Obat Oral Endometriosis | ethicaldigest

Obat Oral Endometriosis

Pengobatan

Sampai saat ini, tidak ada pengobatan permanen untuk mengatasi endometriosis. Menurut Prof. Ali, tujuan pengobatan yang ada adalah untuk menghilangkan nyeri, memperlambat pertumbuhan endometriosis, meningkatkan kesuburan dan untuk mencegah kambuhnya endometriosis setelah pengobatan.

Pilihan pengobatan endometriosis antara lain obat nyeri, seperti non steroid anti inflamatory drugs (NSAIDs) dan terapi hormone; dalam hal ini dapat digunakan oral kontrasepsi, progestin dan analog hormone pelepas gonadotropin (GnRH-analog). Sementara operasi laparoskopi dapat dilakukan untuk mengangkat lesi endometrium, namun lesi tersebut bisa saja kembali kambuh. Di sisi lain, beberapa wanita menggunakan terapi nutrisi sebagai terapi pendukung, untuk masalah nyeri endometriosis.

Beberapa pengobatan di atas dapat saja tidak memenuhi kebutuhan wanita dengan endometriosis, serta kemungkinan hanya aman dan efektif digunakan pada jangka waktu tertentu. Pengobatan dengan GnRH-analog misalnya, hanya dapat digunakan pada waktu-waktu tertentu dan akan menimbulkan beberapa efek samping misalnya pengeroposan tulang.

Untuk itu, dibutuhkan pengobatan yang lebih spesifik, efektif dengan profil keamanan yang baik agar penderita endometriosis dapat memakainya dalam jangka panjang.

Dienogest 2 mg

Ini merupakan pengobatan terbaru untuk menghilangkan nyeri akibat endometriosis, yang sudah dapat ditemukan di Indonesia. Dienogest adalah obat oral yang diindikasikan untuk pengobatan endometriosis dan untuk menghilangkan nyeri. Menurut Prof. Ali, progestin merupakan turunan progesterone alamiah yang memainkan peran penting dalam siklus menstruasi dan kehamilan. Secara garis besar, endometriosis dianggap sebagai penyakit yang tergantung pada estrogen. Pemberian progestin dalam dienogest ini akan bekerja menurunkan produksi hormone estrogen dalam tubuh, sehingga pertumbuhan lesi endometrium berkurang.

Setidaknya, terdapat beberapa tipe progestin. Dienogest dipilih karena profilnya yang sesuai untuk pengobatan endometriosis. Dalam sebuah penelitian dinyatakan bahwa dienogest terbukti dapat mengecilkan jaringan endometrium. Obat ini juga tidak terkait dengan beberapa efek samping, yang dapat ditimbulkan oleh pengobatan lain untuk endometriosis. Beberapa obat terdahulu, seperti diketahui, dapat meningkatkan kadar androgen, mengakibatkan pertumbuhan rambut yang tentunya tidak diinginkan kaum hawa, serta secara signifikan dapat menurunkan kadar esterogen dalam tubuh atau memiliki efek hipoesterogen. Dan, selanjutnya, mengakibatkan terjadinya penipisan tulang dan hot flushes, seperti gejala pada wanita dengan menopause.

Dienogest telah teruji secara klinis, dalam penelitian yang melibatkan 600 wanita dengan endometriosis. Dalam uji klinis tersebut disebutkan bahwa preparat ini secara efektif dapat menurunkan nyeri pada wanita dengan endometriosis sampai 15 bulan, dan secara signifikan menurunkan lesi endometrium. Pada uji klinis tersebut dienogest dinyatakan efektif mengurangi beberapa nyeri endometriosis, termasuk nyeri panggul, nyeri menstruasi, nyeri pre-menstruasi, dan nyeri senggama. Dalam studi selama 3 bulan, dienogest dibandingkan dengan placebo. Hasilnya, dienogest secara signifikan menurunkan tingkat nyeri yang sangat superior, jika dibandingkan dengan kelompok placebo.

Penelitian lain juga menunjukkan, dienogest sama efektifnya dengan GnRH-Analog, dalam hal menggurangi nyeri endometriosisnya.

Secara umum, dienogest dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang ditimbulkan dalam uji klinis untuk mengetahui profil keamanan dan efek samping dari obat ini, di antaranya sakit kepala (9%), rasa tidak nyaman di payudara (5,4%), depresi (5,1%) dan jerawat (5,1%).

Perubahan dalam darah menstruasi seperti adanya spotting (bercak darah pada saat menstruasi), perdarahan yang tidak teratur atau amenorrhea (tidak menstruasi), merupakan hal umum yang terjadi pada wanita yang mengonsumsi terapi progestin seperti dienogest. Namun secara keseluruhan, frekuensi dan intensitas perdarahan menstruasi akan menurun secara progresif dengan menggunakan dienogest. “Untuk itu mengonfirmasikan adanya perubahan pola menstruasi pada pasien endometriosis merupakan hal penting, yang perlu dilakukan dokter sebelum meresepkan obat ini kepada pasien” tambahnya.

Selama 6 bulan uji klinis, tidak ditemukan adanya penurunan intensitas mineral tulang pada pasien yang mengonsumsi dienogest. Bahkan dilaporkan adanya penebalan tulang, setelah pasien usai diterapi dengan dienogest.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.