Kunyit: Perspektif Neuroherbalmedicine | ethicaldigest

Kunyit: Perspektif Neuroherbalmedicine

Indonesia memiliki beraneka-ragam biodiversitas alami. Salah satunya kunyit (Curcuma domestica L., Curcuma longa Linn.). Selain untuk bumbu masak, kunyit digunakan sebagai jamu dari generasi ke generasi. Misalnya, sebagai ramuan tradisional saat terjadi premenstrual sindrom, memperlancar haid, mengatasi nyeri haid, mengatasi lelah, menyegarkan badan, dan memperlancar aliran darah.

Kunyit (turmeric) memiliki beragam kandungan fitokimiawi, misalnya: curcumin, demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin, zingiberene, curcumenol, curcumol, eugenol, tetrahydrocurcumin, triethylcurcumin, turmerin, turmerones, turmeronols, minyak atsiri (dengan komponen: felandrena, sabinnen, sineol, borneol, zingiberen, kurkumen, kamfena, seskuiterpen). 

Curcumin (diferuloylmethane), suatu polifenol, adalah zat aktif pada kunyit. Sifat alaminya hidrofobik (tak larut air), namun larut di dimethylsulfoxide, acetone, ethanol, dan minyak (oils). Penyerapan (absorption) yang dimiliki curcumin maksimal sekitar 420 nm. Saat terpapar kondisi asam, warna curcumin berubah dari kuning menjadi sangat merah. Kondisi inilah yang membuatnya sering digunakan di berbagai upacara keagamaan. Fraksi terpigmentasi yang berwarna kuning pada kunyit mengandung kurkuminoid, yang secara kimiawi terkait erat dengan curcumin.

Curcuminoid utama yang terkandung dalam kunyit, antara lain: demethoxycurcumin (curcumin II), bisdemethoxycurcumin (curcumin III), dan cyclocurcumin. Sebenarnya, sumber curcuminoid bukan hanya dari kunyit (Curcuma longa) saja, melainkan juga didapatkan dari Curcuma aromatica, Curcuma phaeocaulis, Curcuma zedoaria, Curcuma mangga, Curcuma xanthorrhiza, Costus speciosus, Etlingera elatior, dan Zingiber cassumunar.

 

Uji Klinis

Berbagai uji klinis yang sedang dilakukan dengan Curcumin, antara lain: multiple myeloma (kanker sel plasma), penyakit /keganasan sumsum tulang, kanker pankreas, kanker kolorektal, kanker kolon, kanker serviks, anemia, gangguan darah, Alzheimer, psoriasis, fibrosis kistik, kanker rongga mulut, dsb.

 

Mekanisme Antikanker

Secara ilmiah, mekanisme kerja curcumin dalam menghambat tumor dan kanker, dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Curcumin terbukti menekan beragam proses pada tumor, seperti: transformasi, proliferasi, dan metastasis. Beragam efek ini diperantarai melalui regulasi terhadap beragam faktor-faktor transkripsi, faktor-faktor pertumbuhan, sitokin inflamasi, protein kinase, dan berbagai enzim lainnya. Hal ini juga menghambat proliferasi sel-sel kanker dengan menahan mereka dalam beragam fase siklus sel, dan dengan cara menginduksi apoptosis (proses bunuh diri sel).

Curcumin juga berkemampuan menghambat bioaktivasi karsinogen melalui penekanan isozim P450 sitokrom spesifik, dan menginduksi aktivitas atau ekspresi enzim-enzim pendetoksifikasi karsinogen fase II. Riset terbaru membuktikan bahwa curcumin beraksi melalui pengendalian jalur NFkappaB mendesak sebagian besar efek-efek modulasi dan pelunakan pada sel-sel ganas (malignant cells). Semua ini adalah mekanisme kerja curcumin di dalam menaklukkan tumor dan kanker.

Sebenarnya selain sebagai antikanker dan antitumor, kunyit bermanfaat sebagai antipenyakit. Gambar skematis dan tabel di bawah ini membuktikan hal itu.

 

Gambar Skematis Kunyit sebagai Antipenyakit

Sumber: Aggarwal, dkk (2007)

Dosis

Seperti halnya terapi medis, kunyit memiliki dosis efektif. Berikut ini dosis terapeutik kunyit yang telah teruji melalui riset dan terbukti secara ilmiah.

Curcumin memiliki efek yang relatif aman bagi tubuh manusia. Meski demikian, tetap harus waspada mengingat beberapa ilmuwan melaporkan kejadian urtikaria (biduran) dan dermatitis kontak alergi (radang kulit) pada manusia yang disebabkan oleh curcumin.

Dirangkum dari tulisan dr. Dito Anurogo* berjudul Kunyit: Perspektif Neuroherbalmedicine

*Dokter pemerhati herbal-tanaman berkhasiat obat, berkarya di Indonesian Young Health Professionals' Society (IYHPS) dan KLINIKITA Semarang.

 

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.