Faktor Genetic pada Pecandu Rokok | ethicaldigest

Faktor Genetic pada Pecandu Rokok

Penelitian terbaru menghubungkan pengalaman pertama merokok, dan kemungkinan orang tersebut menjadi perokok dengan variasi genetik. Temuan ini menguatkan kecurigaan, berkenaan peran gen reseptor nikotin tertentu pada perilaku yang berhubungan dengan merokok dan kanker paru.

Penelitian lain juga telah menghubungkan variasi pada daerah genetic yang sama, dengan tingkat ketergantungan terhadap nikotin dengan banyaknya rokok yang diisap sehari dan dengan risiko kanker yang tinggi. 

Dalam publikasi secara online pada jurnal Addiction, dilaporkan tentang hubungan antara suatu varian dalam gen reseptor nikotin CHRNA5, pengalaman pertama merokok dan pola merokok. Data genetic dan perilaku merokok, didapatkan dari 435 sukarelawan. Mereka yang tidak merokok, mencoba paling sedikit satu batang rokok tapi tidak lebih dari 100 batang rokok sepanjang hidupnya. Perokok regular merokok setidaknya 5 batang rokok selama setidaknya 5 tahun terakhir.

Perokok regular dalam penelitian ini jauh lebih besar kemungkinannya dibanding  yang tidak pernah merokok, memiliki bentuk rs16969968 dari gen CHRNA5 yang lebih sedikit. Hanya satu pasangan dalam sekuens gen yang berbeda dari bentuk yang paling umum. Variasi genetik ini disebut single nucleotide polymorphism (SNP). 

“Tampaknya, orang yang mengalami pembentukan genetik tertentu, reaksi fisik pertama terhadap rokok memiliki peran signifikan dalam menentukan, apa yang terjadi selanjutnya,” kata pemimpin proyek Ovide Pomerleau,  professor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Michigan dan pendiri U-M Nicotine Research Laboratory, AS.

“Kebiasaan merokok adalah suatu adiksi nikotin yang menetap. Terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa bulan,” ujarnya. “Temuan adanya hubungan genetik dengan pengalaman merokok pertama, dapat membantu menjelaskan bagaimana seseorang menjadi ketagihan. Dan setelah ketagihan, mereka akan terus merokok selama sisa hidup mereka.”

Para peneliti menunjukkan, variasi genetik hanya menjelaskan sebagian dari perilaku merokok pada manusia. Penjelasan yang lebih lengkap mengapa orang merokok dan mengapa mereka tidak bisa berhenti merokok, membutuhkan lebih banyak informasi mengenai bagaimana gen-gen saling berinteraksi dengan pengaruh-pengaruh social dan faktor lingkungan lainnya.

Pomerleau memprediksi, kemampuan menghubungkan pola tingkah laku pada perokok dengan genotype individual membutuhkan informasi ekstensif berkenaan perilaku, gen dan konteks lingkungan. Juga, alat-alat bioinformasi. “Untuk memahami genetika gangguan-gangguan yang kompleks seperti kecanduan nikotin, perlu lebih banyak riset," katanya.

Dari penelitian, tim mencatat bahwa hubungan CHRNA5 tampak kuat dan aplikasi praktis dari riset ini meliputi tes genetik baru untuk risiko merokok dan perkembangan pengobatan, yang menargetkan pada gen-gen risiko merokok.

Laporan ini dikembangkan berdasar temuan-temuan yang dilaporkan tahun lalu oleh Laura Bierut, di mana penelitian whole genom menemukan bahwa single nucleotide polymorphism yang sama, rs16969968 dari gen CHRNA5, dihubungkan dengan tingkat ketergantungan nikotin pada perokok.

Ia juga mencatat, tahun ini, 3 tulisan yang dipublikasikan secara terpisah menunjukkan variasi dalam gen yang sama, dan gen yang berhubungan meningkatkan resiko kanker paru-paru.

Kegemaran awal merokok, kemungkinan kuat akan kecanduan nikotin, dan kemungkinan lebih besar kanker paru-paru. “Genetik yang berlainan ini merupakan triple whammy untuk penyakit yang berhubungan dengan merokok,” kata Pomerleau.

Suatu mekanisme diusulkan oleh salah satu peneliti genetika kanker. Untuk menjelaskan peningkatan resiko penyakit adalah kemungkinan bahan-bahan kimia tertentu, misalnya N-nitrosonornicotine dalam tembakau bekerja pada reseptor nikotin di paru-paru, menyebabkan perubahan-perubahan penyebab kanker - suatu proses yang dikenal sebagai tumorigenesis.  

Temuan baru ini menghubungkan pengalaman pertama merokok, kebiasaan merokok dan variasi genetik, yang dikembangkan berdasar penelitian sebelumnya oleh Ovide Pomerleau dan Cynthia Pomerleau, Ph.D., di Universitas Michigan. Dalam penelitian-penelitian yang dikerjakan selama 10 tahun, mereka mendokumentasikan hubungkan antara perokok yang bergantung pada nikotin dan pengalaman merokok pertama.

Ovide Pomerleau memberi pujian pada penelitian-penelitian dengan binatang sebelumnya oleh Allan Collins dan Jerry Stitzel di Universitas Colorado, yang memberikan bukti dasar dari pemikiran bahwa reaktivitas awal terhadap nikotin, kemungkinan membentuk ketergantungan pada nikotin. Dan bahwa variasi genetic reseptor mendasari proses ini.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.