Nyeri Hebat Turunkan Daya Ingat | ethicaldigest

Nyeri Hebat Turunkan Daya Ingat

Orang dewasa yang berusia lebih tua dengan tingkat rasa sakit yang tinggi lebih mungkin mengalami gangguan daya ingat, dibandingkan mereka dengan tingkat nyeri rendah. Demikian kesimpulan satu penelitian terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Pain, online 10 Juli 2018.

"Temuan ini memberikan bukti bahwa rasa sakit adalah faktor risiko (yang dapat dimodifikasi) untuk gangguan memori, dan mereka menggarisbawahi pentingnya pemantauan rasa sakit pada orang dewasa yang lebih tua," tulis Dr. Guusje van der Leeuw dari Albert Einstein College of Medicine di New York City kepada Reuters Health melalui email.

Dr. van der Leeuw dan rekannya secara prospektif mempelajari 441 peserta tanpa demensia yang berusia setidaknya 65 tahun dan terdaftar dalam Central Control of Mobility in Aging Study. Mereka menganalisis hubungan antara skor pada skala keparahan nyeri Medical Outcomes Study dan Repeatable Battery for the Assessment of Neuropsychological Status dan Trail Making Test Delta.

Selama follow up yang rata-rata 2,75 tahun, tidak ada perbedaan dalam risiko terjadinya gangguan kognitif antara 285 peserta dengan rasa sakit dan 156 tanpa rasa sakit.

Tetapi di antara mereka yang menderita nyeri, kemungkinan mengalami gangguan memori tiga kali lebih tinggi bagi daripada mereka dengan tingkat nyeri yang rendah, setelah dilakukan penyesuaian usia, jenis kelamin, pendidikan dan etnisitas (rasio hazard, 3,47) .

"Nyeri adalah kondisi yang umum terjadi, mempengaruhi lebih dari setengah orang dewasa yang tinggal di komunitas," kata Dr. Van der Leeuw. "Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa rasa sakit dapat mempengaruhi kognisi. Hal ini sebagian dapat dijelaskan karena rasa sakit menuntut perhatian dan lebih utama dari fungsi kognitif lainnya. Namun, tidak diketahui apakah rasa sakit memiliki efek jangka panjang pada kognisi."

Dr Douglas Scharre, direktur divisi neurologi kognitif di The Ohio State University Wexner Medical Center di Columbus, mengatakan, dia tidak terlalu terkejut dengan hasilnya karena rasa sakit serta penggunaan analgesik dan psikotropika dapat mempengaruhi kemampuan kognitif.

"Akan sangat berguna untuk mengetahui apakah mereka yang menderita sakit berat menggunakan analgesik dosis tinggi, yang dapat mempengaruhi kognisi," Dr. Scharre, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan kepada Reuters Health melalui email.

Dr. Howard L. Feinberg, seorang profesor rheumatologi di Universitas Kedokteran Osteopathic Touro University di Vallejo, California, yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa hasil ini membantu "dokter langsung untuk mengobati rasa sakit yang dapat mempengaruhi memori dan menghindari pengobatan (yang bisa memperburuk penurunan daya ingat)."

"Nyeri sangat subyektif dan sering dipengaruhi oleh budaya," ia memperingatkan melalui email kepada Reuters Health. "Meskipun penelitian ini menggunakan penilaian nyeri standar, hasil ini perlu ditinjau dan diulang pada populasi lain yang memiliki latar belakang sosial ekonomi dan latar belakang budaya berbeda, serta dari daerah berbeda, untuk diverifikasi."

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.