CPAP pada Bayi Prematur | ethicaldigest

CPAP pada Bayi Prematur

Penanganan RDS pada bayi prematur tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan. Diperlukan terapi alternatif dan suportif untuk meningkatkan harapan hidup bagi bayi-bayi ini, termasuk dengan penggunaan CPAP sebagai penyokong pernapasan.

Seperti dikatakan dr. Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT, dari RS Medistra, Jakarta, CPAP atau continuous positive airway pressure adalah suatu alat penyokong pernapasan, yang dapat menghantarkan udara bertekanan positif secara terus menerus. Alat ini digunakan pada orang dewasa yang mengalami OSA (obstructive sleep apnea) atau mengorok. Namun, juga dapat digunakan sebagai alternatif mau pun sebagai penyokong terapi surfaktan pada bayi prematur.

“Tekanan udara positif yang dihantarkan CPAP akan menjaga alveolus tetap terbuka, dan mencegah terjadinya apnea,” jelasnya. Udara yang dihantarkan memiliki tekanan yang lebih tinggi, dibanding kanul nasal. Karena itu, CPAP cocok digunakan pada bayi-bayi yang bisa bernapas sendiri tanpa bantuan ventilasi mekanik, dan masih memerlukan bantuan napas lebih dari sekedar pemberian melalui kanul nasal.

Pada bayi prematur, CPAP digunakan untuk menghantarkan oksigen berkonsentrasi tinggi, terutama pada mereka yang sulit untuk mempertahankan kadar oksigen yang normal di dalam darah.

Alternatif surfaktan dan intubasi

Bayi prematur seringkali memerlukan ventilasi mekanik berupa intubasi sejak dini. Padahal, studi menunjukkan bahwa penggunaan ventilasi mekanik berhubungan dengan risiko terjadinya penyakit paru kronik dan cedera pada paru. Oleh sebab itu, awalnya banyak ahli yang menghindari penggunaan intubasi dan beralih memanfaatkan tekanan negatif, hanya untuk memberikan surfaktan. Keberhasilan ini mendorong munculnya studi-studi mengenai manfaat CPAP dengan atau tanpa surfaktan, untuk bayi yang lahir pada usia kehamilan < 30 minggu.

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan CPAP pada bayi prematur sebagai pencegahan atau terapi sindrom distres pernapasan, dapat menurunkan insidens terjadinya displasia bronkopulmoner, tanpa pemberian ventilasi mekanik. Namun, hasilnya tidak lebih baik dibandingkan penggunaan surfaktan dan intubasi atau ventilasi mekanik. Meski demikian, bayi yang mendapat terapi CPAP diketahui memiliki angka intubasi dan angka penggunaan kortikosteroid yang lebih rendah.

Berdasarkan hal ini, tidak heran jika kemudian American Academy Pediatric menyimpulkan bahwa CPAP melalui nasal, “Dapat digunakan sebagai alternatif bagi terapi surfaktan.” CPAP juga dapat diberikan sejak dini, selagi surfaktan belum tersedia. Penggunaan CPAP sejak dini pada bayi-bayi ini, dapat menurunkan diperlukannya ventilasi mekanik tanpa meningkatkan komplikasi.

Sifat CPAP yang menarik dibanding terapi tradisional, adalah karena dapat dihantarkan secara noninvasif. Udara dari CPAP dapat dihantarkan melalui selang nasal, selang nasofaringeal, atau dengan menggunakan masker melalui sistem water–bubbling atau ventilator. Pada bubble CPAP (atau B-CPAP), tekanan psitif dihasilkan dengan mencelupkan sistal selang ekspirasi ke dalam kolom air, dengan kedalaman yang diinginkan.

Risiko NEC

Beberapa studi observasional menunjukkan manfaat CPAP. Di sisi lain, kita perlu mengetahui efek buruk dari penggunaan CPAP. Studi mengenai pemberian CPAP nasal sejak dini, mengisyaratkan adanya peningkatan risiko NEC (necrotizing enterocolitis) dibandingkan dengan bayi yang menjalani intubasi sejak lahir dan dilanjutkan dengan ventilasi mekanik. Hal ini perlu diperhatikan, mengingat NEC merupakan penyebab kematian yang cukup signifikan pada bayi-bayi prematur.  NEC juga menyebabkan perawatan yang lebih lama di rumah sakit, berkaitan dengan short bowel syndrome, kegagalan hati, serta keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.

Peningkatan risiko NEC, terjadi akibat penurunan aliran darah arteri mesenterica superior pada bayi yang mendapat CPAP. Artinya, kecepatan aliran darah tidak dapat memenuhi kebutuhan usus yang sedang berkembang pesat setelah lahir.  Akibatnya, usus menjadi lebih rentan mengalami NEC. Selain NEC, bayi yang mendapat CPAP juga lebih berisiko mengalami pneumotoraks, dibanding bayi prematur yang mendapat surfaktan dan intubasi.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.