil spesialis ortopedi, harus stase terlebih dulu di rumah sakit ini.

Reguler & Eksekutif 

RSO Prof. Dr. R. Soeharso menempati areal seluas 10 Ha lebih, dengan luas bangunan 2,5 Ha lebih. Pasien yang datang, selain dari Surakarta dan sekitarnya juga dari berbagai kota dan daerah – mulai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. “Kami terus berupaya semaksimal mungkin, untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” ujar Drs. Suranto. Sebagai Pusat Rukukan Nasional di bidang Pelayanan Ortopedi dan Rehabil;itasi Medik, RSO ini satu-satunya di Indonesia.

Pelayanan yang dapat diberikan, termasuk pelayanan kegawat daruratan dan Trauma Center yang buka selama 24 jam. RS ini juga melakukan pelayanan kesehatan menyeluruh (komprehensif), sesuai dengan standar pelayanan yang ada, yang dilakukan secara terstruktur dan berjenjang. Contohnya, jika ada pasien yang mengalami kecelakaan dengan keluhan kepala atau dada yang sakit tanpa ada tanda-tanda patah tulang, akan tetap diterima. Pasien didiagnosa dan kemudian diobservasi. Bila selama 3 hari ternyata diketahui tidak ada ada tulang pasien yang patah tetapi pasien masih mengeluh sakit, yang bersangkutan kemudian dirujuk ke rumah sakit umum.

Sesuai dinamika dan perkembangan di masyarakat, RSO Prof. Dr. R. Soeharso menyediakan 2 jenis pelayanan rawat, yakni pelayanan regular dan pelayanan eksekutif. Pelayanan regular diberikan bagi masyarakat umum, dengan tarif biasa. Pelayanan eksekutif merupakan pelayanan yang ditujukan bagi kalangan menengah atas, dengan fasilitas yang lebih baik.

Pelayanan rawat inap eksekutif diberi nama “Paviliun Wijayakusuma”. Di sini, pasien dan keluarga bisa mendapatkan pelayanan khusus yang nyaman, aman dan  privacy terjaga. Tempat parkir luas Tersedia ruang tunggu yang nyaman dan sangat memadai, dan tempat tidur VVIP berjumlah 16. Fasilitas yang diberikan berupa tempat tidur pasien elektrik, meja di sisi tempat tidur, tempat tidur  dan kursi sofa, 1 set almari pasien, telepon, meja credential, lemari es, TV, ruang ber-AC, fasilitas kamar mandi air panas/dingin dan kitchen seat. Pasien bisa memesan menu makanan yang diinginkan, sejauh tidak bertentangan dengan diet yang mungkin harus dilakukan.

Berikutnya, fasilitas indoor swimming pool serta gym yang dapat digunakan pasien untuk terapi. Fasilitas ini juga terbuka untuk keluarga pasien & umum. Pasien mau pun keluarga diberi kebebasan untuk memilih, dokter mana yang akan menangani. Tarif termahal di Paviliun Wijayakusuma (royal suite room) hanya Rp. 500 ribu / hari. Sejauh ini, BOR di sini sekitar 50%.

 “Kami ingin memanjakan pasien. Fasilitas dan pelayanan yang diberikan, sama dengan pelayanan hotel bintang 4,” ujar Drs. Suranto. Tidak berarti pasien reguler dikesampingkan. Dari total jumlah pasien yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, sebesar 55% adalah pasien Jamkesmas dan Askes

UROK

Sesuai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 Departemen Kesehatan, RSO Prof. Dr. R. Soeharso melakukan upaya preventif, promotif dan rehabilitatif. Hal itu dilakukan melalui kegiatan Unit Rehabilitasi Ortopedi Keliling (UROK). Kegiatan dilakukan  bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten se-eks Karesidenan Surakarta, yang meliputi Kabupaten: Sukoharjo, Sragen, Klaten dan  Karanganyar. 

Kegiatan berupa ceramah ilmiah tentang penyakitr yang berkaitan dengan tulang, pencegahan dan rehabilitasinya. Kemudian, membagikan kursi roda gratis langsung kepada penyandang cacat/lumpuh usia produktif yang kurang mampu. Kegiatan bakti social lain: pengobatan gratis, donor darah, operasi gratis dan pemberian hewan kurban untuk desa tertinggal.

Dan, bekerjasama dengan LSM Bulan Sabit Merah Indonesia diberikan  pelayanan kesehatan dengan mengirimkan dokter spesialis, bagi masyarakat setempat. Kemudian, assesibilitas bagi para penyandang cacat/korban bencana bekerja sama dengan Handicap International, dalam proyek pembuatan kursi roda adaptif sebanyak 230 unit. Ini bukan kursi roda biasa, tetapi kursi roda yang pembuatannya disesuaikan dengan kondisi pasien. Dengan kursi roda khusus ini, pasien dapat mandiri. Misalnya saat mandi, beraktifitas bahkan naik turun tangga. Tahun 2006, telah didistribusikan 112 unit bagi korban gempa bumi di Klaten, DIY dan sekitarnya. Gratis.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.