Pengobatan Kanker Dengan Efek Samping Minimal | ethicaldigest

Pengobatan Kanker Dengan Efek Samping Minimal

EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) adalah jaringan tubuh yang jumlahnya berlebihan pada penderita kanker, dan merupakan pertanda bahwa penyakit lebih cepat memburuk. Hal ini sering ditemukan pada penderita kanker kepala dan leher, kanker usus, kanker paru, glioma (salah satu jenis kanker otak), kanker esophagus, kanker pancreas, kanker prostat, kanker leher rahim, kanker payudara dan beberapa jenis kanker padat yang lain.

Perusahaan farmasi Innogene Kalbiotech Pte Ltd, anak perusahaan Kalbe Farma yang berbasis di Singapura, mengembangkan obat kanker TheraCim (Nimotuzumab), yakni obat antibodi monoklonal. Obat ini masuk golongan ”targeted therapy”, yang digunakan melalui suntikan. Cara kerja obat sangat selektif, dengan menjadikan zat-zat spesifik dalam tubuh yang berperan dalam proses pertumbuhan kanker sebagai ”target” pengobatan. ”Berbeda dengan pengobatan kanker konvensional, kemoterapi,” kata Soehartati Gondhowiardjo, MD, PhD., Ketua Departemen Radioterapi RSCM/FKUI.

Target pemberian TheraCim (Nimotuzumab) adalah menekan dan mengurangi EGFR, agar tidak mengalami jumlah yang berlebihan. Sehingga, harapan dan kualitas hidup penderita kanker  meningkat, serta berpotensi untuk mengobati bermacam kanker. Menurut Koordinator Penelitian dan Pengembangan Departemen Bedah Saraf FKUI/RSCM, Dr. dr Renindra Ananda Aman, SpBS., pemberian Nimotuzumab kepada penderita kanker stadium dini, dapat meningkatkan kualitas hidup sampai 5-10 tahun. Sementara untuk derajat tiga meningkat 2-3 tahun, sedangkan untuk derajat empat kualitas hidup bertambah 12 bulan.

Uji klinik TheraCim (Nimotuzumab) telah dilakukan di Eropa, Amerika, Jepang, Asia, dan Cuba, melibatkan ribuan pasien dengan beberapa jenis kanker. Di India, Columbia, Ukraina, Peru, dan Pantai Gading, targeted therap ini telah disetujui untuk indikasi kanker kepala dan leher. Di China untuk indikasi kanker nasofaring, Cuba dan Argentina untuk indikasi glioma dan kanker kepala & leher.

 Innogene Kalbiotech Pte Ltd juga bekerja sama dengan Pusat Kanker Nasional Singapura untuk melakukan uji klinik multisenter untuk kanker kepala dan leher. Sedangkan di Indonesia, Kalbiotech bekerjasama dengan RSCM untuk uji klinis kanker serviks.

Saat ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah memberi ijin edar TheraCIM (Nimotuzumab) kepada PT Kalbe Farma atas lisensi Innogene Kalbiotech Pte Ltd. Meski begitu, perijinan hanya untuk indikasi glioma pada anak dan remaja yang mengalami kegagalan pada terapi sebelumnya, sedangkan indikasi lainnya masih dalam proses seperti pada kanker serviks. 

TheraCim (Nimotuzumab) bukan satu satunya obat golongan targeted therapy yang bekerja terhadap EGFR. Kelebihannya adalah efek sampingnya jauh lebih ringan dibandingkan obat kanker konvensional. Pasien umumnya tidak akan mengalami rambut rontok, muntah atau penurunan kadar sel darah putih, seperti pada kemoterapi konvensional. Selain itu memiliki efek samping yang lebih ringan dibanding target therapy lainnya.

”Tidak akan ditemukan adanya efek samping yang khas semacam jerawat atau bisul, dalam berbagai tingkat keparahan di permukaan tubuh yang dikenal dengan skin rash, seperti pada obat-obat anti-EGFR sebelumnya,” kata Associate Proffesor Mark David Vincent, ahli onkologi dari pusat ilmu kesehatan London.

Efek samping skin rash memang tidak mengancam jiwa. Tapi, jika sudah masuk grade 2 atau medium, efek samping ini sangat mengganggu kenyamanan dan penampilan pasien. Tidak sedikit pasien yang rela berkorban menerima efek skin rash, karena ada penelitian yang menunjukkan khasiat obat anti-EGFR sebanding dengan munculnya skin rash. Semakin berat skin rash, khasiat obat makin baik.

Hal ini tidak berlaku pada TheraCIM (Nimotuzumab). Pasien akan mendapat manfaat,  dengan respon klinis positif. Sebagian besar tidak mengalami skin rash, apalagi dalam tingkat yang berat. ”Dengan efek samping minimal, diharapkan obat ini bisa diberikan dalam jangka panjang. Sehingga, impian membuat kanker menjadi penyakit kronis yang tidak mematikan bisa dicapai, dan kualitan hidup pasien bisa menjadi lebih baik,” ujar Prof. Mark David Vincent.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.