Reaksi Kulit Terapi Kanker | ethicaldigest

Reaksi Kulit Terapi Kanker

Pasien kanker yang mendapatkan imunoterapi standar dengan penghambat programmed cell death protein 1 (PD-1) mungkin akan  mengalami reaksi pada kulit beberapa bulan setelah penggunaan. Karena itu, “monitor reaksi kulit sebelum dan setelah menghentikan imunoterapi," kata penulis utama penelitian terbaru, Emily Y. Chu, MD, PhD, dari Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania, Philadelphia, dan rekan-rekannya.

Dalam penelitian yang dipublikasikan secara online pada 18 Juli di JAMA Dermatology, para peneliti menunjukkan bahwa penggunaan imunoterapi anti-PD-1 seperti pembrolizumab (Keytruda, Merck & Co, Inc.) dan nivolumab (Opdivo, Bristol-Myers Squibb) telah menjadi standar pengobatan pasien dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru dan melanoma. Dan, sekitar 40% dari pasien ini mengalami penyakit otoimun yang mempengaruhi kulit, termasuk eritema multiforme, eksim, lupus, dan sarkoidosis.

"Waktu paruh eliminasi rata-rata dari pembrolizumab dan nivolumab adalah sekitar 26 hari, tetapi efek inhibitor PD-1 hampir pasti lebih lama," tulis peneliti. "Karena itu, cutaneous irAE [efek samping terkait imun] yang terkait dengan terapi inhibitor PD-1 tidak sesuai dengan profil reaksi obat-obatan yang sudah ada sebelumnya."

Dalam penelitian terbaru ini, 12 pasien pria dan lima wanita (usia rata-rata 68,6 tahun) mengalami reaksi kulit merugikan, rata-rata setelah 4,2 bulan (rentang, 2 minggu sampai 38 bulan) setelah pemberian terapi anti-PD-1 dengan pembrolizumab, nivolumab, atau dengan kombinasi nivolumab dan ipilimumab (Yervoy, Bristol-Myers Squibb). Dalam lima kasus, reaksi merugikan muncul setelah terapi obat dihentikan.

Dua belas pasien telah diobati dengan inhibitor PD-1 untuk melanoma, tiga untuk karsinoma sel skuamosa, dan dua untuk karsinoma sel ginjal. Semua telah dirujuk oleh onkologis ke klinik dermatologi antara 1 Januari 2014 sampai 28 Februari 2018.

Reaksi kulit yang merugikan termasuk dermatitis lichenoid, pemfigoid bulosa, eritema multiforme, eksim, lupus, dan sarkoidosis.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh University of Pennsylvania, Chu menulis bahwa para peneliti "tidak dapat secara definitif mengatakan bahwa reaksi kulit yang terjadi setelah pengobatan dihentikan disebabkan oleh terapi." Namun, ia menambahkan, "reaksi yang kami temukan adalah ciri khas dari kondisi kulit yang dikaitkan dengan penggunaan anti-PD-1."

Sebagian besar reaksi kulit yang merugikan dengan mudah diobati dengan terapi konservatif, termasuk steroid topikal, program singkat steroid sistemik, dan / atau penghentian sementara pengobatan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.