Perkembangan Angioplasty1 | ethicaldigest

Perkembangan Angioplasty1

Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP) atau yang sering disebut dengan tindakan angioplasty primer, merupakan tindakan darurat untuk melakukan rekanalisasi dengan teknik intervensi perkutan. Pada angioplasty primer digunakan guide wire, balloon catheter dan alat intervensi lain. Tujuannya untuk menghilangkan thrombus yang menutup pembuluh darah koroner, sehingga aliran darah menjadi normal kembali dan keadaan infark mau pun kerusakan otot jantung dapat dicegah. “Angioplasti primer dapat mengembalikan aliran darah yang terhenti oleh thrombus. Tindakan ini lebih baik dari terapi trombolitik, dengan angka keberhasilan mendekati 100%,” ujar dr. Dicky A Hanafi, SpJP(K).

Ada penelitian besar yang membandingkan percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA) primer dan terapi trombolitik adalah PAMI. The Primary Angioplasty in Myocardial Infarction (PAMI) trial menyelidiki pasien dengan infark akut sebelum 12 jam untuk dilakukan PTCA, atau diberi recombinant tissue plasminogen activator. Di sini, pemberian terapi dilakukan secara acak. PTCA dilakukan pada 89% pasien dan sukses 97%, di mana 94% pasien mendapat aliran TIMI-3 dalam 60 menit. Selain itu terdapat beberapa keuntungan dari prosedur PTCA. Di antaranya:

  1. Insiden iskemia rekuren dan kejadian reifark, mau pun ujilatih jasmani berkurang secara bermakna.
  2. Mortalitas di rumah sakit berkurang dan gabungan angka kematian dan infark non fatal dalam 6 bulan juga berkurang. Mereka dari kelompok risiko tinggi yang paling diuntungkan dengan tindakan ini.
  3. Pada pemantauan selama 2 tahun, didapatkan iskemia rekuren berkurang dari 48% menjadi 36%, tindakan intervensi sebesar 47% menjadi 27%, dan gabungan antara mortalitas dan reinfark berkurang dari 23% menjadi hanya 15%.

Penelitian di Belanda juga menunjukkan, angioplasty primer dapat menurunkan kejadian reinfark secara bermakna (p=0.003). Faal jantung pada angioplasty juga lebih baik dengan EF 51%, berbanding 42% dengan p=0.004. Studi lain menunjukan primary end point (gabungan angka kematian, reinfark non fatal dan stroke) berkurang, pada kelompok angioplasty yaitu 9,6% berbanding 13,7%.

Primary Coronary Angioplasty Trial (PCAT) sebagai sebuah metaanalisis dari 10 penelitian yang secara acak membandingkan angioplasty dengan terapi trombolitik dari tahun 1989 sampai 1996, juga  menunjukan bahwa angioplasty primer dapat menurunkan mortalitas sebesar 34% (4,4% berbanding 6,5%, dengan p=0.02); gabungan kematian dan reinfark berkurang 40% (7,2% berbanding 11,9% dengan p<0.001); total stroke berkurang (0,7% berbanding 2,0%, dengan p=0.007), dan kejadian stroke karena perdarahan berkurang (0,1% berbanding 1,1% dengan p<0.001).

Menurut dr. Dicky, kelemahan angioplasty primer yang harus diperbaiki adalah tingginya restenosis, setelah suksesnya tindakan. Dilaporkan, kejadian restenosis atau penyempitan kembali mencapai angka 20-40%, dan tidak menutup kemungkinan angka tersebut akan lebih tinggi lagi pada keadaan darurat infark jantung akut. Dua studi terdahulu melaporkan bahwa angka restenosis pada angioplasty primer untuk infark jantung akut sebesar 31% dan 36%. Sedangkan kejadian reoklusi sebesar 9%, meski follow up angiografi hanya dilakukan pada 70% pasien yang mengikuti penelitian. “Akumulasi trombosit pada tempat angioplasty, menjadi salah satu penyebab restenosis dan reoklusi. Karena itu, pemberian obat antiplatelet yang cukup diharapkan dapat mengurangi kejadian tersebut,” tambahnya.

Angioplasty primer VS primary stent

Meski angioplasty primer lebih baik dari terapi trombolitik, masih memiliki kekurangan seperti disebut di atas berupa kejadian reoklusi dan restenosis, sehingga pasien terkadang harus melakukan tindakan angioplasty ulang. Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir, pemasangan stent terbukti dapat mengurangi kejadian restenosis pada pasien.

Studi permulaan menunjukkan, pemasangan stent pada infark ternyata memberikan hasil yang lebih baik dari procedure angioplasty. Dari sini, penelitian kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan secara acak dan membandingkan antara penggunaan stent dengan angioplasty, pada kasus infark jantung akut.

Sebuah metaanalisis yang dibuat tahun 2005, setidaknya melibatkan 4433 pasien infark jantung akut. Penelitain ini membandingkan penggunaan stent dengan angioplasty. Hasilnya, pemasangan stent secara bermakna dapat mengurangi kejadian reinfark dengan odds ratio (OR) mencapai 0,52, 95% Cl 0,31 – 0,87 pada 30 hari, dan OR 0,67, 95% Cl 0,45 – 0,98 pada satu tahun, dengan target vessel revascularization (TVR) 0,45, 95% Cl 0,34 – 0,60 pada 30 hari dan OR 0,47, 95% Cl 0,38 – 0.57 setelah 1 tahun.

Sebuah penelitian di Belanda juga menyelidiki manfaat primary stent, dibandingkan dengan angioplasty primer pada 227 pasien dengan infark jantung akut. Hasilnya menunjukkan, tindakan primary stent pada infark jantung akut aman dan efektif mengurangi kejadian reinfark pada pasien dengan nilai TVR yang lebih baik, di bandingkan angioplasty primer. Angioplasty lebih dipilih jika terdapat kontraindikasi terhadap clopidogrel, adanya left main disease atau multi vessel disease.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.