Epilepsi | ethicaldigest

Epilepsi

Komorbiditas epilepsi pada anak, antara lain adalah perkembangannya yang terlambat, gangguan kognitif, gangguan belajar, ADHD, depresi dan kecemasan.

Perkembangan terlambat

Sebagian besar terjadi pada pasien epilepsi simtomatik yang mengalami gangguan perkembangan otak. Manifestasinya adalah perkembangan motorik anak terlambat. Anak jadi lambat untuk bisa duduk, terlambat bicara atau terlambat berdiri. Keterlambatan ini bisa terjadi sebelum anak terdiagnosis epilepsi atau setelah terdiagnosis. “Sebelumnya anak normal, dan kemudian mengalami epilepsy. Perkemabngan yang tadinya normal menjadi terlambat,” kata dr. Setyo. Faktor penyulit tentunya adalah berat atau ringannya kelainan otak. Penyulit lainnya adalah jenis epilepsi.

Gangguan kognitif

Gangguan kognitif bisa mencakup gangguan intelejensi, atensi, memori, kemampuan belajar, perencanaan, penilaian ekspresi dan pengertian bahasa. Hal ini tentu mempengaruhi akan perilaku pada anak. Seberapa besar pengaruhnya, tergantung dari jenis dan lamanya anak menderita epilepsi. Pada anak-anak dengan gejala epilepsi yang berat, kejadian gangguan kognitifnya akan lebih tinggi.

Sebuah publikasi menyebutkan bahwa pada anak dengan epilepsi yang sulit diobati, 30-40% punya masalah dengan atensi. Dan, masalah ini tentunya berpengaruh pada prestasi akademik anak.

Jenis epilepsi tertentu akan mengalami kesulitan dalam melakukan fungsi otak tertentu. Misalnya, epilepsi lobus frontal akan mempengaruhi kemampuan anak untuk mengambil keputusan. Sementara, pada epilepsi lobus temporal, yang menonjol lebih terganggu adalah kemampuan mengingat.

“Kalau ada anak seperti ini, kita harus merujuk ke psikolog, melihat kesiapan anak sekolah, belajar. Kalau anak punya masalah dengan kemampuan kognitif, harus dicarikan sekolah yang sesuai. Terapi perlu  disesuaikan dengan kondisi anak, apakah okupasi atau remedial,” ucap dr. Setyo.

Tentunya, perilaku kita, orangtua dan masyarakat mempengaruhi perilaku anak dengan epilepsi. Sering, ada anak dengan epilepsi yang diperlakukan lebih rendah dari anak lain. Padahal, mereka banyak yang masih seperti anak normal. Pada epilepsi idiopatik, misalnya, anak masih normal dan harus diperlakukan seperti anak yang lain. Kadang-kadang perilaku guru, orangtua dan lingkungan membuat anak merasa lebih rendah dari anak lainnya.

Gangguan belajar

Gangguan belajar pada anak dengan epilepsy, berbeda dengan disabilitas intelektual. Anak epilepsi sebenarnya IQ-nya normal, tetapi karena ada kemampuan belajar yang tidak sesuai usia, pencapaian akedemisnya tidak sama. Problem belajar ini bisa dalam hal membaca, menulis atau  matematika.  Sebuah publikasi menyebutkan bahwa pada 173 anak eplepsi  berusia 7-15 tahun, 13-32% mengalami masalah membaca, 20-38% mengalami masalah dalam berhitung dan 35-56% memiliki masalah menulis.

Angka penderita ADHD pada penderita epilepsy, lebih tinggi dibandingkan anak yang normal. Sebuah literature menyebutkan, angka kejadian ADHD 44% pada anak epilepsi. Ada beberapa faktor risiko terjadinya ADHD pada anak epilepsi, antara lain jenis epilepsi dan obat epilepsi yang digunakan. Obat fenobarbital saat ini mulai ditinggalkan, karena salah satu efek samping jangka panjangnya adalah hiperaktif dan problem belajar.

“Untuk diagnosis, tentunya harus bisa membedakan, apakah gangguan belajar atau ADHD. ADHD adalah gangguan pemusatan pikiran. Kadang tampilannya sama,” kata dr. Setyo. Kejang harus diatasi dengan baik, dengan obat yang tepat.

“Misalnya kita tahu bahwa Phenobarbital mempengaruhi kemampuan belajar. Tentunya, kita tidak boleh berikan pada anak tersebut,” tambah dr. Setyo. Untuk gangguan belajar perlu konsultasikan ke psikolog. 

Depresi dan kecemasan

Anak denga epilepsi berat yang sering mengalami kejang, tentu akan mengalami depresi berat. Terlebih jika menginjak usia remaja, kejang masih sering terjadi kadang frekuensinya sampai dua kali sebulan, dia harus minum dua atau tiga obat terus menerus. Dan mungkin aktivitasnya sehari-hari menjadi terhambat. Ini diperparah jika dia juga mendapat stigma buruk dari teman, guru dan masyarakat. Adai publikasi yang menyatakan bahwa anak dengan epilepsi lebih banyak mengalami perilaku internal, seperti kecemasan dan depresi, dibandingkan populasi umummnya dibanding perilaku eksternal.

Autisme

Autisme berisiko lebih tinggi menjadi epilepsy dibanding populasi umum, begitu juga sebaliknya. Ini berkaitan dengan gangguan gen, yang hampir sama pada penderita epilepsi dan autis.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.