LASER Thulium 150W Atasi Pembesaran Prostat | ethicaldigest

LASER Thulium 150W Atasi Pembesaran Prostat

LASER sudah tak asing ladi dalam kehidupan kita. Contoh alat yang biasa kita gunakan dan menggunakan energi LASER misalnya pointer untuk presentasi. Alat ini menggunakan LASER tingat rendah atau LASER kelas 2. Kemudian DVD player, printer, auto fokus pada kamera dan lain-lain. LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “sinar yang terbentuk dari pancaran radiasi yang sudah distimulasi”.

LASER sudah diperkenalkan sejak jaman dahulu. Teori mengenai LASER pertama kali dimunculkan oleh ilmuwan terkenal dunia Albert Einstein, yang menyatakan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik bermuatan partikel dan energi. Lalu, sekitar tahun 1958, Gordon Gould mulai memodifikasi pernyataan Einstein tersebut, yang membuatnya mendapatkan paten atas LASER pada tahun 1977.

Menurut dr. Gideon Tampubolon, SpU, dari RS Premiere Bintaro, LASER bersifat monokromatik, koheren yang artinya merupakan satu gelombang dengan satu frekwensi yang memiliki satu arah yang sama dan terkonsentrasi, sehingga menghasilkan energi yang sangat kuat dan memungkinkan energi LASER digunakan dalam dunia medis.

Media penghasil LASER dapat berupa benda padat, gas, cair atau semikonduktor. “Media padat yang digunakan untuk pertama kali adalah batu rubby, sementara yang berasal dari gas dihasilkan melalui gas C02,” jelas dr. Gideon.

Berdasarkan kekuatannya, energi LASER yang dihasilkan bisa berdaya mW hingga MW. Dengan klasifikasi kelas 1, 2, 3, dan 4. Pada jenis LASER kelas 4, bisa digunakan untuk memotong atau menghancurkan sebuah benda. Ini yang kemudian digunakan pada alat kedokteran untuk menyayat jaringan pada kasus pembesaran kelenjar prostat, menggunakan LASER Thulium 150W. Selain penggunaannya pada bidang kedokteran urologi, LASER telah dirasakan manfaatnya di bidang kedokteran kulit yaitu untuk menghilangkan flek hitam pada wajah.

Pembesaran Prostat

Secara alamiah, urine yang berkumpul pada kantung kemih akan berjalan melewati prostat, dan diteruskan melalaui saluran kencing saat kita buang air kecil. Sayangnya, proses ini dapat terganggu jika terjadi pembesaran kelenjar prostat. Bahkan, pasien bisa tidak bisa kencing  alias ‘macet’. Salah satu pemicu terjadinya pembesaran prostat adalah meningkatnya usia (ageing).

Umumnya, dokter akan memastikan diagnosis pembesaran prostat melalui wawancara + scoring, menggunakan International Prostate Symptom Score (IPSS), pemeriksaan laboratorium rutin dan penilian PSA (prostate specific antigen), uroflowmetri, pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (USG) dan colok dubur.

Ketika diagnosis sudah ditegakkan, terapi pembesaran kelenjar prostat dapat dilakukan dengan beberapa modalitas. Pada kondisi yang masih ringan, dokter cukup melakukan observasi dan kontrol 6 bulanan. Jika sudah bergejala, pasien dapat mengonsumsi obat alfa blocker, 5 alfa reductase inhibitor. Sementara pada kondisi yang berat (tidak bisa buar air kecil) dapat dilakukan operasi. “Dulu, operasi dilakukan melalui bedah terbuka (open surgery). Saat ini sudah jarang dilakukan, kecuali terdapat kompikasi seperti adal batu di kandung kemih. Dokter dapat juga melakukan Tran’s Urethral Resection (TUR), thermotherapy, pemasangan stent, dan yang terbaru dengan menggunakan LASER,” jelasnya.

Secara teknis, saat terapi menggunakan LASER dilakukan, urolog akan memasukkan ujung LASER melalui lubang penis, hingga mencapai prostat. Dapat juga digunakan untuk melihat kondisi kandung kemih. “Jika di dalam kandung kemih ditemukan ada batu, dapat langsung dihancurkan menggunakan LASER,” jelasnya.

Meski sampai saat ini metode Trans Urethral Resection menggunakan cutting loop merupakan gold standard dalam penaganan pembesaran prostat, terapi ini dapat mengakibatkan terjadinya pendarahan. Selain itu, dokter membutuhkan waktu yang lebih lama dalam melakukan procedure (minimal 60 menit). Dengan efek samping yang paling ditakutkan dari prosedure ini adalah rusaknya saraf-saraf prostat, yang dapat mengakibatkan impotensi. Ada pun lama rawat di rumah sakit 3-4 hari.

Dengan menggunakan LASER Thulium 150 W, jaringan prostat yang menutupi saluran kencing dapat dengan mudah dihancurkan. Perdarahan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan prosedur TUR. Masa rawat pasien menjadi lebih singkat. “Hanya dalam 2 hari, pasien sudah bisa pulang dan beraktivitas seperti biasa,” jelasnya. Dari sisi medis, LASER Thulium sangat membantu dan memudahkan kerja dokter serta mempercepat waktu tindakan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.