Tidur Nyenyak dengan Antimuskarinik | ethicaldigest

Tidur Nyenyak dengan Antimuskarinik

Bersama dengan proses penuaan, seseorang bisa mengalami masalah tidur dan inkontinensia urin. Sebuah penelitian yang dipublikasikan secara online 11 Januari 2018 di Obstetric and Gynecology memperlihatkan, obat anti muskarinik yang biasa digunakan mengatasi inkontinensia urin, bisa memperbaiki masalah tidur.

Ini penelitian analisis sekunder data dari Bringing Simple Urge Incontinence Diagnosis and Treatment to Providers (BRIDGES), suatu penelitian klinis fesoterodine 12 minggu dengan disain acak, buta ganda plasebo terkontrol. Penelitian dilakukan terhadap psien wanita rawat jalan yang melakukan self didiagnosis urgensi inkontinensia urin (UUI).

UUI adalah kondisi dimana otot kandung kemih berkontraksi tidak terkendali. Ditandai dengan frekuensi kencing yang tinggi, sering buang air kecil di malam hari, dorongan mendadak untuk buang air kecil, dan kebocoran urin yang tidak disadari. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Obat antimuscarinik, seperti fesoterodine, membantu mengendalikan buang air kecil dengan menghambat aktivitas reseptor asetilkolin muskarinik. Agen ini "memblokir” reseptor sehingga kandung kemih lebih tenang. Fesoterodine adalah obat oral yang diminum sekali sehari. Obat ini banyak digunakan untuk kandung kemih yang terlalu aktif dan inkontinensia urgensi.

Dalam penelitian multicenter BRIDGES, wanita secara acak diberi placebo atau obat antimuskarinik dengan dosis 4 - 8 mg/ hari. Usia rata-rata pasien 56 tahun, dua pertiganya berkulit putih. Analisis saat ini mencakup 270 wanita pada kelompok plasebo dan 277 pada kelompok perlakuan.

Endpoin utama adalah perubahan dalam Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sebuah kuesioner self-rated yang mengevaluasi kualitas tidur selama sebulan terakhir. Endpoin lainnya adalah kantuk di siang hari, seperti yang dinilai dengan Epworth Sleepiness Scale (ESS), yang terdiri dari 8 item yang mengukur kemungkinan tertidur atau tertidur saat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti membaca atau menonton TV.

Penelitian ini menunjukkan perbaikan pada kedua kelompok. Tetapi wanita yang menerima terapi antimuscarinik melaporkan peningkatan skor PSQI secara signifikan, dibanding mereka yang menerima plasebo (perbedaan, 0,48; Confidence interval 95% CI, 0,08 - 0,89 [P = .02] setelah dilakukan penyesuaian usia, ras, etnisitas, lokasi klinis, dan tingkat keparahan inkontinensia).

Dibanding wanita yang mendapatkan plasebo, kelompok perlakuan melaporkan peningkatan yang signifikan pada subskala durasi tidur PSQI (perbedaan, 0,14; 95% CI, 0,03 - 0,24; P = 0,009) dan subskala efisiensi tidur PSQI (perbedaan, 0,17; 95% CI, 0,03 - 0,31; P = .02).

Tidak ada perbedaan signifikan pada skor ESS, antara kedua kelompok (P = 0,39). Tidak jelas mengapa obat tersebut memperbaiki kualitas tidur, tapi tidak mengurangi kantuk di siang hari.

Kedua kelompok juga mengalami perbaikan inkontinensia. Namun, wanita dalam kelompok perlakuan mengalami penurunan inkontinensia, inkontinensia urgen dan inkontinensia malam hari yang signifikan. Selain mengurangi gejala inkontinensia, pengobatan bisa memperbaiki tidur karena efek sedasinya.  Obat antimuskarinik dan antikolinergik bisa menghasilkan somnolen.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.