Gen Pengatur Antibodi | ethicaldigest

Gen Pengatur Antibodi

Selama jutaan tahun, segmen dari DNA kita terus memperbaiki performa genom kita, meningkatkan produksi protein yang kita sangat butuhkan saat itu. Dan kini, temuan baru dari Universitas Rockefeller dan Universitas Michigan Medical School, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa enhancer genom-genom ini dapat mengatur bagaimana tubuh kita membuat antibodi pelawan kuman, molekul-molekul yang membuat virus dan bakteri menjauh.

Penelitian yang muncul di Journal of Experimental Medicine edisi Januari 2010 ini memperlihatkan kemajuan teknologi yang memungkinkan ahli memahami peran enhancer pada sistim kekebalan. “Banyak orang meninggalkan penelitian di bidang ini karena meneliti enhancer antibodi adalah suatu pekerjaan yang sulit,” kata F. Nina Papavasiliou kepala Laboratorium Biologi Limfosit di Rockfeller. 

Enhancer merupakan petak pendek dari DNA yang mengatur gen dari kejauhan. Umumnya, jarak dari gen yang mereka atur ini membuat enhacer sulit untuk dipelajari. Tapi enhacer imunoglobulin secara partikular memiliki masalah tersendiri, karena terdapat twist tambahan. Twist tambahan itu dekat dengan ujung kromosom yang membuatnya sulit diubah.

Daripada mengutak-atik enhancer di tempatnya, Wesley Dunnick, seorang profesor dari University of Michigan Medical School, telah menemukan cara untuk memindahkan seluruh lokus (enhancer bersamaan dengan gen antibody didekatnya yang berisi informasi benda asing)  ke dalam kromosom. bakteri buatan

Penempatan pada kromosom memungkinkan dilakukannya modifikasi lokus dengan relatif mudah. Dengan menggunakan suatu cara yang ditemukan di Rockefeller oleh Peter Model dan Nathaniel Heintz, Dunnick bisa menghapus atau memutasi urutan enhancer. Kemudian ia memasukkan kembali modifikasi kromosom ini ke dalam tikus.

Kromosom buatan ini akan mendarat secara acak ke genom tikus dan masuk ke dalamnya. Dia kemudian mempelajari efek modifikasi enhacer ini pada produksi antibodi. Untuk dapat merespon terhadap antigen asing yang tidak terbatas jumlahnya (beberapa dari mikroba, bahan kimia dan zat-zat lain) yang dapat menyerang tubuh kita, sistem kekebalan tubuh harus dapat menyesuaikan diri dengan dengan membuat antibodi dalam jumlah tidak terbatas. Meski demikian, jumlah DNA dalam sel tidak banyak. Sehingga, antibodi yang memproduksi sel B harus bermutasi dan menata kembali gen antibodinya untuk menghadapi serangan antigen tersebut (menggunakan proses yang disebut somatik hypermutation dan class switch recombination).

 Dalam kerjasama dengan laboratorium Papavasiliou, Dunnick menemukan bahwa tikus yang membawa kromosom buatan dengan gen antibodi berperilaku sama dengan tikus yang tidak dimanipulasi.  Mereka dapat merekombinasi dan memutasikan gen antibody dalam diri mereka untuk menghasilkan antibody dengan daya serang yang snagat tinggi terhadap benda asing.

Tapi untuk itu, mereka benar-benar butuh enhancer. Tanpa enhacer, walau sel mesin dapat menyalin dan menerjemahkan gen antibodi, mereka tidak dapat mengatur ulang atau bermutasi. Hal itu menunjukkan bahwa enhacer berfungsi sebagai dermaga untuk pemuatan molekul inisiatoryang kemudian dibawa ke gen antibodi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.