PEMAKAIAN OBAT  BATUK  PILEK  UNTUK  ANAK DR. Dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA

Pemakaian Obat Batuk Pilek untuk Anak

 

Musim hujan sudah datang, banyak anak yang mengalami batuk, pilek dan demam, yang sering disebut flu atau selesma. Penggunaan obat batuk pilek yang dijual bebas, Over-The-Counter (OTC), meningkat. Apakah obat batuk pilek OTC aman untuk anak?

Setelah penarikan dari pasar oleh produsen obat pada tahun 2007, dan revisi petunjuk pemakaian setahun kemudian di banyak negara bagian Amerika Serikat, kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS terkait dengan efek samping obat ini menurun tajam. Pemberian obat tanpa pengawasan, masih terjadi untuk sebagian besar kasus kunjungan ke UGD, terkait obat batuk pilek OTC pada anak di bawah 3 tahun.

Laporan penelitian Dr. Lee M. Hampton dari Centers for Disease Control, Atlanta, Georgia, AS, yang menganalisis data dari the National Electronic Injury Surveillance System–Cooperative Adverse Drug Event Surveillance tahun 2004 sampai 2011, melibatkan 58 RS umum dan 5 RS khusus anak. Laporan yang menggunakan IK 95% tersebut, dimuat di jurnal Pediatrics yang terbit secara online, 11 November 2013.

 Pada periode waktu tersebut, terjadi 61.168 kasus efek samping obat (Adverse Drug Events atau ADES ) karena penggunaan obat batuk pilek OTC pada anak. Obat OTC berhubungan dengan 93,4% (91,6-95,3%) kasus, dan obat batuk pilek OTC menyumbang 76,6% dari total kasus. Sebagian besar, yaitu 89,7% kasus (84,5-95,0%) pasien, dapat dipulangkan dari UGD dan 16,2% pasien harus dirawat inap untuk dilakukan dekontaminasi lambung oleh dokter.

Pada anak >2 tahun, kunjungan ke UGD karena efek samping obat batuk dan pilek OTC menurun 41%; turun dari 4,1% menjadi 2,4% dari semua kasus efek samping obat, sebelum dan sesudah terjadinya penarikan obat dari pasar dengan perbedaan proporsi -1,7% (−2,7 sampai −0.6%). Selain itu, kunjungan ke UGD karena efek samping obat batuk pilek OTC menurun dari 9,5 % menjadi 6,5 % (−5,4% sampai −0.6%), dari semua kasus efek samping obat pada periode sebelum dan sesudah revisi label petunjuk pemakaian obat (perbedaan proporsi -3.0%) pada anak usia 2 - 3 tahun. Penggunaan obat tanpa pengawasan dokter, masih menyumbang 64,3% (51,1-77,5%) kunjungan pasien ke UGD, karena efek samping obat batuk pilek OTC pada anak >2 tahun setelah penarikan obat dari pasar, dan 88,8% (83,8-93,8%) setelah perubahan label petunjuk pemakaian obat.

                Para peneliti tidak menemukan perubahan yang signifikan pada penggunaan obat batuk pilek OTC untuk anak. Hal itu karena data kunjungan ke UGD RS, tidak mampu membedakan kasus efek terhadap penarikan obat dari pasar, dengan revisi label petunjuk pemakaian obat. Meski secara umum telah terjadi perbaikan dalam mengurangi efek samping obat, kunjungan ke UGD, dan pengawasan penggunaan obat batuk pilek OTC, masih tetap banyak hal yang harus dilakukan. Pemberian obat dengan pengawasan dokter, memiliki potensi besar dalam mengurangi kejadian efek samping obat batuk pilek OTC.

Obat batuk pilek OTC, sebenarnya, sudah tidak boleh digunakan untuk anak >2 tahun. US Food and Drug Administration (FDA) tidak hanya melarang, tetapi juga memperingatkan orangtua dan pengasuh anak. Menurut Dr. Charles Ganley, director of the FDA's Office of Nonprescription Products, obat-obat tersebut hanya mengobati gejala klinis, tidak mengatasi penyakit yang mendasari. Bahkan belum terbukti aman dan efektif, untuk anak >2 tahun.

Obat batuk OTC biasanya berisi pelega hidung atau dekongestan hidung, penekan alergi atau antihistamin, penekan batuk, dan penguat batuk atau ekspektoran. Obat ini terbukti dapat menyebabkan kejadian serius dan berpotensi merugikan dan mengancam nyawa anak. Termasuk penurunan tingkat kesadaran, kejang, detak jantung yang meningkat, bahkan kematian. Data FDA and CDC selama periode 2 tahun, 1.519 anak usia >2 tahun dibawa ke UGD, setelah menggunakan obat batuk pilek OTC. Rekomendasi Nonprescription Drugs and Pediatric Advisory Committees untuk orangtua dan pengasuh yang ingin memberikan obat batuk OTC untuk anak usia 2 - 11 tahun, disarankan  berhati-hati, mengikuti petunjuk pemberian obat, dan meminumkan hanya menggunakan sendok atau cangkir, yang telah disediakan secara khusus untuk obat tersebut.

Sendok rumah tangga biasa tidak boleh digunakan, karena ada berbagai ukuran dan sebenarnya tidak direncanakan untuk pemberian obat. Periksalah bahan aktif obat, terutama jika anak sedang menjalani pengobatan rutin dari dokter untuk penyakit lain. Bahan aktif mungkin bersifat duplikasi, sehingga penggabungan dapat meningkatkan risiko overdosis obat. Pilih obat batuk pilek OTC yang memiliki tutup botol pengaman, dan jauhkan dari jangkauan anak. Yang terakhir, orangtua dan pengasuh diharapkan menyadari bahwa obat batuk pilek OTC tidak mengobati penyebab, juga tidak memperpendek durasi penyakit, tetapi hanya menghilangkan gejala klinis yang muncul. Obat juga tidak boleh diberikan, kalau sekedar untuk membuat anak tenang atau mengantuk.

               

 

 

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.