Pelajari Risiko, Gejala dan Terapi Migren
Migrain

Risiko, Gejala dan Terapi Migren

Migren merupakan suatu nyeri kepala berulang kompleks dan sebagai salah satu gangguan medis yang paling sering ditemukan. World Health Organization (WHO) memperkirakan prevalensi migren di seluruh dunia saat ini sebesar 10%, dan prevalensi seumur hidup sebesar 14%.

Migren lebih sering menyerang wanita, dengan persentase sekitar 75%, atau tiga kali lipat dibanding pria. Prevalensi tertinggi ditemukan di Amerika Utara, diikuti Amerika Selatan dan Amerika Tengah, Eropa, Asia dan Afrika. Migren adalah penyebab disabilitas ke-19 menurut WHO.

Penyebab pasti migren hingga saat ini masih belum terungkap, meski muncul dugaan migren terjadi akibat kombinasi melebarnya pembuluh darah dan pelepasan dopamin dan serotonin, yang menyebabkan inflamasi dan rasa nyeri. Mekanisme terjadinya migren belum diketahui, namun ada beberapa pencetus yang diketahui dapat menyebabkan timbulnya serangan. Tiap penderita memiliki pencetus yang berbeda, di antaranya:

-          Makanan tertentu, misalnya cokelat, keju, jeruk, tomat, kacang-kacangan, alkohol, MSG.

-          Terlambat atau melewatkan satu kali makan

-          Stress dan tekanan fisik mau pun emosional

-          Pil kontrasepsi, umumnya serangan terjadi saat pil tanpa kandungan estrogen dimulai

-          Merokok

-          Trauma kepala

-          Obat-obatan tertentu, misalnya nitrogliserin, histamin, reserpine, hidralazin, ranitidin, estrogen.

Sekitar 70% penderita migren memiliki anggota keluarga dekat yang juga memiliki riwayat migren. Risiko meningkat jika kerabat mengalami migren yang disertai dengan aura. Meski demikian, sampai saat ini belum ditemukan dasar genetik dari migren.

Berkaitan dengan risiko kardiovaskuler

Pada Studi Kesehatan Wanita ditemukan, penderita migren yang disertai aura akan mengalami peningkatan risiko infark miokard sebesar 91% dan stroke iskemik sebesar 108%. Sedangkan migren tanpa aura, akan meningkatkan risiko ini masing-masing sebesar 25%. Risiko gangguan serebrovaskuler pada penderita migren juga akan meningkat, terutama pada wanita dan yang disertai aura.

Gejala Migren

Gejala migren dapat bervariasi dan berbeda pada masing-masing orang, mau pun pada masing-masing serangan. Serangan dapat dibagi menjadi lima fase, sebagai berikut:

 

·         Prodromal: pertanda awal sebelum datangnya serangan. Dapat berupa perubahan mood (misalnya iritabel, depresi) atau perubahan sensasi (misalnya pengecapan atau pembauan yang aneh). Kadang disertai rasa lelah dan otot tegang.

·         Aura: kumpulan gejala neurologis yang mendahului nyeri kepala selama 5-20 menit dan berlangsung tidak lebih dari 1 jam. Dapat berupa gangguan visual, sensorik, motorik, atau kombinasi semuanya. Yang tersering adalah gangguan visual, misalnya titik buta atau skotoma sentral, gambaran geometris atau kilatan cahaya berwarna-warni, tunnel vision, atau hilangnya penglihatan pada satu mata (hemianopsia)

·         Nyeri kepala: meski migren umumnya terjadi pada satu sisi kepala, 30-40% migren terjadi pada kedua sisi kepala berupa nyeri tajam. Lebih dari 80% penderita migren mengalami mual dan muntah; 70% menjadi sensitif terhadap cahaya (fotofobia) dan suara (fonofobia). Fase ini dapat berlangsung 4-72 jam.

·         Terminasi nyeri kepala: nyeri umumnya akan hilang sendiri jika dibawa tidur, meski pasien tidak minum obat.

·         Postdromal: setelah nyeri hilang kadang penderita mengalami gangguan nafsu makan, sulit konsentrasi atau rasa lelah.

 

Untuk mendiagnosis migren, ada beberapa hal yang perlu ditanyakan pada kunjungan pertama, yaitu:

  1. Bagaimana dampak nyeri kepala terhadap kehidupan sehari-hari? (high impact = migren atau chronic daily headache; low impact = acute tension-type headache)
  2. Berapa hari dalam satu bulan pasien mengalami nyeri kepala? (> 15 hari = chronic headache; < 15 hari =  intermitten migraine)
  3. Untuk pasien dengan chronic daily headache, berapa hari dalam seminggu pasien memerlukan obat analgetik? (>2 = analgesic-dependent headache; < 2 = non-analgesic-dependent headache)
  4. Untuk pasien dengan migren, apakah mengalami gejala sensoris reversibel yang berkaitan dengan serangan? (Ya = migren dengan aura; Tidak = migren tanpa aura). Perlu diingat, aura hanya muncul pada 10% serangan migren, dan kebanyakan pasien mengalami serangan migren tanpa aura.

 

Terapi

 

Pengobatan migren yang efektif sejak awal, akan memberikan perbaikan yang bervariasi terhadap lama, beratnya serangan, serta disabilitas yang ditimbulkan. Tujuan pemberian obat adalah melegakan nyeri dan gejala migren lainnya dengan segera, dan memungkinkan penderita kembali melakukan aktivitas normal. Sebelum terapi, pastikan diagnosis migren dan nilai beratnya migren guna pemberian terapi yang tepat.

 

Terapi Akut

 

Terapi pada fase akut derajat ringan sampai sedang, dimulai dengan analgetik berupa aspirin dan NSAID dosis tinggi, atau kombinasi aspirin atau parasetamol dengan antiemetik. Jika tidak berhasil, dapat diberikan obat yang sama sekali lagi atau diberikan obat penyelamat (rescue) berupa triptan secara per oral. Jika migren yang dirasakan termasuk derajat sedang atau berat, dapat langsung diberikan triptan secara per oral.

 

Terapi migren diusahakan sedini mungkin setelah munculnya nyeri kepala, dengan obat-obatan golongan triptan yang diberikan secara per oral. Jika tidak berhasil, dapat diberikan satu dosis obat yang sama, atau triptan berupa nasal spray atau subkutan.

 

Terapi Inisial

Obat-obatan penyelamat (rescue)

Jika mungkin, gunakan sebelum sakit kepala dimulai, termasuk selama fase aura

Terapi analgetik:

Triptan per oral

Aspirin dan NSAID dosis tinggi

 

Parasetamol + domperidon

 

Aspirin atau parasetamol + metoklopramid

 

Isometheptene + parasetamol

 

Digunakan setelah sakit kepala dimulai (setelah fase aura berakhir), jika mungkin saat intensitas nyeri masih ringan

Triptan per oral:

Triptan nasal spray: sumatriptan dan zolmitriptan

Sumatriptan

Sumatriptan subkutan

Naratriptan

 

Zolmitriptan

 

Rizatriptan

 

Almotriptan

 

Eletriptan

 

 

Tujuan pemberian obat-obatan profilaksis adalah untuk mengurangi frekuensi serangan sampai >50%. Obat-obatan ini diberikan kepada pasien yang mengalami serangan migren dengan dampak besar > 4x/ bulan, yang tidak membaik dengan obat-obatan fase akut, yang tidak dapat meminum obat-obatan fase akut, dan penggunaan obat sakit kepala secara berlebihan dan/atau memiliki sakit kepala kronis.

                Obat profillaksis sebaiknya dimulai dengan dosis rendah dan dititrasi untuk mencapai dosis terapi, guna mengurangi efek samping dan dipertahankan pada dosis yang diharapkan selama 8-12 minggu untuk mencapai efikasi maksimal. Obat profilaksis yang digunakan antara lain beta-blocker, antikonvulsan, antidepresan, dan antagonis serotonin. (eva)

Terapi Inisial

Obat-obatan lini kedua

Beta-blocker : propranolol, metoprolol, timolol, nadolol.

Antagonis serotonin: methysergide, cyproheptadine, pizotifen

Beta-blocker dimulai dengan dosis rendah dan dinaikkan sesuai kebutuhan

 

 

 

Antikonvulsan: sodium valproat

Antidepresan: amytriptilin

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.