Bahaya Kombinasi NSAID dan Penghambat SGLT 2 | ethicaldigest

Bahaya Kombinasi NSAID dan Penghambat SGLT 2

Satu penelitian terbaru yang dipublikasikan di Diabetes Care 27 Januari 2017 menyebutkan, penggunaan penghambat sodium–glucose cotransporter 2 (SGLT2) untuk pengobatan diabetes tipe 2 bisa berpotensi menyebabkan hypoxic acute renal injury dalam kondisi dehidrasi dan/atau saat menggunakan nonsteroidal anti-inflammatory agents (NSAIDs), atau pemeriksaan dengan radiokontras.

Kondisi-kondisi tersebut harus dihindari saat menggunakan obat kelas penghambat SGLT2, suatu kelas obat penurun gula darah. Ada dua penghambat SGLT2, canagliflozin (Invokana, Janssen) dan dapagliflozin (Farxiga/Forxiga, AstraZeneca), yang menempelkan label peringatan dari Badan Obat dan Makanan Amerika (FDA) pada kemasannya, mengenai acute kidney injury. Sementara, penghambat SGLT2 lainnya, empagliflozin (Jardiance, Boehringer Ingelheim), dihubungkan dengan renoproteksi jangka panjang dalam EMPA-REG Outcome Study. Canagliflozin secara spesifik diuji pada populasi sakit ginjal diabetes, dalam penelitian acak muticenter Evaluation of the Effects of Canagliflozin on Renal and Cardiovascular Outcomes in Participants With Diabetic Nephropathy (CREDENCE).

Hal ini menimbulkan kebingunan di antara para dokter.

Penanda urin untuk melihat cidera ginjal

Dalam publikasinya, Dr. Samuel N Heyman, dari Hadassah Hebrew University Hospitals, Jerusalem, Israel, dan rekan-rekannya mengatakan, "Ada beberapa penjelasan untuk masalah ini, yang lebih dari sekedar peluang dan bias.” Mereka mengatakan bahwa, “Penurunan awal dari laju endap glomerulus, terkait penurunan transglomerular adalah faktor inheren reversible terhadap perlindungan ginjal jangka panjang. Penghambatan SGLT2 berpotensi menyebabkan gangguan ginjal dalam kondisi-kondisi tertentu.”

Dehidrasi akibat diuresis osmotik dan natriuresis, adalah salah satu kondisi yang disebutkan dalam label peringatan FDA dan bisa mempengaruhi pasien yang sedang menjalani terapi diuretik.

Selain itu, data dari penelitian terhadap hewan dan manusia menunjukkan bahwa diabetes itu sendiri menimbulkan risiko hipoksia parenkim ginjal dan cedera hipoksia. Penelitian penulis sebelumnya menunjukkan bahwa hipoksia dan ekspresi faktor yang diinduksi hipoksia, meningkat pada ginjal pasien diabetes.

Karenanya, Dr. Heyman dan rekan-rekannya mengatakan bahwa pemberian penghambat SGLT2 untuk pengobatan diabetes, bisa memperburuk hipoksia pada sambungan kortikomedular. Hal ini menjadi lebih buruk, jika pasien menggunakan secara bersamaan obat lain yang menyebabkan medullary hypoxic injury, termasuk NSAID atau agen radiokontras.

Biomarker urin yang dapat digunakan untuk mendeteksi cedera tubular, seperti neutrofil gelatinase yang terkait lipocalin atau kidney injury molecule-1, tidak digunakan dalam EMPA-REG. Biomarker ini juga tidak dipelajari secara sistematis, pada kasus-kasus cidera ginjal akut.

"Dari perspektif ini, kami percaya bahwa penelitian menggunakan biomarker urin diperlukan untuk menilai terjadinya hypoxic tubular injury, pada pasien yang menggunakan penghambat SGLT2 dengan fungsi ginjal menurun," kata Heyman dan kawan-kawan dalam publikasi mereka.

Sementara itu, "Perlu diberi penanganan khusus untuk menjaga status hidrasi, untuk mengurangi risiko penurunan volume pada pasien berisiko tinggi dengan diabetes, yang menggunakan penghambat SGLT-2."

Kemungkinan terjadinya acute hypoxic kidney injury yang diinduksi penghambat SGLT-2, harus secara menyeluruh diselidiki dan divalidasi pada manusia.

"Kami anjurkan untuk menghindari penggunaan bersamaan, agen yang dapat menyebabkan iatrogenic hypoxic medullary injury, yaitu menghindari penggunaan NSAID pada pasien menggunakan penghambat SGLT-2 dan penghentian penghambat SGLT-2, sebelum melakukan pemeriksaan dengan radiokontras,” kata Heyman dan kawan-kawan.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.