Vitamin D tidak Bermanfaat Untuk Pencegahan Kanker | ethicaldigest

Vitamin D tidak Bermanfaat Untuk Pencegahan Kanker

Ada penelitian menunjukkan bahwa vitamin D bisa memberi perlindungan terhadap kanker. Namun, hasil-hasil ini bertentangan dengan penelitian-penelitian lain, termasuk satu penelitian terbaru dari Selandia Baru, yang dipublikasikan secara online 19 Juli di Onkologi JAMA.

Penelitian terbaru ini didasarkan pada analisis post hoc penelitian Vitamin D Assessment (ViDA), yang melibatkan 5108 partisipan. Tujuan utama dari penelitian ViDA adalah untuk menyelidiki outcome kardiovaskular.

Mereka menemukan bahwa mengonsumsi vitamin D dosis tinggi selama hingga 4 tahun tanpa kalsium tidak terkait dengan penurunan kejadian kanker atau kematian akibat kanker.

Insiden kumulatif kanker selama follow up dengan median 3,3 tahun adalah 6,5% bagi mereka yang mendapatkan 100.000 IU vitamin D3 setiap bulan. Sebagai perbandingan, kejadian kumulatif kanker selama periode yang sama adalah 6,4% pada mereka yang menggunakan plasebo (rasio hazard yang disesuaikan [HR], 1,01; P = .95).

"Suplementasi vitamin D dosis tinggi bulanan mungkin tidak terkait dengan pencegahan kanker dan tidak boleh digunakan untuk tujuan ini," kata peneliti, Robert Scragg, MBBS, PhD, dari University of Auckland, dan rekan-rekannya.

Scragg dan rekan menulis, penelitian acak lainnya dari suplemen vitamin D telah memberikan hasil yang tidak konsisten. Namun, dia menunjukkan bahwa hasil penelitian terbaru ini konsisten dengan temuan dari penelitian klinis acak sebelumnya dari sampel pasien di Amerika Serikat dan Inggris. Hasil hasil ini juga konsisten dengan hasil dari meta-analisis terbaru terhadap suplementasi vitamin D.

Penelitian ViDA adalah penelitian terkontrol acak, buta ganda dan terkontrol plasebo yang dilakukan mulai 1 Maret 2011 hingga 31 Juli 2015. Endpoin primer adalah efek suplementasi vitamin D pada kejadian penyakit kardiovaskular, tetapi juga menilai efek yang mungkin terkait dengan infeksi pernafasan akut, jatuh, dan fraktur nonvertebral.

Scragg dan rekan berkomentar bahwa temuan dari meta-analisis sebelumnya menunjukkan bahwa suplemen vitamin D "terkait dengan penurunan angka kematian kanker, tetapi bukan kejadian kanker."

Partisipan penelitian ViDA direkrut dari 55 praktik dokter keluarga di Auckland. Usia rata-rata peserta adalah 66 tahun, 58% adalah laki-laki, dan 83% berasal dari ras/etnis Eropa. Sisanya keturunan Polinesia atau Asia Selatan.

Dari peserta, 320 (6,3%) menggunakan tembakau, dan 2173 (42,5%) melaporkan bahwa mereka sebelumnya adalah perokok.

Sebanyak 1.214 (23,8%) peserta mengatakan mereka sebelumnya telah didiagnosis dengan kanker. Kasus kanker didistribusikan secara merata di antara kedua kelompok—dari  2558 partisipan dalam kelompok vitamin D, 622 (24,3%) sebelumnya telah didiagnosis dengan kanker, dibandingkan dengan 592 dari 2550 (23,3%) pasien dalam kelompok plasebo.

Peserta dalam kelompok vitamin D menerima bolus awal 200.000 IU vitamin D3 secara oral, diikuti dengan dosis bulanan 100.000 IU. Semua peserta difollow up hingga 4,2 tahun.

Pada baseline, konsentrasi rata-rata deseasonalized 25-hydroxyvitamin D (25 [OH] D) adalah 26,5 ng / mL. Pada follow up, konsentrasi rata-rata dalam sampel acak 438 peserta secara konsisten lebih tinggi dari 20 ng / mL pada peserta yang mengonsumsi vitamin D dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo.

Studi ini menunjukkan, pada 375 peserta yang didiagnosis dengan kanker setelah randomisasi, tidak ada perbedaan dalam persentase mengkonsumsi vitamin D vs plasebo.

Kanker yang paling banyak diderita adalah melanoma in situ, yang didiagnosis pada 71 peserta, dan melanoma maligna, yang didiagnosis pada 55 peserta. Kanker prostat didiagnosis pada 64 peserta, kanker kolorektal di 38, kanker payudara pada 36, dan kanker limfoid dan hematopoietik di 36.

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita, antara peserta dengan konsentrasi serum 25 (OH) D lebih tinggi dari 20 ng / mL vs lebih rendah dari 20 ng / mL, atau dalam waktu diagnosis setelah randomisasi. Hasil serupa terlihat untuk semua endpoin sekunder.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.