Total Knee Replacement | ethicaldigest

Total Knee Replacement

Total knee replacement (TKR) yang dapat disebut total knee arthroplasty, adalah satu dari prosedur orthopedik yang paling sering dilakukan. Tahun 1997-an,  300.000 total knee replacement dilakukan tiap tahun di Amerika Serikat. Berbagai variasi kondisi patologis yang mempengaruhi lutut, dapat diobati dengan cara ini, yang lebih mudah untuk meringankan rasa sakit, memperbaiki fungsi dan mobilitas.

Fungsi sendi lutut normal sebagai engsel kompleks, selain memberi pergerakan primer fleksi dan ekstensi, juga harus memberikan gerakan rotasi dan gerakan yang luwes. Setidaknya, sendi lutut dibentuk dari tiga kompartemen; lateral, medial dan patellofemoral. Kerusakan kartilago pada satu atau lebih kompartemen, bisa menyebabkan osteoarthritis (idiopatik atau post traumatic), inflammatory arthritis (rheumatoid, psoriatic), nekrosis avaskular, tumor, atau deformitas congenital. Osteoarthritis dan reumatoid artritis adalah dua penyabab utama dilakukannya total knee replacement di dunia.

Pengenalan total condylar prosthesis oleh Insall pada tahun 1972, secara umum dapat dikatakan sebagai awal era prosedur knee replacement “modern”. Lulut palsu ini adalah prosedur yang pertama mengganti ketiga kompartemen dari lutut.

Prosedur total knee replacement modern umumnya dimulai dengan menghilangkan penyakit permukaan articular dari lutut, selanjutnya diikuti dengan melapisi kembali sendi menggunakan komponen metal dan polietilen prostetik. Untuk mereka pasien yang sesuai dengan indikasi, hasil prosedur TKR secara signifikan menghilangkan rasa nyeri, memperbaiki fungsi dan kualitas hidup pasien.

Indikasi

Indikasi utama untuk TKR adalah untuk mengurangi rasa nyeri, yang berhubungan dengan arthritits di lutut pada pasien yang gagal dengan terapi non operatif yang meliputi: modifikasi gaya hidup, mengurangi berat badan, menggunakan alat bantu, penggunaan analgesic dan/atau obat-obatan nonsteroid antiinflamasi.

Total knee arthroplasty bisa dilakukan pada pasien dari segala umur, kecuali secara skeletal belum matang. Perlu diketahui bahwa sendi buatan ini memiliki keterbatasan seumur hidup dan daya tahan dari alat tersebut tergantung dari faktor, yang berhubungan dengan pasien dan arthroplasty. Pertimbangan tersebut antara lain:

  • Umur – angka daya tahan 10 tahun prosthesis dari 11.606 total knee arthroplasty primer, yang dilakukan antara tahun 1978 dan 2000 untuk pasien usia kurang dari 55 tahun, dengan pasien yang usia lebih dari 70 tahun sangat signifikan (83% banding 90%).
  • Penyakit penyebab – ketahanan prosthesis menjadi lebih pendek, pada pasien dengan osteoarthritis daripada pasien dengan rheumatoid arthritis (angka daya tahan 10 tahun prosthesis 90% banding 95%).
  • Faktor prosthesis dan bedah – tipe prosthesis, teknik fixasi (semen banding bukan semen) dan faktor lain seperti sparing dari cruciate ligament posterior, juga mempengaruhi daya tahan prosthesis.

Dengan demikian, dari sudut pandang ketahanan prosthesis kandidat yang ideal dari total knee arthroplasty, adalah pasien berusia lebih dari 70 tahun. Namun,  tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan pada mereka dengan usia yang lebih muda, dengan tujuan memperbaiki fungsi atau menghilangkan nyeri akibat osteoartritis.

Sebaliknya, prosedure TKR sebaiknya tidak dilakukan pada beberapa keadaan klinis seperti dibawah ini:

  • Infeksi yang aktif pada lutut atau di seluruh tubuh
  • Mekanisme ekstensor yang tidak berfungsi
  • Sirkulasi atau vaskularisasi ekstremitas yang jelek
  • Penyakit neurologis yang berpengaruh pada ekstremitas

Minimally Invasive Total Knee Replacement

Minimal invasive total knee replacement merupakan salah satu dari knee replacement invasive, yang bisa digunakan akhir-akhir ini. Prosedure ini didesain untuk membuat operasi dan rehabilitasi menjadi lebih mudah. “Ini adalah teknik, yang secara spesifik didesain untuk memungkinkan ahli bedah melakukan operasi total knee replacement tanpa manipulasi atau sayatan pada tendon dan otot quadriceps, yang mengontrol kelenturan lutut,” jelas dr. Jeffrey Chew, Konsultan Orthopedi Mount Elizabeth Hospital, Singapura, saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam hal menghilangkan rasa sakit akibat penyakit artritis, prosedur minimal invasive memungkinkan pasien untuk pulih dan kembali pada pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, lebih cepat daripada mereka melakukan operasi knee replacement konvensional.

Menurut Chew, operasi knee replacement konvensional sudah terbukti sangat sukses dalam meringankan rasa sakit dan mengembalikan mobilitas pasien artritis sendi. Tetapi, rehabilitasi setelah operasi konvensional membutuhkan waktu yang lama dan menyakitkan. Orang sering menunda knee replacement karena tidak mau meninggalkan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari selama beberapa bulan. Selain itu beberapa memperhatikan tentang lamanya bekas luka operasi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.