Obat Lama yang Tetap Oke (1) | ethicaldigest

Obat Lama yang Tetap Oke (1)

Spirinolakton

Spirinolakton, suatu diuretik lemah dan antagonist aldosteron, diperkenalkan pada 1959. Update guideline tahun 2017 tetap mengajurkan penggunaannya untuk pengobatan pasien dengan gagal jantung, dengan preserved ejection fraction. Obat ini juga berperan penting dalam penatalaksanaan hipertensi, yang refrakter terhadap pengobatan sebelumnya.

Aldosteronisme primer, bentuk terbanyak daru hipertensi sekunder, mempengaruhi sekitar 5-10% pasien dengan hipertensi refrakter dan merupakan suatu kondisi di mana penggunaan spironolakton sangat efektif. Penelitian paling baru menunjukan, aldosteronisme bisa terjadi pada pasien dengan hipertensi yang tidak berat dan bahkan ditemukan pada pasien dengan tekanan darah normal.

Eplerenone, suatu antagonist aldosterone, memiliki profil efek samping yang lebih baik, terutama berkenaan ginekomastia. Ada penelitian klinis membandingkan spirinolakton dengan eplerenone, pada pasien dengan intoleransi glukosa atau diabetes. Diharapkan hasilnya bisa keluar di musim semi 2018 ini. Meski demikian, spironolakton masih menjadi pertimbangan karena murah. Jadi obat ini akan tetap memiliki peran penting.

Diuretik non loop

Diuretik awalnya berasal dari herbal, yang telah digunakan setidaknya sejak abad 16, saat menjadi terap utama dalam pengobatan edema. Senyawa diuretik pertama, organomerkurial, diganti dengan penghambat anhidrase karbonik di pertengahan tahun 1940-an. Pada 1960-an, hidroklorothiazide mendapat persetujuan dan sekitar tahun tersebut, American Heart Association dan National Institute of Health melaporkan penurunan angka kematian, yang sebagian karena penggunaan antihipertensi thiazide yang baru.

Nilai diuretik thiazide dalam mengobati hipertensi masih tetap. Thizide tetap tulang punggung berbagai guideline terapi antihipertensi lini pertama, dianjurkan sebagai alternative lini kedua dan ketiga ketika dikombinasikan dengan obat lain.

Diuretik lain yang lebih tua adalah Chlorthalidone, yang memiliki data outcome paling kuat dan obat lini pertama paling dianjurkan pada update guideline American College of Cardiology/American Heart Association 2017 untuk pengobatan hipertensi, ketika tidak ada komorbiditas lainnya.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.